Singkat, tentang ia

on Jumat, 29 Maret 2013


Sekitar 2 minggu kami tak bertemu. Terakhir kalinya saat ia menyandar kepala di pundakku dan mengatakan ada banyak rintangan di depan.
Malam ini kusempatkan mampir ke rumahnya yang tak pernah sepi dari canda keluarga.
Ia sedang duduk di kursi tamu, menopang dagu, menutup jendela kayu yang dibiarkan menantang malam. Wajah cantiknya, ah, betapa aku mencintainya. Namun, ada luka pias nampak di sudut mata.
“Kamu apa kabar? Mengapa terlihat tidak sehat?”
“Hal remeh begitu kau tanyakan. Tidak lihat sesenang apa berjumpa denganmu?” Ia tertawa, membahana.
“Padaku mengapa harus dusta? Aku tahu, ada setumpuk pikiran yang kau renungkan. Coba utarakan!”
Ia berdiri, mengambil posisi tepat di samping kiriku, menyandar pada bahu kursi yang sama.
“Aku tidak tahu. Haha. Yang ku tahu hanya lelah, tak lagi ingin melangkah.”
“Itu bukan dirimu yang ku tahu. Sejak kapan kau mengabdi pada kehidupan? Menyibukkan waktu untuk hal yang melelahkan.”
“Aku juga tidak tahu. Belakangan aku merasa banyak yang kurang dan begitu tertinggal. Banyak kenalan yang menyepelekan aku dalam kemampuan, hanya karena sifat burukku yang tak punya dedikasi untuk bersaing merebutkan bumi.”
“Lalu, kau sedang berusaha mengejar agar semakin hari mendekati seimbang?”
“Ya, begitulah. Aku berharap, penat yang memelukku erat dapat membayar lunas hutang waktu yang kuhamburkan dulu.”
Ia mendewasa. Begitu beda dengan gadis belia yang mengadu padku 2 minggu lalu.
“Peluk aku.” Senyumnya mengembang, dan jantung sempurna berdebar kencang.
Ia terasa hangat, rapuh dan kelelahan. Dan aku ingin menjadi bagian dari dirinya yang sedang berusaha mencari hakiki hidup ini.
My room, Senin, 11-03-2013. 20:34.

Diriku




Barangkali aku yang berpenyakit hati. Terlalu banyak membenci namun lupa mengintrospeksi diri, banyak mengatai namun luput menjawab tanya sendiri, banyak melihat salah namun alpa mengamati tingkah.
Aku malu, sungguh malu. Pada ego yang tak mampu ditahan., pada congkak yang mulai memuncak, pada emosi yang tak paham situasi. Namun salahku, ketika didzolimi aku membalas dengan tingkat rasa hampir sama. Ah, bukankah ia pernah berpetuah, hendaknya manusia membalas kejahatan dengan kebaikkan. Dan yang demikian itu merupakan sebaik-baik iman. Hinakah aku jika tidak bisa? Jika perilaku kasar ku balas dengan hantaman keras, jika hakku dilanggar berusaha ku rebut kesempatan memojokkan. Benar, aku membenci diriku yang jauh dari jalan Tuhan. Mengejar dunia sementara abai akan pencipta. Bukankah sesibuk apapun planet berputar, tak henti mengagungkan asma Sang Pemberi Kelelahan, yang sekaligus Perancang Pagi sedemikian indahnya.
Lalu, dimana tempatku yang melulu umpat, keluh, bualan, tanpa bosan merenda mulut yang sulit ditahan.
Allah, maafkan aku. Tak bersedia membagi ilmu-Mu pada anak-anak yang begitu rindu berjumpa denganku.
Allah, permudah langkahku. Aku baru saja meletakkan fondasi pertama untuk membuatkan rumah bagi jiwaku yang suka berkelana.
Allah, terima kasih. Nikmat-Mu tiada kira, di atas kesahku yang tidak berbatas.

My room, Senin, 11-03-2013. 17:50

Bakso Lereng Lawu



Aku lupa pernahkah bercerita pada kalian mengenai semangkuk bakso yang kusantap bersama priaku di kaki lawu penghujung tahun lalu.
“Ternyata bakso. Aku tidak tahu sebelumnya, maaf. Maukah kamu memakannya?” Ia bertanya dengan nada menyesal
Karena tak ingin membuat sesalnya bertambah menjadi rasa tak berharga, kujawab dengan celoteh gembita. “Haha, tak mengapa. Aku mau. Tidak ada yang lebih menghangatkan di tempat semenggigil ini selain bakso.”
Satu mangkuk ia serahkan padaku, di dalamnya sudah tercampur kecap, saus, dan sambal dengan asap mengepul pertanda kehangatan. Aku mengaduk dengan lidah yang ketakutan duluan sebelum suapa. “Ah, sudahlah. Makan saja!”. Pasrahku pada diri sendiri.
“Enak tidak?” Tanyanya.
Sedetik lebih lama, kugunakan waktu untuk menganalisa. “Ternyata sangat enak.” Tegasku tanpa gagu.
Lalu, kami menghabiskan 1 mangkuk bakso sembari menatap hijaunya pepohon Tawangmangu dan mengagumi puncak Lawu. Berlempar tawa, membagi cerita, memeluk tubuh dengan tangan masing-masing.
“Dingin sekali.” Rintihku seusai meletakkan mangkuk.
“Disini saja kau sudah kedinginan. Apalagi menaiki jalan yang lebih tinggi.”
Ya, kami punya satu cita menakhlukkan lawu dengan cinta tak peduli dinginnya. Itu cerita tahun lalu. Kini mulai tak terdengar kabarnya gerangan. Namun bagiku tak ada tenggat untuk kami merencanankan kemanapun bertualang. Masih banyak hari tersisa, selamanya sampai nanti, mati. Karena kami segera tersatukan dengan cincin yang melingkar di jari, tanda sebuah janji terlanjur diamini. Dan akan kami coba realisasi dalam rumah tangga yang bahagia, yang meniti jalan menuju surga.
Saling memeluk khusuk, tanpa ada yang mampu membilang atau menyebutkan sebanyak apa porsi kasih yang kucurah, sebesar apa gelora cinta yang kucipta, sehebat apa rindu yang membelenggu jiwa. Karena hanya Ia yang mampu menganugerahkan rasa kepada hamba. Ia, pemilik hati tiap manusia. Jaga hati-hati kami agar senantiasa mengharap kebersamaan yang dapat menurunkan generasi berbakat penjaga Al-kitab.

My room, Minggu, 10-03-2013. 15:58