Aku dan Mimpiku part 2

on Sabtu, 29 Juni 2019

Karena dari dulu modal hidupku itu cuma MIMPI. Ada yang menyata, ada yang entah apa kabarnya, ada yang ambu-ambunya bablas aja. Ya ndak apa wong namanya mimpi.

Banyak yang menyata atau yang tidak? Sepertinya banyak yang menyata.

Jadi, meskipun sekarang mimpiku (lagi-lagi) terdengar ketinggian dan tidak masuk akal, bodo amat! Aku percaya Allah Maha Kuasa dan semua sudah tertetap olehNya. Tinggal berusaha saja sekuat tenaga. Perkara hasil, Allah tidak pernah keliru dengan takaranNya.

Bos, anw, usahanya juga dilogika hlo. Sekiranya nggak mungkin mampu ya jangan dipaksa. Mimpinya aja yang jangan pakai logika. Wkwk.

Aku dan Mimpiku

Barusan ngobrol sama temen umbel via whatsapp. Dia bilang bahwa sejatinya tidak ada mimpi yang meninggalkan kita. Kitalah yang berhenti mengejarnya.

Lalu aku langsung ndusel-ndusel toodlerku yang lagi susah makan. Iya, benar. Aku meninggalkannya; mimpiku. Aku memilih makluk yang mendadak ada dalam hidupku daripada mimpi yang rapi kutulis entah sedari kapan.

Iya, benar. Awalnya susah sekali menerima kenyataan bahwa aku dinyatakan hamil dan tidak lolos seleksi administrasi beasiswa yang pradugaku karena hal sepele (tidak mengunggah surat keterangan sehat). Dua hal paling mengentekkan hati terjadi di tahun yang sama berjarak sebulan saja. Bagaimana rasa sensitifku? Ku misuh-misuh gaes mikir takdir yang mblereng. Ya Allah, ampunilah. Lol.

Ditambah kondisi ekonomi kami (aku dan suami) jauh dari kata stabil. Sepanjang kehidupan perhamilanku aku hanya bergulat dengan tanya pada diriku dan takdir masa depan, "Haruskah setelah jabang bayi ini lahir, aku meninggalkannya untuk mencarikan ia makan? Ibu macam apa aku. Sementara dalam list mimpi sepanjang rentetan gerbong Lodaya itu salah satunya adalah menjadi ibu yang stay di rumah menemani anak 24jam seharian? Haruskah semua list mimpi itu tak ada yang tercontreng? Iyakah semua silang? Omg hellooowww, hidup gue amblas gini dimana Engkau, Allah?".

Akhir tahun anakku lahir dan hidupku makin berasa berantakan. Ibarat piring, dibilang pecah saja tidak cukup. Remekmekmek sak emekemeknya laah pokoknya. Menggalau sejadinya-jadinya entah sampai anakku umur berapa baru aku bisa terbangun. Bahkan dalam bulan pertama ia hidup, aku masih berharap kelahirannya hanya mimpi. Iya, semacam berharap dia jangan ada padahal nyatanya dia sudah kutimang.

Mungkin 3 bulan setelah ia hidup, barulah aku benar-benar sadar.

Iya, meskipun masa sekarangku bukanlah masa depan yang diharapkan masa laluku; TAPI AKU BAHAGIA. Aku memiliki Kaisar dan mas Bely yang tak henti-hentinya membuatku tersenyum, yang membuatku banyak berdoa, yang mendekatkanku pada pemilik kami bertiga.

Terima kasih Allah telah menakdirkanku tidak lolos seleksi beasiswa. Terima kasih Allah telah menakdirkanku meteng dan berakhir momong. Aku sungguh bahagia menjadi ibu yang 24 jam ngurusi rumah. Sekalipun belajar sudah menjadi prioritas terakhir, tetap bisa to ra ketang sambil tikluk tikluk ngantuk. Sekalipun baca jurnal in english itu berakhir keturon, toh tetap kebaca to. Lagi pula ini belajar tanpa berujung ujian. Sebisanya aja, betul? Lol. Pembelaaan.

Bukan Sekedar Pindahan

on Sabtu, 12 Januari 2019
Setelah baca tulisanku tentang kepengenan jauhin anak dari lingkungan yang menurutku tidak sesuai dengan nilai baik dan benar versiku, suami komen "Nek koe pengen pindah omah, aku siap". Enggak sih, poinnya bukan sekedar pindahan omah menurutku.

Jauhin anak dari lingkungan yang nggak sesuai sama nilai kita bisa lewat sekolah, atau aktivitas luar rumah misal course atau ajak anak bisnisan apa gitu (yang terakhir ini mohon doa ya, moga segera realisasi, lancar, dan berkah rizkinya). Asal tiap hari pergi dari rumah, nggak ngendon aja di rumah.

Dulu lulus SD aku sekolah di SMP yang pada masanya, bagiku dan keluarga udah pride banget bisa sekolah disana. Secara, di kotaku aja belum ada jenis sekolah cem SMPku pada masa itu. Dan karena sekolahku full day, aku jadi nggak pernah maen bahkan ke rumah mbah tiku yang cuman 100m dari rumahku. Bagi ibuku kala itu, nilai dikeluarga besar kami tidak sesuai dengan nilai ibuku. Makanya ibuku jauhin aku dengan sekolah full day. Waktu itu aku baik-baik sajakah? Jelas tidak ya. Tidak sama sekali. Tapi pada akhirnya setelah aku dewasa, aku sebersyukur ini kok. Terima kasih, mama, bapak.

Jadi, misal pun nanti Kaisar harus banget sekolah di sekolah sekitar lingkungan kami, ya nggak pa-pa banget. Tapi habis sekolah, ambil course sampai malam. Akhir pekan kita pergi kemana gitu sekeluarga. Biar aja dikata nggak pernah srawung orang. Kenapa banget harus srawung kalau emang bagi kita nggak sesuai, nggak cocok aja gitu.

Sampai-sampai aku pernah dikatai temenku "Koe ki wong ndeso tapi kok ra ngetoki nek ndeso to". Bukan masalah fashion atau logat sih ini. Lebih ke mind set aja. Temenku merasa cara berpikirku luas gitu, dan seenggak peduli itu dengan nggak akrab sama tetangga. Bodo amat dah! Lol.

Bedeweh aku emang tinggal dilingkungan yang (sekarang ini hlo ya, moga nanti membaik dengan menjamurnya ilmu yang gampang diakses) tingkat pendidikan masyarakatnya masih rendah. Ilmu apapun ya, nggak cuman ilmu yang didapat dari sekolah tapi juga ilmu agama gitu-gitu. Tahu sendiri kan, kalau pendidikan rendah dampak buruknya kemana-mana. Aku agak malas untuk tulis takutnya nggak bisa rem emosiku. Nggak kondusif bangetlah untuk gedein anak kalau kataku. 

Karena Jadi Orang Tua itu BERAT

Ketika anak umur satu, suka ditontondengarkan dangdut dengan penyanyai aduhai yang joget-joget sambil mendesah manjah.
Kalau nonton dan dengar begituan sudah jadi kebiasaan, ketika sudah dewasa maunya lihat yang lebih aduhai.
Lebih dewasa lagi, ikut nonton kalau ada acara dangdutan. Iya, nonton live para mbak-mbak cantik itu berjoget tak pantas.
Makin gede, udah nggak sekedar nonton, tapi ikut joget-joget.
Lama-lama ikut joget aja nggak cukup. Sambil grepe-grepe para biduan juga.

Terus nanti endingnya kalau metengi anak orang kita bilang ke anak "BOCAH KOK NGISIN-NGISINI WONG TUO". Hai, wong tuo, siapa juga yang nggak bisa jaga anak? Dieling-eling lagi ya, pakde bude semua.

