salam sejuk pagi :)

on Sabtu, 29 Juni 2013


Hello.
End of June. Beautiful June..

Sayangnya, tulisanku nol untuk dipajang.
Aku keheranan, jujur saja, dalam skala besar.
Mengapa? Karena sesulit apapun hitungan akuntansi yang mewajibkan keseimbangan dan hanya bisa dicapai melalui kerja keras, seharusnya masih ada waktu untuk sekedar membagi kesulitan. Melalui angka-angka yang menari dapat ku buat narasi. Namun nyatanya?
Sungguh banyakkah yang berubah di hidupku, sampai-sampai satu kata pun tidak tergores untuk sekedar menumpah rasa?

Every words mean. Ya, begitu berharga.
Dulu.
Ketika pendengarku tuna rungu, pun bisu.

Namun, justru bahagia adalah ketika diri terkungkung bersama suasana hati, menuangkan pada selembar kertas yang tidak pandai diajak kompromi, setelahnya, melilitkan dua tangan pada lengan-lengan, kepala menunduk, malu menatap kehidupan.

Ya, justru momentum itulah titik balik seorang hamba memikirkan keagungan Rabbnya. Bahwa satu-satunya pemutus perkara, peramu cinta, pemilik lengan perkasa adalah Ia. Tidak akan meninggalkanmu masuk rumah sebelum memastikan kau tiba di beranda.

Tidak ada jawaban yang lebih pasti atas semua perkara. Kecuali satu kata berarti.
Kembali.
witen by @niahaji

Rubik frontal ..

on Kamis, 23 Mei 2013


Sekedar  berbagi hasil smart discuss di kost teman siang tadi. Harap maklum, mahasiswa jaman sekarang kaya bagaimana. Kita ngerjain Manajemen Keuangan disambi curhat-curhat gitu. Salah satunya membicarakan perawat dan bidan yang menurut kami kamseupay.
Ini sekedar yang kami tahu hlo ya. Barangkali banyak mbak dan mas perawat, atau mbak bidan yang emang niat ambil jurusan keperawatan ataupun kebidanan. Jadi kuliah pun ditenani sepenuh hati, pinter, nggak kamseupay, dan nggak malu-maluin.

Menurut analisa dari realita yang kami amati, biasanya orang bersedia sekolah di jurusan keperawatan atau kebidanan karena kekuatan kepepet. Kalau keterima di universitas negeri, ngapain sudi sekolah di tempah eyuuh gitu. Salah seorang teman sekelas pernah bercerita pada saya, jika 2 tahun lalu ia tidak diterima di UNS, orang tua menyuruhnya mengambil jurusan keperawatan. Mana mau dia. Akhirnya dia berusaha sekuat tenaga agar diterima di UNS.
Pengalaman lagi, ketika berkunjung di kost salah seorang teman, teman kostnya sekolah di jurusan keperawatan, dan entah bagaimana, menurut teman saya itu, setiap jeda perkuliahan, atau selesai sekolah, mereka luluran berjamaah. Iiih banget kan ya. Jujur aja nih, selama dua tahun kuliah, belum pernah tuh, yang namanya berkunjung ke kost teman kober ngluluri tubuh. Apalagi semester ini, akuntansi kagak nahan deh pokoknya. Mampir kost teman = BELAJAR. (maklumlah ya, perpus jaman sekarang tempat foto-foto dan mejeng mahasiswa aneh. Jadi udah nggak terjaga ketenangannya. Ke perpus itu -kalau saya-, pinjem buku dan keluar. Belajar di tempat yang tenang.)
Lanjut masalah perawat dan bidan.
Seorang teman mas saya sekolah di jurusan kebidanan. Dia ada tugas MEMBUAT makalah tentang apa gitu, lupa saya. Eh, malah dia minta tolong mas saya buat MENCARI alias MENGKOPI makalah dari internet.
Terus cerita lagi, teman mas saya juga. Ujian Negaranya hasil tidak jujur. Cerita panjangnya gini. Ketika ujian negara, mas saya ngasih jawaban ke teman-teman sekelasnya. Ndelalah yang dikasih ke mbaknya itu, mas saya salah nulis. Sadarnya baru setelah ujian selesai. Frustasi bener mbaknya itu. Anehnya begini, kalau orang pinter nih, pasti dikasih jawaban pun dia juga mikir, jawaban yang dikasih itu bener apa enggak. Hla ini orang? Kok yo nggak dicek ulang to mbak? SMA 3 tahun ngapain aja? Non sense banget sih sekolahmu!
Lucu dan uniknya lagi, model orang kaya begitu berani-beraninya daftar PGSD UNS. Mana mungkin keterima. Helllo, PGSD itu saingannya bejibun kakaa’ J

