Nyatanya
hidup tak terhenti pada rasa tidak nyaman yang sedang terjadi. Ia tetap akan
menjadi masa yang jauh tertinggal di belakang, lalu. Yang perlu kamu lakukan
hanyalah beranjak, melesat kencang meninggalkan dengan pemaafan, sesekali
menengok ke belakang untuk memastikan jalanmu aman.
witen by @niahaji
Dialog Hati
written by
niahaji
@
7:19 PM
“Aku
ingin pulang”
“Mengapa?”
“Ternyata
perjalanku tidak dihargai apa-apa. Untuk apa dilanjutkan. Aku ingin kembali
pada kenyamanan, tidak terbebani dengan pikiran-pikiran, atau tanggungan-tanggungan.”
“Aku
menyesalkan, ternyata pandangamu tentang kehidupan masih sama dangkalnya dengan
mereka.”
“Siapa?”
“Kamu
ingat tidak, saat Nabi melarang umat untuk tidak turun dari bukit sebelum
beliau memerintah? Seandainya, pasukan mematuhi, barangkali tidak ada sejarah
kalah perang umat islam.”
“Dan
tidak ada sejarah panglima perang hebat Khalid bin Walid.” Kekehku.
“Ya,
barangkali. Ia sebaik-baik kesempurnaan. Atas izin-Nya skenario itu terjadi.”
“Lantas,
apa hubungannya denganku?”
“Kau
sama gegabahnya dengan pasukan perang islam kala itu. Terburu mengejar dunia
yang belum tentu nyata adanya.”
“Apakah
iya? Serendah itukah aku? Kau belum mendengar lengkap kasusku.”
“Ceritakan!”
“Aku
gamang, haruskah melanjutkan perjalanan atau pulang. Namun aku cenderung ingin
pulang, selagi ada persimpangan yang memberiku kesempatan untuk memilih jalan.
Untuk apa mengakumulasi lelah sementara tidak banyak rupiah yang kukumpulkan,
tidak ada pengumuman pemenang lomba atas namaku, tidak menduduki posisi penting
organisasi. Aku ingin pulang.” Mataku mulai sembab.
Ia
menarik selembar tissue dari tas cokelat mudanya, cantik sekali, menurutku.
“Persis sekali dengan alasan umat melanggar larangan Nabi. Mereka mengejar yang
sejatinya tidak pernah ada, tidak akan terpuaskan, nafsu. Nafsu mendapat tempat di dunia, memperoleh harta tak hingga
banyaknya, disebut-sebut sebagai pahlawan yang rela berkorban.”
Aku
tidak menanggapi meski patahan kata. Ada yang salah, namun tidak tahu dimana
dan membenahinya. Barangkali pernyataannya perlu direka ulang untuk diteliti
lebih jeli. Senaif itukah aku?
“Kamu
berada di jalan yang benar, jangan pernah ingin pulang. Nyamannya rumah hanya
akan mengendurkan jiwamu yang mulai tegar.” Ia melanjutkan.
“Sebentar.”
Akhirnya kalimatku mulai tersusun. “Tidakkah aku terlalu berpikiran sempit,
tidak fokus pada satu bidang. Semuanya ingin kulakukan, mengajar tanpa bayaran
rupiah melimpah, bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan organisasi
padaku, menjajal berbagai ajang perlombaan yang hasilnya hanya nihil. Di luar
itu semua, urusan akademis kurang kuperhatikan. Sementara, aku bisa memperoleh
lebih banyak rupiah dari tempat lain, tidak banyak waktu yang kukeluarkan
sebagai pekerja sosial. Lebih bisa berkonsentrasi pada urusan yang dapat
melambungkan namaku, melalui organisasi dan lomba-lomba”
“Tidakkah
kau pernah berpikir, mengajar itu amal jariyah, ibadah yang pahalanya tidak
akan terputus sampai mati. Kau kaya dengan itu semua, meski kelihatannya miskin
pujian manusia. Sungguh, itu merupakan kemuliaan.”
“Apa?
Mulia?”
“Ya,
sangat mulia.”
“Bukan
berpikiran sempit, atau tidak progresif.”
“Bukan.”
Aku
menganggung-angguk girang sekaligus berleleran air mata dan sesenggukan.
Lelah, bukan milikmu.
written by
niahaji
@
7:18 PM
Barangkali kamu tidak akan pernah membaca tulisan ini, tapi
aku tetap ingin menuliskan karena apa dayaku melisankan. Aku tahu, kamu pasti
tidak akan mendengar. Ya, hanya aku, bukan orang hebat, untuk apa didengar, bukan?
Meski belum lama dekat, namun aku bisa menerawang sampai
sisi mana letak ketulusan dan kerja keras yang kau miliki. Bisa menilai bahwa
kau memiliki subjektivitas tinggi.
Waktu kita sama-sama 24 jam sehari
Ada manusia yang bisa mencipta puluhan karya, ada pula yang
tidak mendapat apa-apa dari total detiknya.