Kalau pun belum sampai tahap metengi anak orang, icip-icip seks bebas udah banget lah. Dan sebagai orang tua, antara tutup mata dan pura-pura bodoh atau membodohi diri dengan pembelaan irrasional bahwa anak kita itu suci, baik, nggak neko-neko. Nggak mungkin maen free sex. Lalu ketika semua fakta bahwa memang anak kita sudah bukan lagi perjaka, kita bilang ke mereka "NGATI-ATI NEK KARO WONG WEDOK. OJO NGISIN-NGISINKE WONG TUO".

In case anakku laki ya. Jadi aku gawe umpamanya ya untuk anak laki. Kalau anak perempuan paling ujungnya-karena role model dia biduan-biduan seksi-jadi doyan dandan seksi menarik hati. Kalau ada yang godain awalnya pakai marah-marah dulu. Nanti lama-lama digrepe-grepe bilangnya risih. Makin gede ya, udahlaaah. Habis aja. Bebas semua mau ngapain.

Kalau berakhir dengan hamil, sama, sebagai orang tua kita akan bilang "ANAK KOK NGISIN-NGISINI WONG TUO". Kalau belum sampai tahap hamil tapi kita udah membau ada pergerakan tidak wajar dalam pergaulannya, kita bilang "OJO NGISIN-NGISINI WONG TUO".

Semata aku curhat aja ya. Nggak maksud judge semua kakak-kakak penyanyi dangdut sama dengan perempuan nakal yang hobi aksi porno. Tetep lah yaa, dangdut itu musik tradisional Indonesia dan patut dilestarikan. Tapi kudulaah, ada value yang butuh dijaga. Ye kaaan.

Kalau kalian tinggal di desa pasti paham bener laaah sama yang aku tulis. Nggak tahu juga kenapa, orang desa sukanya nonton dan dengerin dangdut dengan penyanyi yang sensual itu. Anak dibawah umur pun udah ditontondengarkan juga. Sedih nggak sih lihat fenomena begituan? Kalau kamu jadi ibu, kiranya hal apa yang kamu lakukan ketika yang ditontondengarkan itu anakmu? Aku pernah hlo diposisi itu dan aku nggak bisa jaga anakku dari menonton dengar hal-hal yang seharusnya tidak dia saksikan. Semoga sekali itu aja wis, anakku nonton dengar begituan. Big emooooh kalau keulang.

Sebenarnya yang mau aku tekankan disini buibu pakbapak, betapa sejatinya kitalah yang menjerumuskan anak kita menjadi diri yang tidak benar entah dalam nilai apapun. Ketika anak sudah melenceng terlalu jauh dari nilai-nilai yang tertetapkan, kita marah-marah. Padahal kesalahan itu, kita yang mula-mula menanamnya.

Sering juga kita minta anak punya nilai baik dan benar sementara kita nggak pernah ajar dan contohkaan nilai-nilai baik dan benar itu. Kita sendiri pun tidak pernah berusaha punya nilai-nilai yang baik dan benar. Logis kan kalau anak nilainya nggak baik dan nggak benar, kitanya aja zonk.

Maunya punya anak hebat tapi kita sendiri nggak bisa kasih contoh biar jadi hebat itu gimana. Masih sering berharap kembali ketika memberi. Semacam menyayangi dengan ekspektasi gitu. Misal nih, kita berhasil sekolahin anak sampai jenjang tertentu terus anak kerja di tempat yang bagus dan gajinya gede. Sebagai orang tua, kita berharap dikasih jatah bulanan karena merasa berjasa atas capaian anak. Ya Allah buk, udah kewajiban banget ya untuk mengantarkan anak ke depan pintu suksesnya.

Serius hlo. Buanyak orang tua cem gene. Mereka memberi dengan harapan kembali. Baru tahu anak penghasilannya gede aja udah minta neko-neko. Nggak pa-pa banget ya, kasih duit atau apapun ke orang tua. Bahkan tiap bulan kasih sesuatu itu nggak pa-pa banget. Tapi jadi orang tua hendaknya tahu diri lah yaaa. Apalagi kalau anak kita laki (ngingetin diri aja sih). Mereka ngopeni anak istri hloo. Barangkali sebelum mencapai gaji yang besar, mereka pernah terseok-seok bahkan jatuh dalam hutang yang nggak sedikit. Jadi ketika terima gaji besar, sebagian gaji digunakan untuk cicil hutang. Kalau ibuku mengibaratkan padi, baru mulai bertumbuh aja udah dicabut.

Ini kenapa sih kok bahasnya sampai sana. Intermezo sambil tjurhat dikit boleh dong ya. Hlooooooh. Lol lol lol lol.

Balek lagi ke nilai, ah. Keterusan curhat jadi blak-blakan nanti kasih contohnya. Hlohlohlol piye sih. Pengalaman pribadi hlo ini bedeweh. Jujur! Wkwk

Kalau kamu nggak jamin anakmu bakal tumbuh dengan nilai-nilai yang baik disuatu lingkungan, tinggalkan lingkungan itu. Kalau dinyinyir gimana? Kalau lingkungan yang harus ditinggalkan itu masih keluarga gimana?

BODO AMAT!!!

Kamu mau menanggung beratnya nilai buruk yang akan tertanam dalam diri anakmu? Masih mengutamakan pekewuh, ya tanggung sendiri aja kalau anakmu tidak tumbuh sebagai pribadi yang sesuai nilaimu. Jangan salahkan anakmu.

Inget ya semua, nggak ada anak yang salah di dunia ini. Adanya orang tua yang nggak bisa gedein anak dengan benar. Orang tua yang nggak bisa kasih ajar dan contoh nilai-nilai yang baik dan benar.

Iya, jadi orang tua nggak semain-main itu. Ada banyak hal yang harus kita jaga tentang anak kita; perasaannya, dirinya, pikirannya. Malulah pada Allah kalau tidak bisa nggedein anak dengan baik dan benar, bukan pada manusia.

Ps: nanti kalau kamu sudah besar dan kamu baca tulisan ini dan kamu merasa bahwa mama belum bisa ajarkan kamu nilai-nilai yang baik dan benar, maafkan mama ya nang. *dan-nya banyak amat sih lol*

GTMnya Kaisar dan sedikit tentang MPASI

on Minggu, 06 Januari 2019
Dibahas oleh bukan expert ya. Sebatas yang aku tahu aja dan kalau tentang GTM, pure pengalamanku. Satu case, mean casenya Kaisar, nggak bisa dicompare sama case lain.

Ngomong-ngomong, aku mau ngeluh dikit boleh ya. Hari ini kok aku capek buangggweeeet ya. Berasa lebih capek aja dari pada kemaren kemaren dan kemarennya. Mungkin karena momongnya kurang Lillah. Ampunilah ya Allah.

Oke lanjut GTM yang pernah kejadian sama Kaisar. Awal MPASI maemnya lancar. Tapi baru seminggu maem mungkin, udah mulai menunjukkam gejala malas makan. MPASI pertamanya Kaisar itu menu tunggal, btw. Dan murni row material semua tanpa gulgar dan bumbu aromatik. Semenjak dia susah mangap, aku kepikiran untuk kasih bumbu aromatik dan langsung empat bintang. Alhamdulillah mau mangap lagi. Tapi lama-lama aku merasa kok ada yang nggak bener ya dalam perMPASIan ini.

Alhamdulillah aku ketemu sama ig yang bener-bener faedah dan helpful gitu. Akun ignya @metahanindita. Follow yaaa, insya Allah cocok lol. Dokter cerdas nan cantik ini membeberkan fakta perMPASIan via insta story disertai bukti ilmiah yang kredibel. No doubt lah untuk percaya.

Dan benar sodara, aku salah. Salah dalam hal penggunaan gulgar dan ketidaktahuanku tentang takaran per sekali makan. Ternyata penggunaan gulgar untuk MPASI awal itu dibolehkan hlo. Dan per sekali makan, bayi harusnya mampu makan sebanyak takaran yang ditentukan.

