Mari Terpuruk...

on Senin, 25 Januari 2016
Selamat siang dari Indonesiaa

Sudah waktunya bangkit dari keterpurukan hanya karena merasa banyak sekali yang terbatas. Mari mulai membicarakan tentang mimpi dan menitipkannya pada pemilik takdir kembali. Seperti yang mentor saya katakan “Allah mempertemukan kita karena suatu alasan”. Dan alasanNya mempertemukan dengan orang baik itu adalah untuk menyusun semuanya sekali lagi; sekali lagi bermimpi, sekali lagi berdoa sangat khusyu’, sekali lagi berusaha sangat keras. Ya, sekali lagi.

Saya meyakini, bahwa suatu hari kelak, entah ketika semuanya menyata atau diganti yang lebih baik menurut versiNya, tulisan ini akan membuat saya berlinang air mata.

Mengenai mimpi itu. Sejak berputih abu-abu saya sudah memimpikan untuk melanjutkan studi di luar negeri. Namun karena mendapat penghinaan yang sangat besar dari orang yang paling saya harapkan bisa mendukung saya, semua mimpi itu saya buang jauh-jauh. Akhirnya, saya melanjutan S1 saya di UNS Solo jurusan Pendidikan Akuntansi. 

Sebenarnya, jurusan itu juga bukan pilihan pertama saya. Awalnya saya tidak ingin mengambilnya walaupun sudah diterima. Namun karena bingung juga mau ngapain kalau nganggur setahun, akhirnya saya putuskan untuk tetap mengambil kesempatan itu sambil mempersiapkan diri untuk SNMPTN tahun depan.
Tetapi Allah mengatakan lain. Justru dijurusan itu saya merasa nyaman. Saya bertemu dengan orang-orang baik yang mengajarkan saya untuk hidup bersama dengan harmonis; sesuatu yang tidak saya dapat ketika masih SMA.

Tahun lalu, tepatnya 25 September, saya dinyatakan lulus dan diwisuda pada tanggal 5 Desember. Sekarang, ketika tulisan ini dibuat, saya sedang berstatus sebagai the first galauest people in the world. Kenapa? Karena mimpi saya untuk studi diluar negeri itu muncul kembali.

Bukan karena teman-teman SMA ada yang sudah melanjutkan studi ke luar negeri. Mereka anak-anak orang berada, kemanapun inginnya pasti ada jalan; karena uang akan membawa kemanapun mereka ingin, bukan? Tapi tetap saja, setiap orang yang dapat beasiswa untuk studi ke luar negeri, entah ia berada atau papa, usaha keras perlu dilakukan agar mimpi itu kesampaian. Begitulah cara saya memotivasi diri. Yang harus saya tiru dari teman-teman yang sudah berangkat duluan ke luar negeri adalah kerja keras mereka. Bedanya, saya akan mengusahakan dengan meminimalisir mengeluaran uang. Hehehe.

Namun, justru karena mimpi itu muncul setelah saya dinyatakan lulus, membuat saya sangat mederita. Kenapa? Karena dilain sisi saya ingin bekerja; suatu pekerjaan yang dapat menghasilkan banyak uang dengan stabil (baca pegawai perusahaan). Beberapa hari lalu, saya memasukkan lamaran ke lima perusahaan besar di kota solo raya. Anehnya, saya tidak tahu harus berdoa agar diterima atau tidak. Itulah dilemanya.
Disatu sisi, saya adalah anak pertama yang -meskipun orang tua saya tidak meminta- harus membantu orang tua mencari uang. Dan disisi lain, saya ingin fokus mendedikasikan diri sebagai scholarship hunter dengan meningkatkan kualitas diri dan pengalaman mengajar dibidang yang saya geluti (akuntansi). Tapi, jika saya mengajar, uang yang saya peroleh tidak akan seberapanya gaji diperusahaan. Dan, mencari sekolah yang membutuhkan guru Wiyata Bakti jaman sekarang juga susah. Finally, saya hanya berdiam diri tidak tahu harus melakukan apa-apa a.k.a terpuruk.