Dulu aku berpikir, aku luar biasa sibuk dengan rutinitas,
lebih sibuk dari manusia manapun di dunia ini. Segala puji untukmu, Allah Sang Perancang,
Engkau memberi penyadaran lebih awal meskipun telah terlambat.
Ternyata, jutaan orang hebat disana lebih memiliki beragam
rutinitas dan rasa lelah jauh melampauiku. Semenjak itu, mataku terbuka lebar
memandang dunia luar yang dipenuhi perlombaan, berkejaran dengan waktu mendapat
penghargaan, ada yang semata untuk manusia, ada yang mengharap ridha Tuhannya.
Lalu aku bernadzar, segera keluar dari zona nyaman, meski aku yakin aman namun
langkahku banyak tertinggal, dinina bobok lantunan masa kini yang melenakan.
Begitu bergabung, aku pun melebur mengikuti langkah panjang mereka dengan tertatih-tatih dan kelelahan.
Justru, tubi ketidakberdayaan itulah penguatan. Akan pertolongan-Nya aku
semakin yakin, selama aku, selama jiwaku,
tidak jauh dari Tuhan.
Penyadaran itu semakin mengintegral seiring perjalananku
yang bergabung bersama kumpulan. Mereka orang-orang hebat dan sekencang apapun
lariku, tetap tidak dapat menyamai langkah mereka yang cepat.
Perlahan, aku memudar, mulai enggan mengejar dan bertahan
dengan ketertinggalan. Namun mustahil semangat dan ketulusan mereka tidak
menular, aku kembali. Semakin jauh tertinggal di belakang, namun kali ini tidak
ada semangat yang surut, atau arang yang patah. Aku tetap melenggang, meski
tidak ada gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan, atau pandangan takjub
dari mata penonton pentas kehidupan. Ya, aku masih bukan apa-apa.
Keyakinan itu kembali menguat. Bahwa Ia tidak akan
meninggalkamu kelelahan sendiri. Jundi-Nya tidak akan alpa hadir, meski sekedar
sebagai temanmu bercerita. Cerita atas
perjalanan yang ketertinggalannya barangkali tidak terkejar.
Andai Aku..
written by
niahaji
@
7:16 PM
“Kesempatan, jarang datang dua kali. Pastikan kamu
memanfaatkannya ketika ia datang.” Pesan Ibu kepadaku-berkali-kali.
Suatu siang, aku lupa hari apa, seorang dosen menawariku
menjadi asisten dalam pengabdian masyarakat beliau. Otomatis, kalimat Ibu
memukul-mukul gendang telingan, merangsang syaraf mengirim impuls ke otak.
Entah mengapa, aku sedikit gamang antara mengiyakan atau menolak. Aku ingin,
dan ini kesempatan mengenal banyak orang, pengalaman pengabdian, berguna bagi
sesama. Condong pada mengiyakan, tapi berpikir dua kali karena acara beliau
berlangsung malam hari di tempat yang jauh dari reramai orang.
Namun karena semangatku sedang menggelora, tanpa bertanya
atau memikirkan apakah temanku yang lain mau atau tidak, aku menjawab saya bersedia. Dan penuh percaya diri
aku pamitan pulang, tak sabar mengabarkan berita gembira kepada orang tua.
Sesampai di rumah sebelum meletakkan tas dan sepatu pada
tempatnya, atau melepasa helm dan jaket, aku langsung menyampaikan kesempatan
emas ini kepada orang tua. Ayahku bahagia, dan memberi dukungan penuh agar aku
memanfaatkan momen ini dengan baik. Namun Ibu, memiliki pemikiran konservatif
yang di luar duga. Beliau melarangku mengambil kesempatan ini.
Aku tidak berdaya, padahal aku meyakini, momen ini akan
menjadi hal besar sekaligus batu loncatan untuk hidupku yang stagnan. Sayang,
Ibu tidak mengijinkan. Haruskah aku menjadi anak durhaka yang tidak patuh orang
tua-lagi?
Akhirnya dengan penuh bingung, aku menanyai teman-teman
dekat barangkali ada yang berminat. Alhamdulillah seorang teman bersedia
menggantikan aku sebagai asisten dosen.
Malang, tidak berhenti sampai disitu, beberapa aral
melintang sebelumnya tidak terpikirkan. Dan rasa tidak enakku kepada
teman-teman sampai sekarang masih belum hilang.
Seandainya, sore itu aku nekat meninggalkan rumah, bersedia
menanggung resiko yang akan terjadi, entah seburuk apa. Tidak akan rasa tidak
enak yang dibawa sampai mati dan yang penting adalah pengalamanku bertambah.
Dulu aku pasif sekali, giliran ingin aktif, orang tua
menyandung langkahku sampai aku terjungkal. Aku terluka, kecewa, merutuki diri
dengan caci, dimana letak tanggung jawab dengan kalimat sendiri.