Setelah menambahkan gulgar dalam menu MPASI Kaisar, maemnya mulai lahap. Tapi tetap tidak sebanyak yang harusnya ditentukan. Akhirnya aku coba kasih makanan instan (makanan terfortifikasi). Hlah boleh to? Boleh kok. Boleh banget, legal, halal, dan malah menyelamatkan kalau memang urgensi tinggi dalam case tertentu seperti Kaisar ini misal. Baca-baca aja di hilight insta storynya dokter meta.

Lama-lama, makanan terfortifikasi pun Kaisar emoh, pemersah. Sekitaran usia 8 bulan kalau nggak salah. Akhirnya aku menyerah dengan MPASI. Ku kasih aja bubur-bubur beli gitu. Tapi itu nggak lama. Beberapa minggu doang, Kaisar nggak mau mangap lagi makan bubur-bubur beli itu.

Sekitar usia 10 akhirnya aku memutuskan kasih makan Kaisar ala kadarnya aja. Makan apapun makanan yang aku makan nggak peduli sama tekstur juga. Alhamdulillah malah mangapnya lancar lol. Berat badan aman juga. Makin kesini aku makin teledor. Kasih makan bener-bener sembarangan.

Akhirnya umur 12 dia sakit. Habis itu mulai observ habis-habisan dan rajin masak nggak kasih kendor. Kadang males juga deng wkwk. Maaf ya nang.

Ternyata GTM Kaisar selama ini karena dia bosen sama makanan yang dia makan. Akunya kurang variatif dalam kasih makan. Dan beberapa rasa, dia ada yang nggak suka, misal manis. Dia lebih suka agak pedes merica gitu ketimbang rasa manis.
Kaisar juga gak gitu suka kalau makan nasi sama sayur berkuah digabung. Jadi makan nasi dulu sama prohe prona. Habis itu baru makan sayur berkuah.
Kaisar sukanya nasi anget. Kalau nasinya udah dingin, lepeh.
Dan, dia gemar micin. Dia mau makan sama kuah kalau lauknya bakso yang beli di babang tukang bakso. Hlah, micin boleh dikasih ke bayik? Boleh koo, baca-baca aja ignya dokter Meta. Tapi tetep sih, aku bilang ke babang tukang baksonya kalau kasih micinnya dikit aja. Kadang juga suka minta nggak usah kasih micin. Nanti di rumah aku kasih sendiri beberapa biji. Atau kalau nggak bilang nggak usah kasih micin, di rumah kuahnya kutambahin aer. Biar jadi banyak juga kaaan lol.

Ngomongin MPASI nggak lepas dari ngomongin pup juga kaan. Dulu, sebelum umur 12, pupnya luancar. Hampir tiap bangun pagi pup dan ngedennya biasa aja, normal. Masuk umur 12 sampai sekarang ngedennya suka horor. Pernah lima hari baru pup. Dan aku nggak treathmen khusus, bodohnya itu. Harusnya kupijat ILU kan yaa. Eh, ini akunya teledor banget. Semenjak dia sakit di umur 12, kalau udah 2 hari nggak pup, malam hari waktu dia tidur kupijat ILU sambil berdoa moga pup lancar. Dan ngefek sih pijat ILU ini kalau di Kaisar. Tapi tetep, kadang ngedennya suka horor.

Aku kadang berpikir untuk turun tekstur. Tapi kenapa harus turun tekstur kalau di tekstur yang sekarang dia nggak GTM. Galaunya ya masalah pupnya. Padahal minum air putihnya buanyak kenapa masih susah pup ya. Sementara ini dugaanku karena dia jarang makan buah macam buah naga gitu. Dia nggak doyan entah kenapa. Pisang sama pepaya juga jarang. Pisang masih mau sih. Kalau pepaya dia nggak doyan juga. Mungkin aku perlu lebih rajin dan kerja keras biar dia doyan sama buah-buahan. Jujur ya, aku kurang kerja keras dibagian kasih buah sama sayur selama ini.

Sekali lagi, semua itu semata sharing pengalamanku dan aku nggak punya DSA khusus karena Kaisar nggak imun sesuai anjuran IDAI ya. Nggak ada duitnya lol. Imunnya sesuai buku pinknya Kemenkes (KMS) ajah. Jadi aku nggak pernah konsul sama expert masalah MPASI. Kalau kalian ada yang punya case samaan tentang MPASI (apalagi mengenai pup yang sering susah itu) dan udah konsul ke dokter, aku mau dong dikasih bocoran saran-sarannyaa. Wkwk. Moga anak-anak kita selalu sehat, bahagia, lancar semua-muanya, dan anaknya salih salihat ya buibu. 

Alaala blogger kenamaan-Resolusi NiaHaji, irrasionalGIRL, 2019

Panjang amat yah judulnya. Biar deh. Emang harus gitu kok. Sepanjang daftar resolusi 2019ku. Iya, sepanjang itu. Salah satunya adalah nulis di blog seminggu 2x hari rabu dan sabtu. Tapi kok ternyata kemarin udah rabu dan aku belum nulis. Mundur sehari dimklumi lah yaa. Ibu satu anak tanpa nanny kok yoo. Lol lol lol.

Telat sih ya kalau ngomongin tentang resolusi. 2019 udah mulai jalan 3 hari, mosok baru nulis resolusi. Gak papa sih telat menurutku daripada tidak. Telat-telat juga baru 3 hari. Pembelaan banget, ah. Wahahaha.

Oke, jadi insya Allah aku mau menyiksa diriku keras-keras biar bisa taat sama rupa-rupa resolusi yang udah aku tulis. Doain ya moga bisa konsisten. Karena sepengalan 25 almost 26 tahunku, yang paling susah untuk aku afford adalah KONSISTEN. Sepele kan. Iya, semalas itu aku. Ibu macam sih. Cuuuh banget!!

Berharapnya juga blogku ini membawa faedah gitu ya seiring dengan (berharapnya) kerajinanku menulis. Rencana aku mau mendedikasikan blog ini untuk tjurhatan seputar rumah tangga sih; tentang ibu yang full di rumah bersama anak dan seabrek kerjaan rumah yang gitu-gitu mulu tapi entah gimana kisahnya kok berasa nggak pernah selesai lol.

Selamat menempuh hidup lebih baik semuaaa. Selamat 2019. Yang kemarin belum sempet nulis atau belum kepikiran nulis resolusi, ayo tulis aja sekarang. Cus yaaa. Yang nggak paham apa itu resolusi (aku juga termasuk sih), tulis aja apa yang kalian ingin afford di tahun, apa mimpi kalian, apa hal yang ingin kalian tekuni. Sesepele itu aja. Cus sana tulis. 

Nyinyiran Subuh Hari

on Jumat, 30 November 2018
Aku heran sama medsos yang melulu meributkan ibu pekerja dan ibu di rumah; sama-sama bagus, nggak ada jeleknya, lallalala. Kok menurutku mereka ngomongnya ngawur gitu ya. Padahal jelas hlo, di al-qur'an tertulis kalau wanita lagi menyusui, ada baiknya untuk fokus menyusui. Biar suami yang cari duit kalau memang mampu. Kalau nggak mampu, ya nggak paap wanitanya ikut bantu cari duit. Ada keringanan untuk mereka.

Nah, ini sayang bgt. Nggak tau orang sekarang mikirnya pakai dasar apa. Mereka kerja untuk aktualisasi diri. Ya monggo yang berpikiran demikian. Aku sih, masih memercayai tentang dongeng ibu yahudi jaman SMA dulu ya. Cuman kalau dipikir lagi masuk akal juga kenapa ibu yahudi memilih membuang semua hasrat aktualisasi diri itu ketika masa menyusui anaknya. Sesuai amanat qur'an.