Saat sedang terpuruk, saya terus memikirkan banyak hal. Saya bertanya mengapa Allah melakukan “ini” pada saya. Disaat teman-teman saya sudah dapat panggilan tes dari perusahaan yang dilamar, atau sudah menjadi guru Wijaya Bakti di suatu sekolah, saya bertanya pada Allah apa yang sedang Ia rencanakan untuk saya. Saya mulai tidak berani untuk bermimpi, dan mimpi terbesar saya adalah SAYA INGIN UNTUK TIDAK BERMIMPI. 

Ah, iya.. Manusia memang tempatnya suka yang instan-instan. Jika saya bekerja di suatu perusahaan, memang benar saya akan mendapatkan gaji yang lumayan besar. Tapi, perlu digaris bawahi juga, bahwa pekerja di perusahaan akan membuyarkan fokus saya untuk mengusahakan studi di luar negeri dan membatasi diri saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang akan saya butuhkan untuk mengisi CV. Terlebih, berkerja di perusahaan tidak sesuai dengan jurusan yang ingin saya ambil untuk S2 saya nanti. Dan, betapa adilnya Ia, sebenarnya.

Sejak pertengahan Oktober, saya mulai mengajar sebagai guru sukarelawan berbayar di salah satu SD di dekat rumah saya. Apa mata pelajaran yang saya ampu? Bahasa Inggris, saudara-saudara. Sementara, selama empat tahun lebih dua bulan saya belajar tentang Akuntansi. Oh my..
Saat itu, keinginan studi di luar negeri belum muncul. Dan yang saya pikirkan hanyalah mengisi waktu ditengah status saya sebagai “Penunggu Wisuda”. Rencana nya, setelah dapat ijazah saya akan segera bergrilya apply dibanyak perusahaan.

Tidak disayangka, sekitar awal November saya dapat info dari seorang teman bahwa ada pendaftaran sekolah toefl gratis. Mendaftarlah saya ke sekolah toefl itu pada hari terakhir pendaftaran siswa baru. Dan, berkat kalimat sang mentor, beliau yang terhormat Budi Waluyo, S.Pd., MA, mimpi saya studi di luar negeri muncul kembali. Setiap malam, saya membaca ebook beliau tentang cara mendapat beasiswa ke luar negeri, dan setiap saya membaca, pasti ada air mata yang keluar.

Sampai tanggal wisuda, saya masih baik-baik saja. Semangat dan cita-cita untuk bergrilya memperoleh pekerjaan yang memberikan gaji tinggi dan stabil serta merencanakan studi di luar negeri masih membara. Namun, beberapa minggu setelah tanggal wisuda, saya merasa harus give up untuk studi ke luar negeri. Yang harus saya lakukan hanyalah berusaha mendapat pekerjaan bergaji tinggi; lupakan studi ke luar negeri; dan jangan baca ebook Budi Waluyo lagi.

Namun sayang, justru saat saya mengejar pekerjaan, yang saya rasakan hanyalah tepuruk yang makin dalam. Seperti yang saya tulis di atas, teman-teman saya sudah menerima panggilan tes di beberapa perusahaan, atau sudah berkerja sebagai guru Wiyata Bakti di sebuah sekolah. Tapi, ada apa dengan saya? Sementara CV saya lebih berisi dari pada CV mereka. Saya berpikir bahwa itu adalah hukuman Allah untuk saya karena saya orang yang tidak beruntung, apalagi ditambah dengan kejadian hilangnya sesuatu yang sangat berarti dalam hidup saya. Saya semakin terpuruk dan tidak bisa melakukan apapun.
Kalian tahu apa yang membawa saya kembali? Yang membawa saya kembali adalah seorang anak kecil yang menulis surat pada Tuhan, seorang anak kecil disuatu sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Saya kembali, dan saya menulis. Tulisan ini.

Anak itu berkata bahwa, Tuhan akan memberikan apa yang diminta hambaNya, dan ia menyerahkan segala sesuatu atas apa yang ia inginkan pada Tuhan. Tuhan pasti akan mengaturnya.
Saya menangis, dan keesokan harinya saya mulai berdoa. Namun anehnya, saya merasa belum sepenuhnya lagi percaya dan berkata dalam doa saya “Ah, Allah, terserah Engkau sajalah mau bagaimana”. Pukul 9 pagi tadi, entah mengapa saya mulai melanjutkan membaca ebook Budi Waluyo, membaca CV beliau, dan lain-lain. Yang menarik, dalam CV Budi Waluyo, antara tahun kelulusan S1 beliau dengan mulainya beliau studi di luar negeri, berjarak dua tahun. Dan selama dua tahun itu, yang dilakukan beliau adalah menjadi tentor di salah satu bimbingan belajar.