Ada lagi, ini cerita saya pribadi. Teman sekelas saya ketika SMA. Dia tidak bisa mengoperasikan aljabar (bahkan) yang paling sederhana sekalipun. Ketika SNMPTN, dia ambil UNS. Salah satu prodi yang dia ambil sama dengan prodi saya sekarang, Pendidikan Ekonomi. Saya cuma mbatin sih waktu diberi tahu, kok berani ya ambil prodi itu. Hehe. Dan ternyata dia memang nggak keterima. Ujung-ujungnya, dia sekolah di tempat begituan, kebidanan apa keperawatan, kurang  tahu saya. Pokonya di bidang kesehatan deh.

Ini cerita teman saya dan agak menggelitik juga sih. Dia ditanya tetangganya, kenapa kok nggak sekolah di bidang kesehatan. Tetangganya bilang, kan enak sekolah di bidang kesehatan, kesempatan kerjanya banyak. Apa banget nih orang, mending-mending sekolah Guru kalii. Lebih bergengsi. Kalau sama-sama udah jadi PNS gajinya lebih gede. Bisa nyambi buka bimbingan belajar juga. Toh sekarang kalau umpanya bidan buka praktik udah nggak laku. Orang jaman sekarang pinter, mending berobat ke dokter umum daripada ke bidan. Terus, apanya yang dibanggakan dengan perawat dan bidan? Kalau kita FKIP, so why? Apalagi FKIP UNS adalah FKIP terbaik se Jateng-DIY, dan nggak kalah kalau dibanding FKIP lain. Terlebih, menurut Webo Matrix, UNS masuk 10 besar Universitas terbaik di Indonesia. Kalau ranking nya belum ganti diurutan ke 7.
So, kerenan mana, perawat-bidan, apa Guru? Guru dooong J

Cerita lagi, ini mungkin dasarnya orang kampung yang mesakne (biar ketok gahhool dia malah jadi korban pergaulan karena banyak digauli. Ups, jleb :D).
Jadi gini, ini sama-sama anak kebidanan. Sekolah belum lulus, salah satu teman se ganknya ada yang hamil. Temannya berusaha nolong teman yang hamil ini. Caranya gimana coba? Digugurkan sist. Tega amat kan ya. Itu belum lulus hloh. Gimana nanti kalau udah lulus? Mau jadi apa nih orang? Fyuuh ..

Dan, apa juga yang dibanggakan dari seorang perawat? Kerja di rumah sakit, kadang jaga malam, gaji nggak seberapa, gek kerjannya kasar gitu. Maksud saya begini, namanya perawat kan pembantu pasien. Pasiennya ganti infus, yang ngganti perawat. Termasuk kalau mau pipis, yang naruh pispot ke saluran kencing juga perawat. Najong deh ah -_-

Jadi, klonkusi dari smart discuss kami siang tadi,
Perawat itu pembantu di rumah sakit. Sedang bidan, tidak terjamin kualitasnya untuk dimintai saran tentang kesehatan, baik itu mengenai kandungan maupun pengobatan ketika sakit.
So, apanya yang harus dibanggakan?

