Tampilkan postingan dengan label thedeepestinside. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thedeepestinside. Tampilkan semua postingan

Akankah kita?

on Jumat, 04 Juli 2014
Aku?
Tangis?
Hati?
Ego?

Aku menangis kala hati dinaungi ego untuk ditinggikan.

Kapan hidup berakhir? Aku, tidak begitu mengharap akhiran. Hanya, penat memikirkan keadaan. Kala, warna apa yang kau lihat dari rubik, berbeda dengan yang ku lihat, dan kita memperdebatkan tanpa usai dengan tak satu pun dari kita mau bertukar posisi.

Hanya mengenai sisiku biru dan yang kau lihat abu-abu. Sederhana, namun sekali lagi hati dinaungi ego untuk ditinggikan. Dan aku enggan memandang dari sisimu, begitu pula dirimu.

Mungkin kita dapat duduk bersama, seandainya tak satu pun dari kita lapang untuk hengkang dari posisi semula, setidaknya berusaha memutar-mutar rubik itu, agar aku dapat memandang warna yang kau pandang. Begitu pun kamu.
Akankah kita?
witen by @niahaji

Sekedar pintar

on Rabu, 08 Januari 2014


"Kamarnya tidak pernah rapi."
"Iyakah dia tidak merasa terganggu?"
"Ah, biarkan. Asal dia pintar."
Iyakah hidup sekedar pintar? Tidak menilai seperti apa ia berlaku pada sekitar. Seperti apa sikap menghadapi problema.

Barangkali aku hanya iri. Toh, aku dan ia sama tololnya jika dibenturkan pada nyata kehidupan. Hanya, ia jauh lebih pandai menghitung angka, merangkai kata, menyemai kesempatan yang ada.

Dan pernyataan terakhir itu masih ganjil. Melamunkan aku terbaring di atas ranjang, tanpa keinginan menutup mata atau melakakukan apa-apa. Hanya ingin diam merenungkan ucapan. iyakah adanya? Sesempit pikiran atau sekerdil hati mengakui bahwa ia selalu melenggang lebih kencang, melesat lebih cepat, atau mengangkasa lebih tinggi.
witen by @niahaji

Rindu darat



Lautan tidak pernah kalah perang. Itu yang kuambil pelajaran semenjak berlayar. Meninggalkan daratan dan jauh dari orang2 tercinta. Untuk cita yg kupersembahkan padamu, ibu.

"Ibu masih was2 dengan kepergianmu, le. Bisa tidak ditunda beberapa waktu? Cuaca sedang tidak bagus untuk berlayar".
Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan takut yang sama dengan ibu. "Tidak mengapa, ibu. Ini pengalaman pertamaku. Melewatkan kesempatan pertama itu pamali bagiku. Lagi pula, kita butuh uang. Dan aku akan membawa sebanyak mungkin untuk ibu".
Namun ibuku, lebih membutuhkan anak lelakinya dari pada uang.
Dan cuaca, tak kunjung membaik sejak kepergianku dua minggu lalu. Dua minggu di atas kapal layar besar, berperang melawan pusaran angin, guntur dan hujan yang lebat mengguyur, bersama lautanku yang tak pernah kalah perang segencar apapun lawan menyerang.

Di saat seperti ini, hanya doa ibu yang dapat membawaku pulang ke darat dengan selamat. Karena aku mengarungi lautan sebagai popeye yang berusaha mengambil segudang berlian diseberang untuk ibu tersayang.

Aku menangis diguyur deras hujan dan petir yang menyambar, mengenang ibuku yang mati2an membesarkan, menenangkanku dari tangis, mengajari menghafal deret alfabet, hingga aku dapat gagah berdiri mengenakan seragam pelayar. Iya, aku akan pulang. Berperang melawan amukan alam bersama lautan. Untuk ibu tersayang.
witen by @niahaji

Pasif aktif



Selalu ada cerita dalam seriap perjalanan meski bukan berarti mengisyaratkan ia spesial. Seorang dewasa menuju paruh baya, duduk bersebelahan denganku pada deret paling belakang. Mulanya senyum sopan, jabat tangan berkenalan, lalu obrolan kecil sebagai prolog jumpa kami. Lalu mulai menyinggung tentang jalan kehidupan, kisah mengenai ia dengan masa lalunya, keberanian untuk mengubah keadaan yang turun temurun tak kunjung membaik (entah apa, aku sungkan menanya dan kau enggan melampirkannya).