Hanya seorang tentor disebuah bimbingan belajar, sementara teman-teman beliau yang lain sudah mendapat pekerjaan yang keren dan bergaji tinggi. Saya berpikir, untung saja selama dua tahun itu, atau setidaknya selama setahun, beliau tidak putus harapan. Seandainya beliau putus harapan, namanya tidak akan bersinar seterang sekarang. Jika berkata tentang keterbatasan, beliau menegaskan bahwa, keluarganya bukan konglomerat, bukan termasuk manusia jenius, dan banyak kendala lainnya. Namun semangat, tekun, dan kerja keras beliau lah yang membawa beliau berada ditempat berpijaknya sekarang.

Lalu, saya mengatakan pada diri saya sendiri, saat merasa sangat sengasara, ulas apa yang orang sukses perbuat pada hidup mereka, apakah mereka tidak pernah sengsara, tidak pernah merasa terpuruk? Pasti pernah. Hanya saja, beda antara seorang yang terpuruk satu dengan lainnya adalah usaha untuk bangkit, usaha untuk meyakinkah diri agar kembali bermimpi, dan menitipkan mimpinya pada pemilik takdir. Dan yang terpenting, meyakinkan diri bahwa hasil akan sebanding dengan proses, lakukan saja dengan baik, seandainya apa yang kamu ingin tidak menyata, ia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Seperti waktu saya mengerjakan skripsi.

Saya ingin bisa wisuda di bulan Juni 2015. Sayangnya, sampai akhir Januari atau awal Februari 2015, saat kebanyakan teman saya sudah mendapat pembimbing, bahkan sudah ada yang selesai skripsinya; saya masih kebingungan menentukan tema. Ditambah lagi, tetangga-tetangga saya yang masuk kuliah di tahun yang sama dengan saya (meskipun mereka tidak kuliah di kampus setingkat UNS) sudah pada lulus. Saya hidup di desa dan ibu saya memiliki toko yang cukup ramai dan saya sering membantu di toko itu. Berkali-kali para tetangga yang berbelanja ke toko kami, menanya pada saya apakah sudah lulus atau belum. Ah, waktu itu rasanya what the... Karena, mana ada yang mengalahkan obrolan ibu-ibu desa di dunia ini? Saat itu saya juga merasa dan menanya padaNya, apa yang Ia lakukan terhadap saya. Saya malu, dan menceritakan hal ini pada dosen pembimbing saya, Dr. Susilaningsih, M.Bus. Beliau menasihati bahwa mendengar omongan orang tidak akan pernah ada habisnya. Saya disarankan untuk fokus saja pada apa yang saya kerjakan tanpa memikirkan hasil. Dan, saya melakukan apa yang beliau katakan.

Setelah berhasil menyelesaikan skripsi dan dinyatakan  lulus, saya kepo skripsi yang disusun oleh teman-teman yang duluan lulus. Ternyata, memang benar apa yang dosen saya katakan “Kamu mengerjakan sesuatu yang luar biasa, Nia”.

Ya, terima kasih Allah. Menempatkanku sebagai mahasiswa Pendidikan Akuntansi FKIP UNS. Seandainya aku melanjutkan studi di luar negeri, aku tidak akan bertemu dengan nama-nama yang akan selalu ku nomor satukan diatas nama-nama lain. Bely AJK, Dani S, Dina K, Muftihah Riza F, Nunung AP, Rasyid GR, Riang NS, dan seorang yang; jika boleh manusia menyembah manusia lain, maka  akan ku sembah; Dr. Susilaningsih, M.Bus. Dan, seseorang yang hanya kuketahui namanya, mentor hidup saya; Budi Waluyo, S.Pd., MA.

