Kita sama

on Rabu, 08 Januari 2014


Setiap orang memiliki kebiasaan berbeda-beda apabila dihadapkan pada forum. Ada yang menggebu mengemukakan pendapat, ada yang diam malu bicara, ada pendengar setia tak mengerti apa2, dan beberapa diantaranya orang2 seperti kita, yang lebih suka berkutat dengan pikiran sendiri namun bukan malu untuk mengungkapkan. Aku menyebutnya manusia2 dibalik layar.

Kita, duduk mendengar mereka berkomentar. Mengamati sekitar tanpa mereka sadar, mengkritisi dalam diam, ide2 yg resist untuk disumbang. Dunia yang kataku hanya milik kita, tak perlu banyak orang menjamah untuk mengetahuinya.
Barangkali kita pun saling bertanya pikiran satu sama lain. Penasaran mengenai satu tanggapan atas fenomena, berusaha masuk namun tak pernah berhasil. Ya, meraba namun tak pernah terasa, menerebos namun ada penghalang yang gagah menghadang, menjamah namun langkah tak pernah sampai. Barangkali begitulah definisi antar pikiran kita. Egois ingin selalu mengetahui, tapi melarang orang lain memasuki.

Aku juga tidak cukup tahu mengapa engkau begitu sulitnya dipahami. Apakah karena jangkauanmu terlalu tinggi, atau memang menolak didekati? Sementara sepandai apapun orang, kebanyakan dari mereka selalu mudah ku masuki, mudah ku pahami. Tapi engkau?

Barangkali masing2 kita sama.
Ya, karena kurang lebih kita sama.
witen by @niahaji

Karena sim ku macet



Menganai kemacetan, barangkali bukan karena banyaknya kendaraan yang merayap memenuhi jalanan. banyak jalanan yang lenggang tanpa lalu lalang kendaraan meski dibeberapa titik kemacetan tak bisa terelakkan. Kondisi jalan jauh lebih berpengaruh terhadap kemacetan dari pada jumlah kendaraan itu sendiri. Pada jalan yang mulus, kendaraan akan melaju dengan nyaman tanpa kendala, misal jalan tol. Seandainya semua jalan seperti jalan tol, pemandangan jejeran kendaraan mewah dan suara klakson akan sangat dirindukan. Kemacatan hanya akan menjadi dongeng bagi anak cucu nantinya.

Hal yang tidak kalah penting dari kondisi jalan adalah etika berkemudi. Budaya antri yang pernah menjadi kebanggaan negeri ini nyatanya tidak terpraktikkan lagi. Orang berusaha mendahului, srobot kanan kiri asal cepat tanpa peduli pengguna jalan lain. Budaya ini melekat pada diri siapa pun, baik yang memiliki surat izin mengemudi atau yang tidak.

Justru kebiasaan ini yang menyebabkan jalanan padat merayap dan laju kendaraan memelan berjam2. Entah masyarakat tidak menyadari karena memang indonesia menempati posisi kualitas pendidikan terendah di dunia atau pada dasarnya manusia indonesia egois? Barangkali perlu diteliti lebih dalam lagi.

Apabila kesadaran untuk mendahulukan yang berkebutuhan sudah tertanam pada diri pengemudi, kemacetan akan dapat dikurangi. Salah satu upaya untuk dapat meningkatkan kesadaran tersebut adalah dengan ujian untuk memperoleh surat izin mengemudi diperketat. Pada praktiknya, mencari surat izin mengemudi seperti pelelangan ikan di pasar pesisir. Asal ada uang dan harga cocok, barang pun datang. Ketika seseorang pencari SIM datang ke kantor kepolisian wilayah setempat dan menyatakan hajatnya, petugas akan langsung merekomendasikan untuk lewat jalur belakang. Mereka menakut2i para pencari SIM dengan ujian yang susah lulus sehingga memakan banyak waktu untuk wira-wiri. Sehingga tanpa ujian seperti yang disyaratkan perarutan formal yang berlaku sesorang dapat memiliki SIM yang legalitasnya diakui.

Perketatan ujian untuk memperoleh SIM ini memerlukan banyak campur tangan dari pihak kepolisian. Untuk itu diperlukan polisi2 yang dapat diandalkan dan tidak hanya berpikir mengenai keuntungan material berupa uang semata. Pelayanan untuk mencari SIM perlu diberikan sebaik2nya tanpa tawaran untuk lewat jakur belakang. Kepolisian juga bisa memberikan pelatihan2 khusus mengenai berkendara yang baik melalui seminar, workshop, dan lain2 kepada masyarakat agar pencari SIM lebih mudah lolos dalam ujian.