"Saya pernah menolak untuk ujian karena saya belum belajar. Dari pada saya harus curang, atau nilai saya jelek, lebih baik saya menunda ujian."
"Berkata demikian? Lalu apa tanggapan dosen?"
"Karena beliau tahu karakter saya maka beliau membolehkan. Dan memang ternyata, nilai ipk itu tidak punya pengaruh apa2 ketika kita mulai menapak dunia kerja" Ia, membara berbagi.
"Mengapa bisa?" Aku singkat menanya untuk mengamati, perasaannya, pikirannya.
"Karena interviewer itu orang2 pintar. Mereka seperti peramal yang bisa menebak siapa kita sebenarnya, sepandai apapun kita berubah menjadi diri yang lain. Jadi kita pun harus menjadi diri kita, percaya pada apa yang kita punya. Meskipun di saku, ipk yang kita kantongi hanya angka yang bukan apa2."

Pagi itu lembah ungaran diguyur gerimis rintik2 yang tebal meski tidak dapat dikatakan hujan. Mereka mencuri dengar pembicaraan kami yang tentunya setiap pemirsa tahu berat sebelah. Seperti biasa, orang lain bercerita dan aku menjadi pendengar setia yang tidak alpa menyungging senyum ketika mereka menyisipkan canda, terharu pabila terselib rasa duka, penuh antusias menunggu ia mengatakan detail selanjutnya, dan tatap mata yang menyaratkan aku benar2 ingin mendengar tanpa bosan. Ya, dari perjalanan itu aku tahu, dunia begitu hebatnya mencipta manusia dengan segala rupa. Yang butuh mendengar, yang gemar menceritakan, yang memerhati, yang diperhati. Dunia selalu memiliki mereka dengan kata kerja pasif dan aktif dan kesemuanya ada semacam ketergantungan tanpa bisa dikotak2kan. Dan aku, lagi2, adalah pendengar setia yang selalu dapat mengimbangi alur cerita pencerita
witen by @niahaji

My end november



Hallo november Bukan tidak ada, tapi terlalu banyak dan diselimuti kemalasan tebal. Jadi sampai detik ini belum tertulis juga.

Bukan mengapa, justru ketika berhadapan dengan layar dan tombol berderet alfabet rasaku buta memakna, pikirku buntu merangkai kata. Namun november, aku tetap tidak menghargaimu sebagai bulan spesialku. Pun pada tahun dimana usiaku genap 20. Dan, melewati hari itu di tanah orang tanpa ayah anak2ku disisi.
Aku kalah, november. Tapi aku cukup bahagia dikenalkan dengan dunia orang-orang luar biasa meski aku bukan satu dari mereka. Hanya numpang nama untuk membumbung angkasa.

Berkutat dengan rutinitas, melupakan orang-orang tercinta disekitar. Keluarga, bocah-bocah, teman-teman. Egois dengan sibukku sendiri. Rindu mendengar keluh kesah adik kecilku. Atau bercengkerama sembari menikmati panorama alam dengan masku tercinta. Atau menyesap bakso yang kuahnya mengepul hangat, menertawai konyol kami bersama the beauties Atau terbahak bersama bocah-bocah kampungku.

Melalui rindu itu justru aku sadar, bahwa hidup bukan hanya egoisme meninggikan diri sementara acuh pada sekitar. Pengembangan kemampuan, karya yang dicipta, nama yang melambung, tidak berarti apa-apa tanpa tindak nyata memberi waktu kita untuk mereka, orang-orang disekitar kita. Sepeti yang kitabNya sampaikan, celaka adalah manusia yang senantiasa mematut diri tapi lalai menggandeng manusia lain berjalan beriringan. Dulu aku berpikir, alangkah bahagia mereka yang sering pergi menjelajah dunia, menimba ilmu dari pengalaman kelana. Namun justru rindu yang menyadarkan, iya trimakasih rindu, itu tidak berarti apa-apa tanpa hadir kita untuk mereka, menabur manfaat pada sesama, dari yang terdekat. Untuk kehangatan dalam sebuah keluarga, mengikuti vase pertumbuhan adikku yang meremaja, atau orang tuaku yang menua, atau masku yang makin dewasa. Untuk harmonisasi ikatan pertemanan yang kuat, mendengar mereka bercerita, tertawa bersama. Untuk mengajari anak-anak tetangga mengeja kata, merangkai mimpi menjadi cita pada usia mereka yang belia, menanamkan karakter mulia.

Karena aku guru yang peka merespon apa yang sekitar rasa. Untuk pendidikan menuju Indonesia nomor 1 dunia.
witen by @niahaji