Belum lagi tentang me time atau quality time sama suami. Anak tinggal di rumah dijagain orang lain. Pernah terpikir nggak sih, kalau anak pasti kangen berat sama ibunya. Secara hlo, sembilam bulan sama-sama terus. Habis diia keluar dari perut, masa malah sering ditinggal. Kalau dia bisa mengungkapkan perasaannya, mngkin dia akan bilang kalau nggak mau pisah sama ibu barang sedetik pun. Sama-sama terus kayak dulu masih di perut. Herannya juga, kok orang sekarang nitipin anak enteng aja. Asal ada ASIP, selesai perkara. Tinggal JJS bentar nggak papa lah, asal waras. Wehladalah. Bolehlah me time, anak tinggal di rumah. Cuman ya nggak tiap hari juga keles. Tur ya kalau bisa diusahain yang jaga anak tetep bapaknya, bukan embahnya apalagi pengasuh. Toh, bukannya kalau anak masih new born kitanya keluar rumah buat beli sayur gitu aja udah adem ayem ya di ati. Nggak perlu ngemol berjam-jam dan anak ditinggal gitu aja.

Masalah qtime sama suami. Toh, bisa kaan pas malem waktu anak tidur. Di kamar sambil kelonin anak juga bisa kan, nggak perlu leha-leha duduk sambil jajan di kedai kopi.

Entaran kalau menurut keyakinan dan kepercayaan anak udah boleh diajak pergi, baru jalan-jalan sekeluarga. Qtime sama anak juga. Kenapa banget harus pnya waktu qtime sama suami dan ninggalin anak? Sadarlah mak, palingan nanti dia kelas 2 SD udah nggak mau jalan sama kamu, udah nggak butuh kamu blas. Nikmati masa itu. Ngomong ke diri sendiri sih, ini wkwk.

Bukannya aku nggak ada yang dititipin Kaisar ya, jadi aku cuap-cuap gini. Ada mbah tiku ada ibuku yang alus banget dalam urus bayi. Tapi sedari Kaisar kecil, aku emang nggak minat nitipin, sih. Mending ajak aja kemanapun aku pergi. Bisa nen langsung terus. Lagian kalau anak masih piyik gitu, payudara juga suka sakit kalau dalam berapa jam enggak dinenenin. Aku nggak perah sih, ya. Mngkin yang perah pada nggak ngrasain sakit karena toh jalan-jalan tetep sambil pumping, yee kaan? (Nggak masuk nalarku blas ibu-ibu model gini. Menyusui cuy, mengasihi, dan nggak sebercanda itu).

Jadi, aku nyinyirin ibu bekerja sama ibu yang suka wara wiri ninggal anak, nih? Iya, aku lagi nyinyir BANGET ini. Aku nyinyir ibu yang nekat kerja padahal suami mereka duitnya banyak dan kerjaannya bagus. Cukup banget kalau cuman mau makan tiap hari, nabung, inves, dan dana darurat. Nggak kurang pokoknya. Tapi istrinya nekat kerja karena aktualisasi.

"Hlo, entar nggak ada dokter wanita, njut piye no?" Wahai bu, nyusui berapa lama sih. Dua taon aja, kan. Golden age anak sampai umur tiga. Palingan kamu ngendon di rumah tiga taon doang. Sesusah itu? Aktualisasi diri bisa ngapain aja, kok. Planning masa depan anak, planning masa depan keluarga, ajarin anak banyak hal ke anak, nulis, dll. Ya, nggak? Atau mungkin muroja'ah hafalan qur'an yg sempat terlupakan lol.

Yakinlah, kalaau kamu pinter, kapanpun dan dimanapum akan tetep kelihatan pinter. Tetap banyak wawasan. Tetap bisa kerjain soal matematika wkwk. Iya hloh, aku serius. Analisismu juga masih tajam. Asal sering-sering aja gunain otakmu. Bukan mentang-mentang nganggur jadi nggak belajar sama sekali. Ingatlah bahwa jadi ibu itu belajar seumur hidup dan kamu harus memampukan dirimu untuk ditempa kehidupan sekeras apapun.

Tapi, kamu yang bekerja karena memang harus. Semangat yaa. Allah kasih keringanan, kok. Pakai aja keringanan itu. Kalian hebat dan Allah sayang kalian. Insya Allah anak-anak kalian adalah orang baik yang suayaaang sekali sama ibunya.

Jadi, kalian yang kerja cuma buat seneng-seneng doang, aku Bu Ainun garis keras lol. Bukkannya aku benci, cuman aku aware kalian. Apalagi kalau kalian muslim dan Allah nomor satu. Maka, kembalilah.

written by @niahaji

Dongeng Tentang Yahudi Jaman SMAku

Ustadku selalu cerita tentang orang-orang yahudi nggak peduli itu jam pelajaran atau jam kosong atau jam istirahat. Dan sesungguhnya cerita itu selalu diulang lol. Gitu-gituuu terus aja.

Beberapa hal yang membekas banget dan akhirnya aku berkeras pada diriku untuk tidak boleh kalah sama mereka (yahudi) antara lainberikut ini. Bagiku hebat aja, gitu. Makanya aku benar-benar emoh kalah dan kekeh pengen menyamai.

1. Orang-orang yahudi sangat cinta pada kitab mereka. Kemanapun mereka pergi, selalu bawa kitab. Aku ikutin banget ini. Tapi tau nggak, ternyata nggak gampang hlo. Sering ketinggalan wkwk. Sampai kuliah semester berapa ya, masih suka bawa al-qur'an kemanapun. Tapi sekarang udah enggak sih. Soalnya bawa pun nggak bisa baca, yee kan. Ada ucil tooh. Jadi qur'an sekarang di hp aja. Praktis.

2. Seklipun bukan muslim, orang-orang yahudi banyak yang menjadi penghafal qur'an. Nah, ini challenge banget buatku. Aku jadi ngapalin qur'an kek orang kesetanan. SMP tiga tahun aja nggak sanggup hafalan qur'an meskipun cumam satu juz, banyak lupanya gitu. Eh, waktu SMA ini aku berkeras deh, pokoknya harus hafalan qur'an banyak-banyak. Nggak taunya kok bisa. Alhamdulillah. Ya, walaupun sekarang lupa seh. Masya Allah 😭😭.

3. Sewaktu hamil, para wanita yahudi belajar matematika, fisika, musik, dkk yang bisa merangsang otak si janin yang dikandung. Nener deh, aku agak gila disini. Aku berkeras sama diriku jg untuk belajar ilmu-ilmu itu (kecuali musik sih ya wkwk-akunya gk suka). Sering minta pinjemin buku mat-fis di sekolah adek. Belajar nalar gitu deh pokoknya. Harapannya sesederhana, aku pengen anakku pinter kaya anak ibu-ibu yahudi itu.

4. Semua zionis pasti pemimpi. Apa yang mereka capai saat ini, dulunya suka diketawain orang; dibilang nggak waras lalala, nyinyiran tiada henti pokoknya. Tapi nyatanya semua tawa orang itu terbungkam oleh keberhasilan yg mereka capai. Toh, mimpi nggak bayar kaan, gratis, hak segala insan. Kenapa harus takut bermimpi?
Sayangnya,satu ini yg sama sekali nggak bisa aku tanamin dalam hidupku kala itu. Aku takut bermimpi lol. Aku takut gagal. Aku takut diketawain orang. Jadilah hidupku ya gini-gini aja wkwk.

Sejujurnya menurutku inilah basic pembentuk diri. MIMPI. Kalau kamu masih SMA, aku saranin kamu untuk bermimpi setinggi-tingginya. Kamu punya mimpi pengen jadi astronot, kerjanya di NASA, kuliahnya di UCL, dibiayai negara? Boleh banget!!! Pajang itu mimpi di dinding kamar. Percayalah pasti menyata. Coba aja kalau nggak percaya.

