Hikmah DITOLAK

on Selasa, 29 Januari 2013


 


Rasa-rasanya aku ingin menangis disini atau berteriak kencang-kencang sampai kerumunan itu menoleh ke arahku. Namun semua tertahan oleh entah apa. Mungkin lebih suka ku sebut “semangat”.
Ya, aku pasti bisa. Pasti diijinkan, sudah garisnya kulewati ini dengan siap siaga.
Ah, iya. Betapa air mata mulai enggan bersembunyi dibalik keangkuhannya. Sesekali aku ingin, atau seringkali - mungkin- menyerah saja dan kembali. Begitu banyak, berapa besar, tanggungan yang diamanahkan. Bahkan aku sendiri tidak menyadari, atau sekedar lupa menanyai diri sendiri “sekuat apa kakiku mampu menahan?”.
Setidak kuat apa aku bertahan, toh nyawa masih setia membersamai raga sampai detik ini. Cukup itu yang meyakinkanku bahwa gugurnya dedaun sore ini akan diganti seminya musim esok pagi. Musim semi yang indah. Mekarnya bebunga, sengatan sinar sang surya, menghijaunya alam, adalah suatu harmini yang sinkronasi nadanya menyentuh nurani.



--when I can do NOTHING.. just waiting for!--
It will come to you soon.
Please, smile too sweet, honey :)

UPT MKU, 10 januari 2013 at 09:31 am

Bukan ujungnya

Bukan ujungnya

What should you do, when your life is destroyed? :’(

Bahkan kau tidak tahu rasa apa yang pantas kau tampakkan. Saat semua orang sibuk dengan dunia mereka. Menulikan telinga atas jerit kerasmu, membuang muka dari tatapmu.
Saat semua orang mengetahui kurangmu, lemah tidak berdayamu. Sementara mereka enggan bergurau denganmu. Sedangkan kau tahu, busuk mereka lebih tajam baunya. Namun kau pura-pura tidak menciumnya. Diam saja  tanpa merasa keadilan memiliki geseh yang cukup meranakanmu. Kau acuh, jua menulikan telinga dari ejek mereka.

Bahkan kau tidak sanggup menatap dalam matamu, di depan cermin. Tidak ada tangis, cukup lewati saja. Setiap roda selalu berputar pada porosnya. Ini hanya mengenai siklus kehidupan. Jangan pernah ada tangis! Ini tidak akan berlangsung lama, percayalah. Hanya, tutup mulut dan pura-pura tidak tahu saja. Iya, lewatilah tanpa air mata. Kau adalah gadis manis yang kuat dan nantinya benar-benar tidak mungkin bisa merasakan apa-apa. Benci, sakit, keseedihan, bahagia, senyuman. Semua hanya sementara. Kepastiannya, lewati saja tanpa air mata. Tetap tutup mulut dan berpura-pura...

My room, 27 november 2012 at 18:44

resapi :))



Jika tidak menyibukkan diri dengan hal positif, maka bersiaplah disibukkan oleh hal negatif. Demikian sunatullah ditetapkan. Setiap insan yang berakal menyadari dengan kelapangan.

My room, kamis 1 november 2012 at 02:32 pm

The Desert


 
Betapa kesulitan dan kemudahan itu sejatinya berjalan beriringan. Ibunda Hajar yang tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan tangis Ismail kecil memutuskan untuk berlari dari safa ke marwa tujuh kali lalu lalangnya. Berharap ada  khafilah melintas di gurun serupa dengannya.
Namun sungguh, tawakal itu mendatangkan kemudahan yang tak terpikir akal. Tersemburlah mata air dari dalam tanah yang manfaatnya dirasajan bukan hanya Hanjar dan Ismail, melainkan umat sedua. Buah dari ketakwaan pada Ia Sang Pemudah J

My room, Mingggu 28 oktober 2012 at 01:37 pm

kau yang pertama

on Minggu, 27 Januari 2013

Aku mencintaimu dengan pelafalan segala macam bahasa di dunia.

Sendat langkahku justru menggiringmu pada semangat kehidupan yang lebih baik.
Mengapa tidak dari dulu aku menceritakan semuanya padamu, agar semangat itu menggelora liar sejak dulu.
Sudahlah, terima saja. Begitu bukan?

Pengakuanmu tempo hari..
Masih mengiang di telinga. Sekali lagi mengirimkan impuls ke syaraf, mencoba menafsirkan dalam sadar.
Jiwaku seakan lepas dari raga, bersenyawa dengan debu, butiran pasir, dan hembusan angin, serta kadar oksigen.
Sungguh?
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Setahuku aku begitu bahagia sampai lupa sehebat apa rasanya menjadi nomor satu yang kukira tidak mungkin tergayuh.
Ya, akulah sejatinya yang pertama, layaknya engkau betapa dinomorsatukan oleh segenap diriku.

Terkadang aku gamang, atau mungkin menyesal.
Seandainya dapat menajangkau hidupmu di masa lalu, segenap daya akan ku upayakan untuk menjadikan diriku yang pertama memilikimu.
Namun aku tersadar, mengingat masa itu sama dengan menyakiti kita yang sedang mencoba membangun rumah masa depan.
Aku bertahan, mensugesti diri bahwa akulah yang pertama memiliki raga dan cinta tulusmu.

Pengakuanmu subuh itu..
Waktu dimana malaikat mengepakkan sayap meninggalkan bumi, melesat menuju tempat ia berjaga. Meninggalkan bumi dengan senyum terkembang sekaligus syahdu mendengarkan pengakuanmu yang satu kalimat itu.
“kaulah yang pertama untukku”
Entah harus kunarasi apa.
Ternyata kita sama.. malaikat pun turut menjadi saksi pengakuanmu yang sederhana.
Semoga aminnya juga merdu melanglang buana saat kita bersenandung mengikrarkan akad pernikahan ):

Betapa nomor satu begitu berharganya.
Tetap cintai aku layaknya hari-hari lalu.
Bersama kita berdiri, bergandeng tangan menakhlukkan masa depan.
Di saat tidak ada tempat untuk singgah, akulah rumah yang masih bersedia menunggumu pulang ):

 writen in my room, 6th januari 2013 at 09.24pm