Dan lagi-lagi terima kasih Allah. Menempatkanku sebagai guru bahasa inggris sukarelawan berbayar di salah satu SD, itu sangat membantu mengingat kembali dasar bahasa inggris. Dan menjadikanku sebagai siswa di Sekolah Toefl Budi Waluyo. Terima kasih memberikan kesempatan belajar bahasa inggris gratis dari dasar. Terima kasih Allah, memberiku sekali lagi kesempatan bermimpi studi di luar negeri. Terima kasih Allah, tidak mengijinkanku bekerja di salah perusahan yang kulamar agar aku fokus pada mimpiku. Terima kasih. Mengapa aku begitu lamban menyadari rencanaMu yang sempurna ini. Terima kasih Allah.

Dan, terima kasih Allah. Telah mengambilnya dari hidupku dan membuatku seterpuruk ini. Jika aku tidak seterpuruk ini, tulisan ini tidak akan pernah kuketik.

NB, saya menulis ini sebagai motivasi untuk orang-orang yang merasakan keterpurukan dalam hidup mereka. Semoga memberi manfaat. Mari saling menguatkan.

witen by @niahaji

mom...

on Senin, 23 November 2015
Ibu, semoga dirimu dalam keadaan sehat dan dirahmati.
Malam ini aku kepo facebook guru toelku, ibu, dan menemukan inspirasi bermakna dari sana.
Ia mengumpakan sukses adalah perjalanan. Yang berjalan duluan belum tentu sampai tujuan lebih awal dan dengan selamat. Jangan pernah hiraukan mereka yang jalan duluan. Siapkan saja segala sesuatunya yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan selama menempuh perjalanan. Karena hasil tidak selalu mengikuti logika manusia, tetapi ada keajaiban bagi siapa yang berproses paling baik.
Dan karena dalam sebuah perjalanan kita tidak bisa pergi ke banyak tempat dalam satu waktu, perlu disiapkan tujuan, rute, dan hal apa yang akan dilakukan disana, persiapan apa yang harus dibawa, dan lain sebagainya. Itu artinya kita tidak boleh serakah. Tetapkan tujuan dan melangkahlah dengan benar dan baik. 
Ibu, apakah setiap orang yang berkesempatan merasakan sekolah di luar negeri sepertimu? Jika menjadi sepertimu harus dilalui dengan studi luar negeri dan menjadi diri yang seperti itu, aku akan mengusahakannya. Untuk menjadi dirimu yang selalu menjadi mimpiku, masa depanku.
Karena guru toeflku bilang, "mimpi itu bayar, bayarnya dengan usaha, ketekunan, dan semangat pantang menyerah", aku akan membayarnya dengan lunas. Untuk menjadi dirimu yang selalu menjadi mimpiku, masa depanku.
Hiduplah dengan sehat dan panjang umur, karena aku tidak tahu akan bagaimana diriku jika aku tidak lagi dapat mengajakmu berbincang mengenai rasaku di tengah sibukmu ...
I love you, mom, my beloved mom.


witen by @niahaji
you are your self, not the other.. believe on yours, stay at your place, and keep moving on to balane your live..  written by @niahaji
on Rabu, 30 September 2015
sudah lama tidak menulis karena aku lupa sakitnya hati yang kecewa
witen by @niahaji

Telapak



Suatu senin yang suram dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Untukku sang pendendam, memaafkan merupakan kejadian tabu dan dramatis. Namun kali ini, kurasa aku harus memaafkan meski tidak lagi mengharapkan kelanggengan hubungan.

Rumit, sekelumit kisah yang mirip benang kusut. Mau dipotong, sayang. Mau dibenarkan, susah. Dan kisah ini, berawal dari egoisnya hatiku, barangkali, namun aku enggan mengakui. Berusaha memandang yang benar-benar benar, dan gagal. 

Bertanya mengapa toh tak akan menemu jawabnya. Berdialog dengan hati toh akhirnya menyayat perih pada luka. Berdiskusi dengan logika dan bertemu jawabnya namun akan meninggalkan dendam yang dalam.
Wahai telapak, lukamu seperih luka hatiku. Adakah kau tahu keputusan macam apa yang harus aku ambil? Meninggalkan orang yang melukaimu dan hatiku, atau memaafkan dengan menelan pahitnya amarah. Telapak, sakit, bukan? Ya, hatiku pun sesakit engkau.