Iya, narasi di atas adalah mimpiku sewaktu kelas satu SMA. Tapi akunya cemen. Pengen jadi astronot, malah ambil jurusan IPS 😂😂😂. Ya karena nggak se-struggle itu sama mimpiku. Setakut itu nggak bisa raih. Padahal nyoba aja belum. Eh, udah mundur. Jangan ditiru yaaa. Jadi, wahai kamu, aku bicara dari lubuk hatiku yang paling tulus, menasihatimu mengenai suatu hal yang paling tidak aku percayai di masa remajaku dulu; BERMIMPILAH!

written by @niahaji

Menjadi Orang Tua (2)

on Jumat, 16 November 2018
Beberapa waktu kemarin, belum lama ini sih, aku bertemu temanku dan kami berbincang tentang interviunya menjadi dosen di sebuah Sekolah Tinggi di Ponorogo sana.

"Akutu sampai heran, kok bapake bisa tahu semua hal tentang hidupku. Bahkan bapake ki tahu tentang bapakku hlo".

"Hla emang bapakmu kenapa e?"

"Bapakku ki nggak pernah bisa menghargai usahaku gitu hlo be. Contohnya aja yang paling deket ini ya. Kemarin aku cumlaude kaan. IPKku itu 3,84. Bapakku masih aja bilang "katanya kamu pinter. Kok IPKnya nggak 4 sih". Bayangno be, piye perasaanku?"

Iya, temenku itu puinter banget. Nggak tau ya, bagiku dia ensiklopedi berjalan. Dan kreatif super. Ide-idenya keren banget gilaaak super pokoknya, nggak pakai KW. Masih aja ya bapaknya nggak mengakui.

Kalau kalian jadi bapak, jangan begini yaa. Seandainya aja, bapak temenku ini kasih pengakuan terhadap apa-apa yang udah dicapai temenku, aku yakin kok, dia kemarin diwisuda di Durham, nggak cuman kampus sebelah itu.

Ada lagi temenku. Dia nggak yang anak menonjol gitu jaman sekolah dulu. Eh, tahunya dia bawa kabar gembira dapet beasiswa ke luar negeri. Ternyata karena apa? Karena bapak ibunya mendukuuung banget segala rupa tentang mimpi anaknya. Bapak ibunya nggak malu sama cibiran orang tentang anaknya yang gak lekas kerja selesainya Strata Satu. Bapak ibunya selalu support dan menyakinkan kalau dia hebat, dia pasti bisa kejar dan raih apa yang dia mau.

Great kan. Tau kan bedanya. Ya gitu itu.

Menjadi Orang Tua

Kenapa ya, banyak banget dipikiran kepengen diungkapkan tapi kemalasan melulu mendera. Hrr kan yaaa.

Kalau lagi masak aja ide mengalir sederas sungai musim penghujan. Giliran di depan HP, eh mlempem kayak kerupuk tiga hari.

What's happen ya?

Tentang diriku yang jadi ibu dan blas nggak berdaya. Mau rajin blogging, eh males. Jualan online enggak yang laku tiap hari. Anak juga nggak tumbuh hebat kaya anak-anak selebgram yang no gadget lah, yang 10 bulan udah bisa jalan lah, yg motorik halusnya baguslah, BYE itu semua.

Apa salahku oh apa?

Sebenarnya akutu hobi nulis bahkan sebelum tahu dunia hlo. Iya, dari kecil aku main sama anak-anak desa yang kami semua sama; sama-sama nggak spesial. Ada sih, kadang banget tapi, main sama sepupuku rumahnya kota. Dan bagiku, dulu, dia itu dewi. Secara kita sama-sama kelas 1 SD, dia bisa baca apa aja tulisan reklame pinggir jalan, fasih ngomong bahasa indonesianya, matematikanya juga jago. Aku mah apa. Baru hafal abjad aja kali waktu kelas 1. Bodo banget ya.

Tapi anehnya aku hobi banget nulis diary, kadang juga sok-sokan buat puisi ala-ala gitu. Kelas berapa ya. Empat, lima, enam? Lupa. Pokoknya sebelum SMP. Sebelum tahu kalau dunia itu #keraslur.

Nah, setelah masuk SMP hidupku berubah drastis. Ternyata di dunia ini banyak dewi yaa. Bukan sepupuku seorang lol. Sekolahku islam nasional gitu jadi kelas murid cewek cowok dipisah. Jangan bilang gap gender lalala ya. Males aku nanggepinnya wahaha. Maap songong.

Nah, lagi, kenapa temen-temenku pada pinter semua. Pada nggak lupa kerjakan PR. Pada pakai tas dan sepatu yang bagus-bagus. Pada dijemput pakai mobil mewah. Bagiku serba WAW gitu aja, dulu itu.

Pernah, aku dihukum suruh minta tanda tangan ke ketua RT tempat sekolahku berlokasi. Pelajaran sejarah waktu itu. Dan aku, anak desa, nggak punya pengalaman babar blas, takuuuuut banget kala itu. Rasanya pengen kencing berdiri gitu. Akhirnya sih hukumannya diperingan dengan minta tanda tangan kepala sekolah DOANG. Yang bagiku, anak desa ini, masuk kategori horor juga.

Tapi aku berterima kasih sama guru itu. Berkat hukuman beliau kepada anak dari SD desa yang gurunya aja sering lupa kalau kasih PR, aku jadi berasa bijak gitu jadi guru. Tanya dulu, cari tahu dulu. Jangan judge apapun pada murid! Mereka berasal dari daerah yang berbeda, dari tipe orang tua yang beragam. Iya, barang kali ada sesuatu dalam diri mereka yang butuh bantuan penyelesaian. Kalau orang tua tak mampu apa-apa, siapa yang bisa diandalkan seorang anak kalau bukan gurunya? Tapi, karena tidak semua guru bisa diandalkan, maka aku bertekad untuk jadi orang tua yang mampu membesarkan Kaisarku dengan baik. Iya, soalnya akutu masih berprinsip bahwa buruknya anak itu karena buruknya orang tua membesarkan. Jadi, jangan sampai aku buruk kalau nggak mau anakku buruk. Logis to?

Ada juga guru baik hati sih. Jadi waktu itu pelajaran bahasa arab. Aku yang dari SD desa ini tahunya cuma ana. Eh, hla ini ndilalah apes banget aku dapet zonk ditebaki apa gitu ya. Lupa aku. Udah dijelasin panjang lebar sebenernya, cuman aku dulu tu bodo banget. Nggak paham-paham kalau dijelasin. Dan nggak berani nanya juga. Ya udah deh aku plonga plongo. Untung gurunya baik banget. Beliau paham, nanya aku dari SD mana. Tahu aku dari SD yang namanya aja asing bagi telinga beliau, yawis, beliau stop nggak nanya-nanya lagi dan ulang penjelasan. Tapi mon maap ya, masih, aku belum paham lol.

Iya, temen-temen SMP ku itu sungguh dewi, ciyus. Kalau bikin majalah dinding gitu kreatif banget. Nggak eman buang-buang duit buat beli ini itu asal madingnya bagus. Bagiku mah, duit mending buat naek jaya putra 😂. Dan mayoritas mereka ambil course atau kalau enggak ya mereka tahu kemampuan mereka dimana. Ada yang hobi gambar, ada yang hobi nulis, ada yang puinteeer banget karena hobinya belajar, ada yang hobi beli buku. Bisa dbilang kesemuanya itu semacam tindak reflek seperti kalau aku pergi ke sekolah naik bus, gitu. Paham nggak sih? Kalau dari pengamatanku sih emang karena mereka tinggal di kota dan orang tua mereka berada untuk memfasilitasi segala rupa.

Dan, hobi-hobi atau cita-cita mereka itu (mayoritas) menyata hloh. Heran juga aku. Kok bisa yaaa. Aku aja yang hobi nulis sedari bahula masih segini-gini aja nggak ada penambahan dalam bentuk apapun. Padahal punya blog sudah dari 2012, postingan mayan banyak, tapi tetep aja nggak terkenal lol.