-Maaf apabila tulisan ini menyinggung banyak pihak. Ini hanya sekelumit cerita yang mengandung penuh tanda tanya bagi kami orang awam yang tidak habis pikir dengan pembantu dunia kesehatan. Mana mungkin dokter mampu menangani semua pasien tanpa bantuan perawat. Tapi kalau perawatnya tidak tenanan dalam mempelajari ilmu keperawatan, mau dibawa kemana dunia kesehatan Indonesia? Ayo mbak dan mas perawat, serta mbak calon bidan yang klincong berseri, buktikan kredibilitasmu, berkontribusi untuk negeri. Nggak cuma moles diri.
Semoga tulisan ini menjadi tamparan perubahan untuk dunia keperawatan dan kebidanan. Lebih selektif dalam menyaring mahasiswa mungkin perlu diterapkan agar tidak semua orang beruang tapi kecil otan dengan mudahnya masuk mengotori nama baik dunia keperawatan dan kebidanan Indonesia-

Saya orang Indonesia, dan saya berkontribusi untuk negara J

witen by @niahaji

untuk diri

on Selasa, 16 April 2013


Apa yang kau lakukan terhadapku?
Mengapa tanyaku senaif itu.
Egoisnya tak terkira.
Pernahkah aku bertanya “Apa yang kulakukan terhadapmu?”

Membalik situasi ketika hatiku tersakiti.
Bukankah guru istimewa fisikaku pernah mengajarkan mengenai hukum Newton berkaitan dengan gaya.
Yang ku beri, sama dengan yang ku terima.

Lantas, mengapa tanyaku masih mementingkan diri tanpa memerhati yang ku beri?

Kau senantiasa ada, sejauh apa aku memunggungi.
Kau tak pernah beranjak, seburuk apa lakuku mengkkufuri nikmat.
Kau setia menugguku pulang, membukakan pintu rumah ramah, selelah apa perjalanan yang ku tempuh.

Lantas, mengapa tak jua aku sadar, untuk mengoreksi tanyaku ulang.
Apa yang kulakukan terhadapmu?

Bahkan pada hamba-Mu, aku melulu lupa menanya pada diriku, menginstropeksi tingkah, menganalisa khilaf, meminta maaf.
Ya, aku selalu dan lagi-lagi lupa.

witen by @niahaji

mungkin, emosi..

on Jumat, 12 April 2013


Ketika hidup begitu berat dan aku menikmati tubi sakit yang ia cipta.

Di sela kesibukkan pagi.
Menanti mentari cepat-cepat meninggi untuk menghangati.
Tertegun aku membaca tulisan dari jejaring sosial orang.
Mengingat rasa takutku belakangan.
Diikuti cemas dan kebimbangan.

Biarkan sudah saja dan kembali seperti sedia kala.
Mari menepi mempersilahkan semua problema berlari.
Namun aku, dengan kepolosan dan nol pengetahuan.
Senantiasa menikmati setiap rasa yang sedang menginang dengan atau tanpa kupikirkan.
Namun aku, dengan rasa simpatikku pada kehidupan
Mulai merenung di depan jendela, memeluk tubuh erat, seakan akan ada angin kencang yang merebutkan sel-selku jadi santapan.

Dan aku, yang tak pernah punya guru,
Ah, aku memang terlalu perasa –sudah berapa kali kukata-
Aku, menangis di tengah subuh dan dhuha yang keduanya sama-sama belum ku lakoni.
Aku, kalut dengan perasaan yang kunikmati.
Bersiap melepas, namun ada rasa tidak tega karena aku mulai jatuh cinta.

Ya, aku mulai jatuh cinta dengan perasaan yang tak pernah luput kunikmati.
Layaknya semua rasa hati
Jatuh karena berani mendekati.
Dan aku, penikmat candu rasa, tak akan membiarkan ia berlalu tanpa kejelasan.
Tidak akan ada pisah, sampai ia benar-benar tuntas terlepas.
Terus ku genggang, hingga ia bosan menggandeng tangan.

My room. Jumat, 12-04-2013. 5:56
witen by @niahaji

perasa

on Rabu, 10 April 2013
Pernahkah kamu merasa—
Ah, sudahlah, barangkali aku yang terlalu perasa.