Andai hari itu aku tidak meminta tolong dirinya, kejadian ini tak akan menimpa kita, telapak. Sayangnya andai tidak mampu mengalahkan fakta bukan, telapak? Dan, rupiah untuk memulihkanmu tidak akan pernah sebanding dengan foto itu. Aku menyesal, telapakku. Aku sungguh ingin menyudahi namun rasaku, rasa hatiku. Ah, seharusnya aku bukan wanita, seharusnya biarkan logika yang menuntut jalan karena ia semata yang dapat menjelaskan banyak tanya.
witen by @niahaji

skripsi-part 1

on Rabu, 13 Mei 2015

Oh, hidup. Harusnya detik ini sedang utakutik skripsi Tapi mendadak aku merasa begitu frustasi.
Sebenarnya, skripsi tidak seseram yang selama ini orang bicarakan kok. Bagiku, skripsi itu pemacu ; biar otak kita yang lama tertidur mampu berpikir lebih; membaca lebih, belajar lebih, dan puncak tertingginya adalah menuliskan pengetahuan yang kita punya.
Versi kemenyebalkan skripsi adalah teori yang ini sama itu berbeda. Nggak konsistem. Bahkan kadang dosen pun nggak konsisten juga. Kadang pakai teori ini, kadang teori itu. Bikin bingung kan ya, kalau mahasiswanya macam aku yang nggak pernah puas kalau belum tahu sampai ke akar.
Hal menyebalkan lainnya, versiku, adalah antre dosen pembimbing. Bayangkan aja, dari mulai judul sampai proposal jadi, butuh waktu dua minggu. Habis proposal jadi, kirim ke email dosen. Dua minggu kemudian, beliau baru kirim balik revisi proposalnya. Kalau yang bagian ini, aku nggak nyalahkan beliau sih, maklum beliau orang nomor satu se universitas kami kalau masalah penelitian-penelitian begini, jadi proyek-proyek penelitiaanya banyak. Dan prinsip beliau adalah kerja totalitas. Prinsip itu diterapkan juga dalam membimbing mahasiswa. Beliau nggak mau kalau baca proposal skripsis mahasiswa cuman kayak mbuka lembaran kertas aja. Huruf demi huruf dibaca ndee. Oke nggak to itu? Hmm...
Dulu waktu aku mau ngajuin judul, pertimbanganku berbelit dan masih ditanya yang sama “mau buat skripsi yang seperti apa”. Dan tanya itu nggak nemu-nemu sama jawabannya sampai lamaaa banget. Yang pada akhirnya suatu hari aku berani mengajukan mini proposal yang pantasnya diajukan oleh calon DOKTOR. Oh my... kadang kalau diinget akupun malu. Siapa aku?
Tapi semenjak hari itu, I’m motivated. Pembimbing akademikku megatakan, “good job, mbak nia. Kalau bisa realisasi bagus ini. Kebermanfaatannya luar biasa”.
Dan acclah mini proposal itu. Dengan dosen –dosen pembimbing yang bagiku luar biasa hebat. Nah, pas maju di dosen pembimbing, waawawaaaa, malah disuruh ganti judul karena judul itu too high for my capability. Sebenernya saat itu lega juga sih. Tapi pusing saat nyari judul lain; topik yang tentunya bukan cuman membandingkan pbl dan dl, mengetahui pengaruh x thd y. Mana mau dosenku yang satu ini nggarap skripsi macam begini. Salah satu temanku, yang judul skripsinya biasa aja dan dibimbing dosen ini, beliau bilang kalau skripsi temenku itu gak berkesan. Pdhal menurutku jauh lebih bagus skripsi temanku itu daripada punya yang lain. Yah, bisa dibayangin deh ya, beliau sesuperpower apa.  Aku banget lah di masa depan. Amin, ya Rabb.
