mom...

on Senin, 23 November 2015
Ibu, semoga dirimu dalam keadaan sehat dan dirahmati.
Malam ini aku kepo facebook guru toelku, ibu, dan menemukan inspirasi bermakna dari sana.
Ia mengumpakan sukses adalah perjalanan. Yang berjalan duluan belum tentu sampai tujuan lebih awal dan dengan selamat. Jangan pernah hiraukan mereka yang jalan duluan. Siapkan saja segala sesuatunya yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan selama menempuh perjalanan. Karena hasil tidak selalu mengikuti logika manusia, tetapi ada keajaiban bagi siapa yang berproses paling baik.
Dan karena dalam sebuah perjalanan kita tidak bisa pergi ke banyak tempat dalam satu waktu, perlu disiapkan tujuan, rute, dan hal apa yang akan dilakukan disana, persiapan apa yang harus dibawa, dan lain sebagainya. Itu artinya kita tidak boleh serakah. Tetapkan tujuan dan melangkahlah dengan benar dan baik. 
Ibu, apakah setiap orang yang berkesempatan merasakan sekolah di luar negeri sepertimu? Jika menjadi sepertimu harus dilalui dengan studi luar negeri dan menjadi diri yang seperti itu, aku akan mengusahakannya. Untuk menjadi dirimu yang selalu menjadi mimpiku, masa depanku.
Karena guru toeflku bilang, "mimpi itu bayar, bayarnya dengan usaha, ketekunan, dan semangat pantang menyerah", aku akan membayarnya dengan lunas. Untuk menjadi dirimu yang selalu menjadi mimpiku, masa depanku.
Hiduplah dengan sehat dan panjang umur, karena aku tidak tahu akan bagaimana diriku jika aku tidak lagi dapat mengajakmu berbincang mengenai rasaku di tengah sibukmu ...
I love you, mom, my beloved mom.


witen by @niahaji
you are your self, not the other.. believe on yours, stay at your place, and keep moving on to balane your live..  written by @niahaji
on Rabu, 30 September 2015
sudah lama tidak menulis karena aku lupa sakitnya hati yang kecewa
witen by @niahaji

Telapak



Suatu senin yang suram dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Untukku sang pendendam, memaafkan merupakan kejadian tabu dan dramatis. Namun kali ini, kurasa aku harus memaafkan meski tidak lagi mengharapkan kelanggengan hubungan.

Rumit, sekelumit kisah yang mirip benang kusut. Mau dipotong, sayang. Mau dibenarkan, susah. Dan kisah ini, berawal dari egoisnya hatiku, barangkali, namun aku enggan mengakui. Berusaha memandang yang benar-benar benar, dan gagal. 

Bertanya mengapa toh tak akan menemu jawabnya. Berdialog dengan hati toh akhirnya menyayat perih pada luka. Berdiskusi dengan logika dan bertemu jawabnya namun akan meninggalkan dendam yang dalam.
Wahai telapak, lukamu seperih luka hatiku. Adakah kau tahu keputusan macam apa yang harus aku ambil? Meninggalkan orang yang melukaimu dan hatiku, atau memaafkan dengan menelan pahitnya amarah. Telapak, sakit, bukan? Ya, hatiku pun sesakit engkau.

Andai hari itu aku tidak meminta tolong dirinya, kejadian ini tak akan menimpa kita, telapak. Sayangnya andai tidak mampu mengalahkan fakta bukan, telapak? Dan, rupiah untuk memulihkanmu tidak akan pernah sebanding dengan foto itu. Aku menyesal, telapakku. Aku sungguh ingin menyudahi namun rasaku, rasa hatiku. Ah, seharusnya aku bukan wanita, seharusnya biarkan logika yang menuntut jalan karena ia semata yang dapat menjelaskan banyak tanya.
witen by @niahaji