Namun benar, aku tak lagi dapat menahan, gelora untuk balas mengumpat, panggilan untuk tamparan—
Ah, sudahlah, aku memang terlalu perasa.

“Wah, enak sekali bisa bolos.” Kata seorang teman dari kejauhan-ia berjalan sambil menggumam. Sementara aku, ada amarah benci yang mengamuk ingin dilegakan.
Aku, yang duduk di bawah kanopi plastik berwarna hijau muda, menanti teman dekat lewat, tak lepas dari pikiran menampar pipinya di muka banyak mata.
Ya, memang akulah yang perasa.

Dan masih jadi tanya, jikalau membolos adalah hal menyenangkan, mengapa ia tidak lakukan? Toh, kita punya hak dan kesempatan yang sama, apa salahnya melakukan hal serupa?

Perkara besarnya..
Perkenalan kita berumur kemarin.
Lantas, mengapa ia berani menjudge tanpa meminta kejelasan dari bibirku?
Siapa ia? Tidakkah bisa menahan rasa karena kita sama-sama wanita?
Raba halus sensitifitas bisa menyakiti bahkan menimbulkan infeksi.

Barangkali aku perlu mengulas detail, tentang rasa yang banyak ku beri nama..
Barangkali aku harus bercerita, dengan gayaku yang pernah ia hina

My room. Rabu, 10-04-2013.
witen by @niahaji

END NOW



Pun, detik tepat di malam ini, aku masih mengiang tanyamu yang menohok sanubariku.
“Mengapa kamu meninggalkannya?” Seketika, amukanku meradang, sungguh. Namun, penuh jerih ku tahan.
“Memang kalian dari dulu akrab?” lanjutnya.
Dan sebelum tanya itu mengusikku, pernyataanmu,, ah, pertanyaanmu menggetarkan benci yang sama antara kau dan wanita itu dalam hatiku.
“Dulu kalian tidak dekat, bukan?” Pandangnya mengarah sinis padaku dan karib baru. “Kamu dan dialah justru yang kemana-mana bersama.”
Aku menatab karibku datar, dan sekedar lampu peringatan, agar tak ada kecurigian.
“Haha, haruskah aku mengajaknya bergabung bersama kami? Akan ada rasa tidak enak tentu. Dia punya cara hidupnya sendiri.” Jawabku. Sedikit memaksa untuk mencairkan suasana.
Demi Tuhan, cukup siang tadi saja. Jangan ada yang lagi bertanya. Serasa aku pengkhianat persahabatan.
Demi Tuhan, aku benci.     
Mengapa angkuh terlebih dulu mengumbar caci dari pada mendengarkan untuk mengerti?
Mengapa tuli memahami, sementara diri minta dihargai?
Mengapa menilai, tanpa acuh selami situasi?

Kamu tidak mengerti, betapa aku berusaha menyelami dunianya dua tahun belakangan.
Kamu tidak memahami, balas lakunya terhadap tingkahku yang sudi terus mendampingi.
Kamu tidak kenal situasi, jika mengataiku tak patuh kompromi.

Dia dekat saat aku di atas, pergi saat aku di bawah, tidak kenal jika ia rasa aku kampungan, menghinndar ketika aku butuh pengajaran.
Haruskah aku tetap mengimbangi sikapnya yang tak tahu balas budi?
Membuka diri ketika ia butuh, meratap sendiri di saat hati butuh ditemani?
“Mengapa kamu meninggalkannya?”
Ah, tanya itu. Sakitnya masih menganga.
Jika boleh aku balas menanya.
“Mengapa kamu tidak menanyaiku, “mengapa aku memilih pergi, ada sesuatu kah dalam dirinya yang menyakiti sensitifitasku?””.
Ya, aku mohon, tanyakan padaku. Bagiku, dia bukan orang yang paham bahasa rasa, yang peka jeritan jiwa.
Sudah, kamu dan dia cukup mengganggu rancu hidupku. Namun keberadaan mereka cukup pula menenangkan kegamangan. Terima kasih kalian J

My room. Selasa, 09-04-2013. 19:17
witen by @niahaji