Ya, aku benci. Cerita ini akan sampai pada Kaisar dan
Auroraku nanti. Dan aku berjanji, meminta mereka untuk mengingatkan letak
salahku, menambahinya dengan hal yang benar.
Karena anak yang luar biasa, hanya terlahir dari orang tua
yang luar biasa. Pantaskan diri menjadi orang tua yang luar biasa.
Ya, buah jatuh tidak
jauh dari pohonnya.
Antara Jiwa dan Tuhannya
written by
niahaji
@
7:15 PM
Ilustrasi 1
Tatap, kali bermula dari tak sengaja
Ia duduk di depan kertas-kertas
Aku mengucap salam dan mengambil posisi tepat di depannya
Menyerahkan kertasku sembari bertanya mengenai problema
Ia menyarankan, lalu aku berterima kasih kemudian pergi
Beberapa waktu kemudian kami kembali jumpa
Ada tegur sapa, jabat hangat dan senyum memikat dari dirinya
Hanya 3 patah kata, namun serasa ia kenalan lama.
Hari-hari berikutnya lebih banyak temu
Tanpa ia tahu, aku diam-diam mengamati dari keramaian
kesibukan
Satu hal yang belum pernah aku temui pada diri wanita di
tempat ini.
Ia, memiliki ketulusan yang tiada kira kuantitasnya, tiada
banding kualitasnya.
Ya, itu saja namun bedampak luar biasa.
Ilustrasi 2
Busana dan asesoris melambangkan superioritas tak berbatas
Melenggang penuh percaya pada diri, akan mampu menarik tatap
para lelaki yang duduk di sepanjang kanopi
Berkali ku dengar riuh canda tawa dan kehangatan, namun aku
tidak merasakan ikatan.
Mereka bagai kumpulan awan yang mau saja dibawa angin pergi,
mengikhlaskan matahari menutup diri dan berganti mendung yang menaungi.
Agaknya ada yang kurang dalam hubungan itu, barangkali
karena masing-masing mereka tidak ada yang memiliki semacam perisai, yang
memancarkan aura merangkul sesama dalam satu jalan, yang benar.
Barangkali namanya
ketulusan.
Menerawang
Aku belum mampu menemukan pembeda, namun sekelumit jawaban
tentang kedekatan dengan Pencipta memberiku sedikit rambu meski masih abu-abu
benar salahnya.
Ia secara lugas menyatakan, “Barang siapa berkasih sayang karena Aku, akan Ku perintahkan seluruh
penduduk langit dan bumi menyayanginya.”
Perintah itu, hanya dapat dipahami oleh jiwa-jiwa yang dekat
dengan Tuhannya. Dan kedekatan jiwa dengan Tuhan, hanya dan hanya jika seorang
hamba bersih dari segala perkara dunia.
Barangkali aku salah menyimpulkan, semoga tidak berdapak
buruk pada tiang yang sedang kudirikan. Namun aku masih berdoa, semoga hipotesa
itu teruji kebenarannya, tanpa perlu trianggulasi validitias berulang, atau
analisis tajam dan melelahkan.
Wahai jiwa-jiwa yang
tenang
Kembalilah dengan hati
yang ridha dan diridhai-Nnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
- April (5)
- April (1)
- Maret (1)
- Maret (1)
- Februari (7)
- November (6)
- Oktober (2)
- September (26)
- Agustus (2)
- Juli (10)
- Juni (2)
- Januari (4)
- November (6)
- Oktober (9)
- Juli (4)
- April (9)
- Juni (1)
- Januari (2)
- November (2)
- September (2)
- Mei (1)
- April (2)
- Desember (3)
- November (6)
- Juli (6)
- Mei (1)
- Maret (1)
- Januari (15)
- November (4)
- Oktober (11)
- September (3)
- Juni (1)
- Mei (1)
- April (5)
- Maret (15)
- Februari (22)
- Januari (6)
- Desember (3)
- November (2)
- Oktober (8)
- September (21)
- Juli (4)
About Me
- niahaji
- I'm not the best, but I always try to work better. I'm nothing, but I have Allah who is everything.
my name's..
welcome to my life story :)
selamat dataang.. jangan kaget dengan kegilaan tulisan saya yang tidak bernilai.. saya hanya ingin mengaktualisasi diri lebih lagi..
I'm not the best, but always try to work better.. I'm nothing, but I have Allah who is everything..
niahaji. Diberdayakan oleh Blogger.
- nothing :D
selamat datang di dunia yang saya rancang untuk kesenangan saya. semoga pembaca merasakan nikmat yang sama. Amiin..
- choose one, please :)
Labels
- aqila today (8)
- Dasar-dasar Akuntansi Keuangan (1)
- Ekonomi Pembangunan (6)
- Kewirausahaan (2)
- nianianiaa (20)
- Strategi Belajar Mengajar (3)
- thedeepestinside (89)