Beberapa tahun kemudian setelah aku lulus SMP, baru aku tahu rahasianya. Mereka, selain terfasilitasi secara finansial, dibawa sama orang tua ke psikolog atau dokter gitu sewaktu masih kecil buat tes intelejensi. Dan lagi, orang tua mereka tahuuu banget dan pahaam ilmu parenting gimana nggedein anak dengan baik dan benar. Jadi yawis, pokoknya bye aja sama semua masa lalu yang memang aku serba ketinggalan itu.

Bagi kalian, yang tinggalnya di desa, yang pengen anaknya hebat, yang terbatas dalam segala hal, aku pesen ya. Dari pengalamanku, apapun boleh terbatas asal jangan batasi dirimu belajar dan bergaul sama siapapun. Kamu boleh nggak punya apa-apa, tapi punyalah ilmu biar ketok smart gitu. Biar nyambung kalau ngobrol sama kelas berbeda. Demi apa? Demi nggedein anak sehebat mereka yang nggak berbatasan. Demi anak-anak kita nggak tertinggal dalam segala hal.
Dan, satu terpenting. Kalau mampu, HIJRAHLAH! Ke tempat yang memampukanmu membesarkan anak-anakmu dengan baik dan benar. Punya skill, punya ilmu, punya value yang baik, dan iman yang kuat. Anak itu nggak butuh apa-apa, selain orang tua mereka. Orang tua yang mampu mendorong mereka menjadi apapun yang mereka mau; tanpa membandingkan, tanpa mencela kesalahan, dan mengimani dengan hati bahwa anaknya memang berbakat dan akan menjadi orang besar.

on Sabtu, 10 November 2018
Pernah terpikir nggak sih, kita nggak mampu mengkonsep sesuatu karena memang kita nggak punya ilmu. Mikir !!!!

Akad dan Walimatul 'Urusy-ku

Kok akhirnya aku nikah? Katanya NANTI.

Iya harusnya nanti banget. Nikah mah kataku nggak sekedar siap diumur atau siap harta atau siap jasmana rohani. Tapi siap iman jon. Kalau imanmu masih ya gitu2 aja, perbaiki dulu saranku. Pankapan bahas ya.

Jadi aku nikah itu karena adikku sudah ditembung. Bapakku nggak mau anak bungsunya kelangkahan. Tapi memang sebelum adikku ditembung, orang tuaku dan orang tua suamiku sudah berencana untuk ketemu bahas nantinya kapan kami mau nikah. Bukan tembungan hlo ya tapi.

Long story short akhirnya ya udalah aku ngalah sama kekeh pendirian bapakku. Kasihan juga adikku kalau nggak jadi nikah gara-gara aku. Jahat banget aku jadi kakak.

Aku akad satu minggu lebih awal dari adikku. Resepsinya yang bareng. Bukan resepsi sih. Walimatul 'urusy lebih tepatnya. Benar-benar seperti yang dituntunkan Rasul dalam agama kami, Islam. Undangan untuk makan, bukan undangan untuk nyumbang lol. Jadi orang tuaku murni adakan walimahan anaknya tanpa dukungan dana dari orang lain bahkan sanak saudara dekat. Sejujurnya meja kado aja nggak disediakan hlo di pernikahanku lol. Karena ya memang se-enggak mau itu disumbang. Tapi aku sama adikku tetep nekat sih, terima kado sama amplop dari teman2 kami. Kalau dari tetangga desa atau sanak saudara, tolak!

Bahkan transport untuk tetangga desa untuk ke tempat nikahan disediakan sama orang tuaku. Benar-benar nggak mau menyusahkan orang2 yang diundang, gitu. Dan tamu undangan pun nggak dipilih-pilih. Karena kapasitas gedung cuman bisa nampung 700 orang jadi nggak bisa banyak yang diundang. Tamu undangan cuman tetangga desa bahkan teman-teman usaha bapak ibuku, teman sekolah mereka, teman ngaji ibuku, nggak ada yang diundang. Sampai2 ada ibu2 teman ibuku yang datang ke rumah bawa amplop (lol) bilang gini "lah hla aku kepotangan mbak nunuk telu gek akah-akeh lekku nyaur piye".

Kecewa yang bagian kapasitas gedung ini sejujurnya. Soalnya ibuku dulu ngiranya tempat walimahan kami punyanya umat muslim dan uang sewanya buat bantu dakwah. Eh, ternyata. Ya nggak papa sih nggak terlalu jauh juga dari rumah dari pada gedung kapasitas banyak si solo utara sana.

Dan yang paling penting adalah insya Allah keluargaku tidak mengangkat diluar kemampuan. Mampunya bikin perayaan pernikahan anaknya tanpa bantuan dana dari siapapun segitu doang, ya udah segitu aja gede pestanya. Nggak diada-adakan, nggak berharap pengeluaran untuk pernikahan bisa tertutup dari sumbangan.

Ini kok bahasannya jadi menceng ke walimatul 'urusy sih. Wkwk. Nggak papa lah dakwah dikit biar agak faedah.

Jadi kenapa bapakku berkeras kudu banget mengamalkan ajaran Rasul dalam merayakan pernikahan? Karena suatu hari pernah ada yang sambat ke bapakku kalau dapat undangan resepsi buanyak. Semuanya harus nyumbang. Padahal kebutuhan lagi buanyak juga. Sedih nggak sih. Saking bapakku itu orangnya empati tingkat tinggi, jadilah perayaan nikahan anak-anaknya cukup semampu mereka saja. Sesuai ajaran Rasul. Semoga membudaya ya dalam masyarakat kita. Aamiiin.

Writen by @niahaji

Biaya peluang yang tak terduga

on Selasa, 16 Oktober 2018

Suatu malam ketika lagi benar2 halu, aku curhat ke sahabatku.

Singkat cerita dia menasihatiku tentang skala prioritas. Saking minimnya alat pemuas kebutuhan, kita perlu menetapkan skala prioritas. Dalam membuat skala prioritas, pasti ada yang terkorban. Disebut biaya peluang. Makanya kita harus pandai dalam menetapkan skala prioritas agar biaya peluang yg hilang bisa terminimalisir.

Sebaik2 manusia berencana, Allah selalu punya ceritaNya kan? Jgn lupa!!! Pernahkah kita diajari, bagaimana kalau ternyata skala prioritas yg kita buat tidak sejalan dengan cerita ketetapan milik Allah? Itu bukan, yang disebut takdir? Kita maksimal memastikan bahwa biaya peluang yang hilang tak akan seberapa. Tapi kita lupa tiap rupa2 cerita ada yang menyutradara. Kalau ternyata di luar kemampuan berpikir kita, di tengah jalan, tidak tahunya biaya peluang mendadak di level high risk? Kita bisa apa?

Iya begitulah hidup. Kita ditakdirkan memutuskan dan menjalani. Menjalani keputusannya Allah. Bukan keputusan kita. Dan disitulah iman kita diuji.

Semoga kita semua dimampukan menghadapi kisahkisah hidup yang ternyata tidak sesuai dengan keputusan yang kita ambil.

DUA

Kalaupun belum bisa kasih dunia yang melebihi cukup, mampukan jiwa untuk berdamai dengan keadaan. Sesungguhnya yang seorang anak butuhkan bukan sekedar materi berlimpah, tapi ketenangan dan kenyamanan yang tak hingga.

Sudah tahu belum bisa kasih ini itu ke anak, e malah sukanya berantem sama suami ngomongin ekonomi. Yakinlah bahwa tak akan ada habisnya. Solusinya cuman 2. Pertama, berdamailah, mampukan dirimu untuk dimampukan Allah dititipi materi berlimpah. Kedua, carilah, kuatkan dirimu untuk berjuang mengais rizkiNya. Sudah. Iya sudah.

Bagaimana caranya berdamai? Mudah. Iya mudah. Terimalah. Terimalah bahwa memang kamu sedang dalam masalah karena kamu dasarnya salah memilih jalan. Lalu maafkan. Maafkan kesalahanmu, jangan tanam dendam karena hanya akan memanen nestapa yang tak berpangkal. Maka kamu telah berdamai, dengan keadaanmu dirimu yang memilukan.