Akhirnya judul baru ditemukan. Jangan dibayangin ya kalau si baru ini kualitasnya jauh di bawah si lama. Ini judul juga belum pernah ada sebelumnya. Aku nggak tau sih ya, kalau dibelahan dunia berantah sana sebenernya udah pernah dilakukan penelitian begini cuman aja belum di publish, tapi di belahan sebelas maret belum pernah ada yang macam ini. Dan AKU ORANG PERTAMA DI DUNIA SEBELAS MARET YANG PUNYA PENELITIAN BEGINI. Mulanya gamang juga sih, tapi dosenku bilang, “kalau nggak mau judul itu ya cari pembimbing lain. Saya nggak mau judul ecek-ecek. Nggak level.”
Mau nggak mau, oke ambil. Dan dalam ke otw an pembuatan, innalillahi. Oh mg, ya itu tadi, satu proses dari buat kirim revisi itu satu bulan. Mana si x dan y kadang punya teori yang beda lagi. Terus aku? Maaf ya bingung, aku macam orang yang susah puas sebelum suatu hal terpecahkan dengan benar; masuk logika dan enak dirasa. Jadi kalau nggak puas baca satu buku, aku selalu nguber buku lain yang setema.
Dan karena aku yang pertama, cinta,, akhirnya tidak banyak kecurangan yang bisa kulakukan untuk skripsiku, hahahhahaha. Iya kan, nggak usah munafik deh. Kamukamu pun pasti sukanya comotcomot dari internet maupun skripsi yang sebelumnya udah disusun. Ngaku aja nggak usah malu! Tapi maaf ya, karena skripsi begituan belum ada, aku nggak bisa berlaku seperti kalian. Putar otak utak atik sendiri. Baca buku, ambil intisari, baru tuliskan pakai bahasa sendiri; kecuali kutipan langsung.
dan, karena aku ambil penelitian dan pengembangan, proses  mengembangkan ini nih yang bikin tobat. Pengen ganti judul aja rasanya kalai mikir harus macam mana produk pengembanganku.
Ah, hidup memang pilihan. Dimuka sudah kutetapkan mau ambil skripsi yang berkualitas dengan dibimbing dosen berkualifikasi tinggi. Kalau akhirnya kesampaian ya nggak usah dibikin pusing karena nggak selesai-selesai. Tahu nggak, wika butuh manusia-manusia yang skripsinya orisinil dan high quality.
Dan satu lagi, buat apa sih lulus cepet? Biar dibilang keren gitu? Iya kalik. Fkip mah sekarang padet. Apalagi pendidikan akuntansi yang diklaim punya sks terbanyak se fkip. Saat orang-orang di luar prodi kami sudah mulai nyusun skripsi, kami,, full satu semester masih dalam pengabdian pada negeri. Dimulai dari kkn, ppl, dan yang terakhir magang. Memang beberapa dari kami saat ppl sudah lekas ajukan judul. Beberapa tok sih, yang sekolah ppl dan guru pamongnya tanggung jawab tinggi. Dulu, crita dikit tentang ppl. Aku itu sampai bingung mau ngerjain yang mana dulu saking semua tugas guru pamongku diserahkan ke aku. Padahal aku masih ada tangguangan kuliah juga. Dan karena anak rumahan, masih ada tangguan pekerjaan rumah juga. Dan, kesempatan nyusun skripsi pas ppl, GAGAL. Emang sih, pas akhir pekan aku sempet nyusun mini proposal. Tp nggak ada waktu buat ngajuin ke dosen. Belum lagi, aku masih mikir ribuan kali, bener nggak nih aku buat skripsi ini. Februari aku baru mulai maju judul dan sampai detik ini baru nyampai instrumen.  Kalau aku dibimbing dosen lain nih ya, kemungkinannnya :
1.      Aku udah selesai penelitian
2.      Skripsiku gak sebagus yang lagi tak buat sekarang, yang maha sempurna
3.      Kalau begitu, wika ku gimana?
So, i believe that wika is near from me. In front of my eyes. Because my research and development today, pick me up to wika J
Lakon menang keri, kan, jare.
Dan dosenku pun kalau tak sambati bab wisuda, baliau selalu bilang, “apa bagusnya lulus cepet skripsi awut-awutan? Kerja itu totalitas gitu hlo.” Oke, tak bawa sampai mati bu. TOTALITAS.

 writen by @niahaji