skripsi-part 1

on Rabu, 13 Mei 2015

Oh, hidup. Harusnya detik ini sedang utakutik skripsi Tapi mendadak aku merasa begitu frustasi.
Sebenarnya, skripsi tidak seseram yang selama ini orang bicarakan kok. Bagiku, skripsi itu pemacu ; biar otak kita yang lama tertidur mampu berpikir lebih; membaca lebih, belajar lebih, dan puncak tertingginya adalah menuliskan pengetahuan yang kita punya.
Versi kemenyebalkan skripsi adalah teori yang ini sama itu berbeda. Nggak konsistem. Bahkan kadang dosen pun nggak konsisten juga. Kadang pakai teori ini, kadang teori itu. Bikin bingung kan ya, kalau mahasiswanya macam aku yang nggak pernah puas kalau belum tahu sampai ke akar.
Hal menyebalkan lainnya, versiku, adalah antre dosen pembimbing. Bayangkan aja, dari mulai judul sampai proposal jadi, butuh waktu dua minggu. Habis proposal jadi, kirim ke email dosen. Dua minggu kemudian, beliau baru kirim balik revisi proposalnya. Kalau yang bagian ini, aku nggak nyalahkan beliau sih, maklum beliau orang nomor satu se universitas kami kalau masalah penelitian-penelitian begini, jadi proyek-proyek penelitiaanya banyak. Dan prinsip beliau adalah kerja totalitas. Prinsip itu diterapkan juga dalam membimbing mahasiswa. Beliau nggak mau kalau baca proposal skripsis mahasiswa cuman kayak mbuka lembaran kertas aja. Huruf demi huruf dibaca ndee. Oke nggak to itu? Hmm...
Dulu waktu aku mau ngajuin judul, pertimbanganku berbelit dan masih ditanya yang sama “mau buat skripsi yang seperti apa”. Dan tanya itu nggak nemu-nemu sama jawabannya sampai lamaaa banget. Yang pada akhirnya suatu hari aku berani mengajukan mini proposal yang pantasnya diajukan oleh calon DOKTOR. Oh my... kadang kalau diinget akupun malu. Siapa aku?
Tapi semenjak hari itu, I’m motivated. Pembimbing akademikku megatakan, “good job, mbak nia. Kalau bisa realisasi bagus ini. Kebermanfaatannya luar biasa”.
Dan acclah mini proposal itu. Dengan dosen –dosen pembimbing yang bagiku luar biasa hebat. Nah, pas maju di dosen pembimbing, waawawaaaa, malah disuruh ganti judul karena judul itu too high for my capability. Sebenernya saat itu lega juga sih. Tapi pusing saat nyari judul lain; topik yang tentunya bukan cuman membandingkan pbl dan dl, mengetahui pengaruh x thd y. Mana mau dosenku yang satu ini nggarap skripsi macam begini. Salah satu temanku, yang judul skripsinya biasa aja dan dibimbing dosen ini, beliau bilang kalau skripsi temenku itu gak berkesan. Pdhal menurutku jauh lebih bagus skripsi temanku itu daripada punya yang lain. Yah, bisa dibayangin deh ya, beliau sesuperpower apa.  Aku banget lah di masa depan. Amin, ya Rabb.
Akhirnya judul baru ditemukan. Jangan dibayangin ya kalau si baru ini kualitasnya jauh di bawah si lama. Ini judul juga belum pernah ada sebelumnya. Aku nggak tau sih ya, kalau dibelahan dunia berantah sana sebenernya udah pernah dilakukan penelitian begini cuman aja belum di publish, tapi di belahan sebelas maret belum pernah ada yang macam ini. Dan AKU ORANG PERTAMA DI DUNIA SEBELAS MARET YANG PUNYA PENELITIAN BEGINI. Mulanya gamang juga sih, tapi dosenku bilang, “kalau nggak mau judul itu ya cari pembimbing lain. Saya nggak mau judul ecek-ecek. Nggak level.”
Mau nggak mau, oke ambil. Dan dalam ke otw an pembuatan, innalillahi. Oh mg, ya itu tadi, satu proses dari buat kirim revisi itu satu bulan. Mana si x dan y kadang punya teori yang beda lagi. Terus aku? Maaf ya bingung, aku macam orang yang susah puas sebelum suatu hal terpecahkan dengan benar; masuk logika dan enak dirasa. Jadi kalau nggak puas baca satu buku, aku selalu nguber buku lain yang setema.
Dan karena aku yang pertama, cinta,, akhirnya tidak banyak kecurangan yang bisa kulakukan untuk skripsiku, hahahhahaha. Iya kan, nggak usah munafik deh. Kamukamu pun pasti sukanya comotcomot dari internet maupun skripsi yang sebelumnya udah disusun. Ngaku aja nggak usah malu! Tapi maaf ya, karena skripsi begituan belum ada, aku nggak bisa berlaku seperti kalian. Putar otak utak atik sendiri. Baca buku, ambil intisari, baru tuliskan pakai bahasa sendiri; kecuali kutipan langsung.
dan, karena aku ambil penelitian dan pengembangan, proses  mengembangkan ini nih yang bikin tobat. Pengen ganti judul aja rasanya kalai mikir harus macam mana produk pengembanganku.
Ah, hidup memang pilihan. Dimuka sudah kutetapkan mau ambil skripsi yang berkualitas dengan dibimbing dosen berkualifikasi tinggi. Kalau akhirnya kesampaian ya nggak usah dibikin pusing karena nggak selesai-selesai. Tahu nggak, wika butuh manusia-manusia yang skripsinya orisinil dan high quality.
Dan satu lagi, buat apa sih lulus cepet? Biar dibilang keren gitu? Iya kalik. Fkip mah sekarang padet. Apalagi pendidikan akuntansi yang diklaim punya sks terbanyak se fkip. Saat orang-orang di luar prodi kami sudah mulai nyusun skripsi, kami,, full satu semester masih dalam pengabdian pada negeri. Dimulai dari kkn, ppl, dan yang terakhir magang. Memang beberapa dari kami saat ppl sudah lekas ajukan judul. Beberapa tok sih, yang sekolah ppl dan guru pamongnya tanggung jawab tinggi. Dulu, crita dikit tentang ppl. Aku itu sampai bingung mau ngerjain yang mana dulu saking semua tugas guru pamongku diserahkan ke aku. Padahal aku masih ada tangguangan kuliah juga. Dan karena anak rumahan, masih ada tangguan pekerjaan rumah juga. Dan, kesempatan nyusun skripsi pas ppl, GAGAL. Emang sih, pas akhir pekan aku sempet nyusun mini proposal. Tp nggak ada waktu buat ngajuin ke dosen. Belum lagi, aku masih mikir ribuan kali, bener nggak nih aku buat skripsi ini. Februari aku baru mulai maju judul dan sampai detik ini baru nyampai instrumen.  Kalau aku dibimbing dosen lain nih ya, kemungkinannnya :
1.      Aku udah selesai penelitian
2.      Skripsiku gak sebagus yang lagi tak buat sekarang, yang maha sempurna
3.      Kalau begitu, wika ku gimana?
So, i believe that wika is near from me. In front of my eyes. Because my research and development today, pick me up to wika J
Lakon menang keri, kan, jare.
Dan dosenku pun kalau tak sambati bab wisuda, baliau selalu bilang, “apa bagusnya lulus cepet skripsi awut-awutan? Kerja itu totalitas gitu hlo.” Oke, tak bawa sampai mati bu. TOTALITAS.