Bagaimana agar mampu berjuang? Mudah. Iya mudah. Konsisten dan bekerja keraslah. Sesungguhnya ketika sahabat bertanya pada Rasul tentang islam yg tak akan diajarkan oleh siapapun, Rasul menjawab ISTIQAMAH hingga tiga kali banyaknya.
Bagian apa yang paling susah dari istiqamah? Kerja keras. Iya kerja keras. Kerja keras untuk selalu berusaha konsisten, istiqamah.

Dan, poin terpenting sebelum kamu melakukan semua lalalala itu, PERBAIKI SOLATMU. Sesederhana itu.

Wahai kalian para ibu yang kekeh untuk utuh menjadi ibu sementara ekonomi masih jauh dari mapan, samasama memperbaiki diri yuk.

Mantu Milenial

on Jumat, 12 Oktober 2018

Ngrasani mertua yuuk. Eh ngrasani. Ngobrolin. Curhatin. Diskusi. Ah entahlah suka2 mau dikata apa 😜

Mertuaku itu baik banget sebenere. Perhatian, pengertian, suka semangatin aku juga. Akunya aja yg gk bakti bnget maen ke rumah beliau aja gak pernah wkwk.

Terus, kenapa aku gk mau tinggal sama mertua? Sejujurnya tinggal sama ibuku aja aku juga ogah. Emang sedari SMA aku bercita kalau punya anak maunya rumah sendiri. Alhamdulillah Allah kabulin.

Aku tinggal di desa ya. Super desa pokoknya. Polah dikit para tetangga pada ceramah. Kalau di desa trendnya mantu perempuan tinggal di rumah mertua selama belum punya atau belum sanggup bangun rumah. Nah, emang sedari awal nikah aku engga bisa yang harus banget stay di rumah mertua. Tapi gak nyaman juga stay di rumah ibu. Akhirnya aku nomaden. Untungnya akutu peknggo gitu (pek tonggo: dapet tonggo sendiri). Jadi kalau mau wara wiri available banget.
Gitu aja masih banyak yg julid hlohh dulu. Puncak kejulidan tetangga dan bikin aku stress berat itu waktu kaisar lahir. Rumah kami belum 100% kan waktu kaisar lahir. Dan as a woman yg habis lairan pengen tinggal di rumah ibu selepas lahiran wajar banget kaaan. Eh rang desa pada berisik gitu. Kok ra neng kidul to (rumah mertua). Sampe aku hampir PPD hlo ciyuss. Kapan2 aku tulis ah. Wkwk. Ntar lah tapi.

Lanjoot.

Banyak sih mantu perempuan yang sambat (ngeluh) nggak tahan tinggal sama mertua. Ada aja sebabnya. Namanya perempuan kalau aku bilang. Sedikit2 dibawa ati. Kodrat kok, gak pa2 jangan malu akuin aja. Kalau skrang kamu lagi diposisi mantu yang kudu banget tinggal sama mertua dan merasa engga betah, KAMU NORMAL.

Kalau kami yg tinggalnya di desa gini ya, ngeluh dikit ke mbah uti kalau gak betah tinggal sama mertua, pasti mbah uti ngasih wejangan ini itu dubidubidu panjang lebar tinggi dan jelas banget tentang jadi mantu itu kudu.... Kudu betah, KUDU BANGUN PAGI, kudu kerjain ini itu di rumah mertua tak kenal lelah, kudu bisa masak beberes rumah yang rapih harum mewangi. Gitulah. Yang jelas generasi milenial susah nglakuinnya. Apalgi yg aku capslock itu. Ye kaan? 😁😁

Menurut aku pribadi sekiranya kamu merasa gk betah tinggal sama mertua, mending kamu hengkang deh. Apalagi kamu yg punya new born. Bisa kena PPD hloh kalau lingkunganmu aja gk bikin kamu nyaman. Serius kamu gak sendiri kok kalau ngrasa gak nyaman tinggal sama mertua. Dibilang gk sholihat gpp hloh gk usah bersedih. Maaf ya saranku suka gila. Lebih baik sehat jiwa kan daripada harus nanggung derita bikin nyesek diri?

Atau kamu bisa ajak suamimu tinggal di rumah ibumu aja. Jangan memaksakan diri kalau emang gak bisa. Sekarang jaman milenial ges. Gak usum banget mengharuskan mantu perempuan kudu tinggal sama mertua selama belum punya atau belum sanggup bangun rumah sendiri.

Ps: aku yakin gk semua kalian tinggal di kota. Salah seorang kalian pasti ada yg tinggal di pelosok dan masyarakatnya masih sekolot itu pemikirannya tentang idup mantu-mertua. Yang kuat ya. Kamu gak sendiri kok 😗. Dengerin ocehan rang desa bukan maen ges. Panjang lebar kek sepur 😂😂.

Curhatan Mama #kaisarnggeblak

Kemaren siang hbs bangun bokci kaisar nggeblak. Apa ya basa indonya. Jatuh kepalanya sik yang kebentur lantai gitulaah.
Nangis kejer dan muntah buanyak. Pusing mungkin ya. Akunya ikut mewek 😣😣

Takut tauk kalo ada ada apa2 kejadian sama anakku. Mana posisi sebelum tidur tak bentak2 lagi karna drama cebok. Jadi bener2 duuh rasanya diati tu gk karuan banget.

Dan disitulah logika menyadari bahwa kaisar itu masih kecil. Dia aja bahkan gk tau apa yang sedang dia lakukan sekalipun itu membahayakan dirinya. Kenapa aku harus marah2. Ya kaan.

Maafkan mama ya nak. Besok kalo kamu uda besar dan baca tulisan ini, kamu pasti bisa merasakan betapa mama sayang kamu.

BINGUNG SAMA BAU BADAN? AKU DULU JUGA SIH

Iya aku tuh BB maksimal. Sampai suatu hari waktu kami lagi keluar kota, suamiku itu protes sama BB ku saking baunya. Pdhal akutu udah pake deo hloooh. Sedih akutu.

Nah suatu hari aku nemu deo yang bikin penasaran. Tapi ya ragu juga waktu itu mau nyoba apa enggak. Soalnya itutuh semacam produk baru gitu. Dan aku bukan tipe yg gmpang percaya aj sama new product.

Singkat cerita, akhirnya aku coba deh itu deo. Namanya Yasmin, deo spray jadi dia wujudnya cair. Makenya disemprotin ke ketiak. Pertama pake, agak aneh2 gimana gitu. Cair kaan. Disemprotin ke ketiak basah tapi ya cepet kering sih. Dan geeelanya hla kok gk bb seharian. Yawis deh habis itu aku fiks jatuh cinta.

Makin demennya lagi, setelah aku pakai sebulanan, kulit ketiak aku agak putihan hloo. Bener2 makin cintaaah. Dan emoh beralih 😍😍😍

Karna ini deo non alkohol ya, jd misal aku habis cukur rambut ketiak terus ada luka dikit gitu gk kerasa perih waktu apply ini deo di ketiak. Pokoknya terlove deh.

Aku udah nyoba yang varian romantic sama pure. Karna aku gk suka wangi2 aku lebih prefer pure. Ada satu lg varian lagi sih. Namanya soft tapi aku belum nyoba ✌🏻✌🏻✌🏻 . Kalian kapan mau cobain dan BYE sama bau badan?

Boleh tanya2 atau langsung order di aku hloh di 082242703051. WA yaah.

Semoga sharing ini bermanfaat 😄

Ibuibu mah bebas lol

on Kamis, 11 Oktober 2018

Sejujurnya kalau ngurus bayi mah gak perlu denger orang bilang yaa.

Sedari kaisar piyik udah tak pakein pospak full 24 jam. Dari semua orang di dunia ini siapa yang paling suka komen? Ibuku jooon. Iya, ibuku bilang boros bangetlah, malesan amatlah gak mau gantiin celana pas anak ngompol.