Dengan lebih ketatnya ujian mencari surat ijin mengemudi, sehingga sim bukan hanya legalitas formal semata namun juga memberikan dampak positif pengguna kendaraan dalam berkendara di jalan, kemacetan akan lebih dapat diminilisir. .
witen by @niahaji

Damai masa laluku



Untuk sekedar berdamai dengan masa dimana aku merasa tidak ada pegangan untuk menguatkan, masa dimana orang tua memiliki peran penting dalam menatih perkembangan anaknya yang meremaja.

Seharusnya tidak ada satu apapun yang perlu disesalkan. Jauh, lalu dan mustahil ada pengulangan. Namun aku, barangkali karena egoisku, berat untuk menghapusnya sebagai perih yang menusuk. Menghapusnya sebagai sekedar masa lalu. Terlewat sudah dibelakangan tanpa ada satuan jarak yang mampu mengukur.

Sementara, perlu ditegaskan bahwa tidak ada bagian tubuhku yang terampas, atau hakku yang dilanggar. Hanya, aku yang terlalu perasa, masa dimana aku dapat bertumbuh dengan baik melalui dukungan moril orang tua, terberai karena tempat itu dan segenap congkaknya menerimaku. Atau kesemuanya hanya perasaanku. Ah, sudah. Aku tidak tahu.
witen by @niahaji

Cerita subuh di pagi hari



"Subuh, aku masih ingin terlelap".
"Toh, aku juga tak ingin mengganggu tidurmu, Lelap".
"Kalau begitu terima kasih, silahkan mengantar fajar menemui pagi".
"Dan kamu,Lelap, silahkan menikmati tidurmu kembali".
Subuh memang baik hati. Begitu baiknya sampai banyak orang lalai betapa seharusnya mereka menghargai Subuh lebih dari Lelap mereka sendiri. Subuh meneteskan kesegaran pada setiap jiwa selepas sembahyang, Subuh membangunkan ayam-ayan tetangga dengan kokok bahagia, Subuh menghilangkan lelah atas aktivitas seharian, Subuh membawa air lekas2 mengembun menghijaukan sawah2 dan pepohon di dunia.

Namun, iya. Karena kebaikan yang tanpa pamrih, tanpa memandang siapa manusia yang ditolongnya, tidak menendang yang papa, dan hanya merangkul orang punya, ia dicintai tiap manusia. Namun iya. Manusia melulu alpa membalas susu dengan sungai anggur surga. Mereka menceloteh seakan balas mereka pada budi Subuh begitu luar biasa, sementara pemberian mereka hanyalah tuba. Namun iya. Subuh tak pernah mengeluh meski laku balas manusia tak sebanding dengan pemberiannya. Iya tak pernah mengurangi sedikit pun pemberiaan, atau mendesah masygul jika harapannya hanya mimpi bagi manusia. Ia tetap memberi, tidak peduli seberapa besar penerimaan kembali.

"Subuh, mengapa lama sekali"
"Maaf Fajar, Lelah mengajakku bercakap hingga aku terlambat menemuimu."
"Tak mengapa, Subuh. Aku selalu menunggumu selama apapun engkau. Hanya kau yang mampu memberi sebanyak ini padaku, pagi dunia, untuk manusia." "Jangan berkata begitu, Fajar. Itu sudah tugasku. Aku hanya menjalankan perintah yang Ia amanahkan padaku."
"Tapi Subuh, kau yang membebaskanku dari gelap malam, dan mengantar pada terang. Aku, aku mencintaimu Subuh. Aku tidak ingin kita berpisah"
"Mengapa kamu berkata demikian Fajar? Ini tugas kita. Setiap hari kita akan bertemu meski sebentar. Namun temu itu sulit hengkang dari benakku yang setiap 24 jam merindu untuk segera direalisasikan. Ini sunatullah, mari kita tetap bertemu seperti waktu yang jadwalkan."
"Subuh..."
Fajar menemui pagi.
witen by @niahaji

Candamu



Candamu,
Daun yang gugur pun tahu bahwa itu sekedar lucon. Namun mengapa subuh ini tetiba aku mengiyakan.
Candamu,
Barangkali aku yang angkuh mempercayai. Atau kealpaan hati mengakui. Namun semakin aku bangun sejauh itu pula aku sadar.
Dia miliknya, ia dan dirinya. Sedangkan aku.. Aku bersamamu, kau hidupi, kau lindungi, kau bela, kau naungi.
Hanya, aku terbangun dari tidur dengan kenyamanan yang meluntur. Ia mendahuluiku melenggang bersama pria punya. Sementara kita terbelakang karena uang. Karena kita HANYA guru dan aku benci olokan itu.
Aku tahu, hari ini kita hanya. Tapi ke depan, jalan masih terbentang panjang, kecuali tercut kematian. Dengan berdirinya kita di ikat suci tali, menabur kebaikan pada setiap yang membutuhkan pertolongan, tidak melulu diri, atau berbondong pujian, aku masih menyimpan impian. Impian untuk kita di hari esok. Anak manusia yang sempat terlunta dan merasa hidupnya tak ada daya.
witen by @niahaji