 writen by @niahaji

teruntuk kesayangan

on Sabtu, 18 April 2015


KITA SELAMANYA
Dan akan ku buat bukan sekedar janji belaka.

Kala aku tak punya apa-apa, kau datang membawa berjuta  asa, menawarkan cita, membagi cinta di tengah ribuan manusia yang tak punya rasa.
Mereka mengiming-imingi prestasi, jalan-jalan ke luar negeri, namun apa guna tanpa ada senyum bahagia yang tulus dari sahabat untuk merayakan buah dari kerja keras?

Ya, apa guna hidup tanpa hal-hal yang tak terbeli kecerdasan atau pun uang.
KAMUKAMUKAMU
Terima kasih telah sudi bersamaku. Bukan sekedar numpang lewat atau singgah sebentar, tetapi menetap di hati. Memberi tutorial mencipta obrol hangat dengan orang-orang yang sekedar lewat, mengajariku mengatur emosi, memahamkan cara menerima tetapan Sang Kuasa, Terima kasih.

Bersamamu, aku merasa punya segala, dan dengan bersama mari kita beli dunia beserta mulut-mulut yang merendahkan kita.

witen by @niahaji

when everything become more and more complicated

on Rabu, 08 April 2015
Jika jalan ini memang pilihanku, yang aku perlukan saat ini adalah melaluinya dengan emosi positif meskipun banyak energi gelap yang terus menerus mengusik emosi negatif untuk bangkit.
Tidak ada alasan untuk menyalahkan, atau merutuk orang karena keapesan.
Seandainya pun hari ini aku bukan siapa-siapa, pekerjaanku saat ini cukup mudah yaitu menjadikan diriku seseorang di masa depan
Ia memberikan kerajaan kepada siapa yang Ia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Ia kehendaki.
Imanilah!
witen by @niahaji

Sensitifku dan Angkuhmu

on Kamis, 04 Desember 2014


Haruskah kita hilang saat aku sedang menginginkan KITA selamanya?
Kita berada pada saling diam yang sama. Aku dengan sensitifitasku, dan kamu dengan angkuhmu.
Pertemanan yang kita bangun bertahun akhirnya rusak di satu hari dengan sebab yang konyol dan kekanakan sampai pada perang dingin berkepanjangan.
Berawal dari drama, namun kamu tak kunjung memahami kodeku.
Pada akhirnya, aku menunggumu dan kamu, mungkin, pun menungguku.

Dan aku tahu, dari kita sama-sama tidak akan ada yang memulai. Karena hati yang kujaga agar tidak disakiti ternyata harus hancur karena ulahmu yang kekanakan dan balasku yang konyol tak beralasan. Sementara angkuhmu, tak akan mendekati dan menyentuh hatiku yang terlanjur kau sakiti.

Apakah sebenarnya aku yang angkuh terhadapmu, sahabat? Tingkahkulah yang membuatmu memperlakukan aku seakan bukan siapa-siapamu di depan teman baruku? Karena aku merebut seseorang darimu? Kurangkah usahaku untuk menjadikanmu bagian dari kami? Merangkulmu setiap aku bisa, menyanya kabarmu selagi lenggang. Namun sahabat, bertanyalah pada dirimu apa balas terhadap usahaku?

Aku, ingin menjadi temanmu, seerat aku dengan mereka. Untuk itulah aku berusaha, namun sudah aku menyerah. Jika memang menyentuh hatimu membutuhkan energi yang luar biasa, aku tidak bisa karena akhlakku tidak mulia.
witen by @niahaji