Dulu sih sering baper akunya. Sekarang sih bye aja. Barusan aku ada cerita mengenaskan. Kaisar pup di pospak terus tak bawa ke kamar mandi buat cebok. E dianya malah gitu dah. Mau maen aer dewe gk mau diatur blas. Meronta ronta ambil selang yang berujung air moncrot kemana2.

Karna uda pening bgt aku jejeritan gk jelas deh. Dan akunya masih bete sampai sekarang wkwk. Demi apa aku bawa kaisar cebok ke kamar mandi. Pake tisu basah aja bisa kaan. Sejujurnya aksi cebok pake air adalab representasi ngirit karna air gratis tisu basah bayar. Sungguh aku sedih kapok dan gak mau ngulang. Bodo amat sama ngiritlah drpada aku stress dewe gini.

Iya. Pokoknya ibu2 mah bebas. Mau anaknya full pospak, mau clodi, mau mpasi instan, mau homemade, mau kerja atau di rumah aja. Yang penting bahagia. Udah, selesai perkara.

NIKAH?? YAKIN GAK??

on Senin, 08 Oktober 2018

Gimana ya. So many things wannna share but no action so nothing happen. Fyuh. Dan kalo udah ngadep papan ketik gini jd blank semua. Lupak mau nulis apa.

Who am i? Yas im a mamma now. A mother from Kaisar Arta. Iya anak laki2 yg tak damba sedari dulu sebelum nikah.

Eh ngomongin nikah dulu aja layaw. Aku pernah sih ya nulis tentang nikah. But now, may i will write from annother different side. Gitu

Sejujurnya aku pengen blogging lg karna ketemu sama ig inspiratif @annisast. Jd motivated gitu buat nulis lg. Drpd ngapain gitu hlohh. Toh dipos atau engga dipos sejujurnya nulis itu kerjaan harianku. Knpa gak shared aja ya kaan...

Menikah.
Bagi yg udah 25 tp belum nikah2 juga pasti kebelet nikah pakai banget. Bener toh? Hopefully all of u become a wise person yah dlm nikah gak nikah ini. Soalnya gini hloh, nikah itu gk cuma antara kamu sama pasanganmu. Jd lagi ya, be wise pokoonya.

Seperti yg aku baca dari tulisan2 mbak annisa, pikir baik2, kalau dirasa udah mikir baik2, pikir lg lebih baik. Pokoknya pikir teroos jgn kasih kendor. Jgn asal kebelet hbs itu nikah gitu aja. Usia 25 itu usia yg nurutku kita bener2 diusia yg well bgt buat jd seseorang yg lebih bijak sekaligus lebih baik. Misal pun posisi skrang kamu udah dipinang, tapi kok masih aja ada yang ngganjel gitu, sudahilah. Putus. Iya aku serius hlooh. Mungkin kamu terluka. Tapi percayalah itu luka gk akan seberapa. Menikah sama dengan menjalin hubungan sama orang yang harapannya selamanya. Dari yy bukan siapa2 jd yang segalanya. Kalo kamu dari awal udah ngrasa ada yg bikin nggak sreg, jangan ragu mengakhiri. Drpd nanti diperjalanan bingung sendiri ngadepin satu sama lain, mending udahi kaan sebelum semuanya memburuk dan hampir mustahil kembali.

Aku pnya temen yg dia itu sweet bgt sama pasangannya. Dia sering tulis disosmednya dia kalau dia sama pasangannya selalu discuss apapun itu entah penting gak penting. Dia sama pasangan jg punya visi dan pemikiran yg sama, anggaplah mereka seprinsip laah yaa. Dan ini well banget hlooh serius.

Bayangin kamu nikah sama orang yg ditanyain dikit aja malah jawab "tanya mulu sih!". Berantakan gk sih hatimu? Padahal kamu cuma tanya "udah makan?" "Makan apa?" "Dimana?" (ps. Gk sereceh itu juga sih). Ya pokoknya ketika kalian lg ngobrol dan kamu nanya beberapa hal terus dia jawab begitu "tanya mulu sih!". Rasanya???

Itu baru antara kamu dan pasanganmu ya. Belum lagi antara anakmu dan orang tuanya, entah bapak atau ibunya. Inget ges, nikah itu gk cuman cari pasangan. Tapi cari bapak/ibu buat anak2mu. Inget ges ingett!!! Mon map ya pake pentung banyak. Wkwk.

Iya aku serius. Kamu harus bgt bahas ttg all the things bout parenting sebelum memutuskan untuk menikah sama seseorang. Kiranya gk sejalan, sudahi. Iya, lagi2 aku bilang sudahi kek nyarani better makan krupuk drpd tempe ya wkwk. Tp emang kok. Lebih baik sakit hati krna gk jadi nikah drpd udah nikah udah pnya anak, eh taunya blas pasanganmu bukan bapak/ibu yg kamu dambakan buat anakmu. Parenting itu teorinya banyak, dishare dimana2. Praktiknya yg susah. Boro2 praktik kaan, kalau pasanganmu baca aja nggak mau njut piyee. Ya gitu itu sekali lagi. Kamu pilih sakit hati diawal atau sakit hati ketika udah nikah. Secara gk langsung kamu jg nyakitin anakmu hlooh dgn nyariin bapak/ibu yg gak tepat.

Dan yg paling bikin gemes2 anyel itu tentang keluarga. Pastikan keluarganya gk hobi ganggu dan kepastian2 yg lain pokoknya segala2 pastikan deh. Gimana ibunya bapaknya simbahnya om tantenya. Pokoknya pastikan. Kiranya kamu ada yg gk cocok sementara orang yg mau kamu nikahi itu bela mati2an saudaranya yg engga kamu cocoki itu, mending udahan deh. Iya yakin. Yakin aku gk bohong dan gk ada niat kasih saran gk bener. Kalau bapak ibu masih tolerir ya. Ya masak kamu mau gak cocok sama camer dan berharap anaknya bela kamu. Pokoknya banyak2 pastikan deh. Apalagi masalah camer. Bener2 kupas tuntas laah. Kecuali kamu nantinya kamu gk akan tinggal deket2 camer. Tapi kalo camermu hobinya kepo ini itu udah tinggal jauh pun dikepo juga hlo. Ya seenggaknya kalau jauh gak gitu kerasa beban hatinya sih.

Kapan2 aku share tentang trend mantu perempuan jaman sekarang ogah tinggal sama mertua ya. Wkwk. Kamu termasuk gak? Kalau aku sih iya 😂😂😂.

CPNS ~seri galau~

on Sabtu, 06 Oktober 2018

Eciee yg katanya mau rajin posting tapi apa kabar. Malah gk nulis blas hloh betewe. Alesannya retoris pula. Pusing. Hfff.

Jd mendadak aku kepikiran sama CPNS. Yakin gak ndaftar gak ya. Galau banget. Temen2 pada daftar, ntar kalau mereka pada jadi PNS pasti aku kecewa udah gk ndaftar. Tapi kalau aku ndaftar, Kaisar nanti gimana. Yakin mau masukin daycare diumur 1 tahun? Masih digolden agenya dia.

Dan aku sudah terlancur teracuni sama wejangan Bu Ainun. Apa gunanya kepuasan pribadi karna karir bagus tapi anak tidak dalam dekapan. Iya, aku seenggak tega itu. Tapi aku gak pandang jelek buibu yg kerja ya. Kalian hebat tauk bisa sebegitu kuatnya ninggal anak dan cari uang buat anak juga. Aku mah apa. Tak kuasaa .

Blum lg takut bikin kecewa mertua. Iya mertuaku pengen bnget aku daftar. Pengen aku jd PNS. Jadi aku takut ngecewain juga.

Tapi menatap Kaisar, hilang sudah semua hasrat CPNSan itu. Sungguh.

Bismillah kuatkan hatiku untuk survive dgn sgala keputusanku ya allah. Aamiin.