Belajar: Kemauan Membaca dan Kemampuan Memahami

on Sabtu, 27 Juli 2019

Dulu aku selalu menganggap orang yang menulis "baca sampai akhir" itu goblok. Menurutku setiap orang akan baca detil, dari atas ke bawah (runut), sampai akhir; dan berujung paham. Ternyata aku keliru. Ternyata di dunia ini terlalu banyak orang yang tidak mau membaca dan tidak memiliki kemampuan memahami bacaan. Lalu, apa gunanya literasi gratis berhamburan kalau manusia tidak suka membaca 🤔.

Kemauan membaca dan kemampuan memahami tidak ada hubungannya dengan jenjang pendidikan juga sih menurutku. Tahu nggak, teman-teman sekolahku banyak yang tidak tamat S1, tapi menurutku mereka banyak ilmu, nyambung aja kalau diskusi banyak hal; mulai dari sepela tidak sepele, penting tidak penting. Kok bisa gitu? Karena sekolah kami adalah sekolahan yang menanamkan jiwa suka membaca pada muridnya. Sudah jadi ibu pengangguran pun (bahkan sampai nanti nenek-nenek, semoga) kami masih suka membaca semua hal dengan detil, runut, dan paham. Dan, teman-teman sekolahku mayoritas tidak bekerja hlo. Nganggur aja di rumah; kerjaannya beberes, masak, momong, ndulang, mandiin anak. Tapi bisa tetap pintar karena semangat belajar. Ada kemauan membaca dan kemampuan memahami bacaan.

Anehnya justru teman-teman kuliah yang wisudanya bareng denganku banyak yang tidak bisa diajak diskusi ini itu. Kok bisa gitu? Karena aku tahu, mereka tidak suka membaca. Boro-boro paham, baca saja malas gimana mau paham. Entah polanya: baca tapi tidak paham ATAU tidak mau baca karena pasti akan tidak paham. Kalau pola pertama masih nggak papa, aku masih mau menjelaskan panjang lebar. Tapi kalau baca saja sudah tidak mau, kok sudi amat jelasin panjang lebar. Dih, sini mah pengangguran berkualitas wkwk.

Eh soal pengangguran, tadi ada ibu-ibu bilang "hla mbange ngopo ora ndue gawean" (nyinyiran padaku sang pengangguran), kok menurutku sejak menganggur hidupku lebih berkualitas ya. Lebih banyak membaca; entah artikel, buku, curhatan penting/tidak penting orang, dan lain-lain; dan semuanya membuatku merasa otakku lebih berisi dan sikapku lebih bijaksana. Tapi kembali ke masing-masing sih. Banyak yang menganggur dan gitu-gitu aja kualitas dirinya, banyak yang sibuk bekerja tapi masih sempat upgrade kualitas diri. Nggak jaminan siapa kamu berbanding lurus dengan kualitas dirimu. Menurutku kualitas diri lebih sebanding dengan kemauan belajar. Belajar sendiri sebuah proses dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari mana kita bisa tahu kalau tidak dari membaca dan atau mendengarkan (?). Seandainya tidak suka membaca tapi suka cari-cari ilmu lewat audio bisa juga kok. Tapi sepertinya kalau dasarnya tidak mau belajar mau pakai media apapun akan malas.

Tidak papa juga kalau tidak mau upgrade kualitas diri. Hidup hidupmu suka-suka kamu yang menjalankan. Aku serius hlo ngomong begitu. Sangat serius. Karena memang banyak di dunia ini yang tidak terlalu peduli dengan besok; asal sekarangnya baik-baik saja: BERES. Tidak papa sama sekali. Tapi Rasul pernah berpesan jangan sampai hari esokmu tidak lebih baik dari kemarin. Jadi, mari tetap semangat belajar. Sila baca banyak-banyak, atau dengarkan banyak-banyak. Sumber ilmu banyak-banyak bertebaran kok di intenet, asal kita pandai memilah dan memilih sumber agar ilmu kita tidak abal-abal dan pemahaman kita tidak salah kaprah. Semangat belajar semua 😊

Jawaban dari Tanya "kamu akan ngapain"

Waktu aku posting tentang "mbahku dulu ngapain" dan merekontruksi menjadi kalau Kaisar nanya mbahnya dulu ngapain yang berkaitan dengan postingan Jouskan tentang 1000 orang diisolir dalam tempat asing, saling tidak kenal, dan sama-sama tidak berpendidikan, empat dari lima teman yang komen di DM paham kemana arah yang aku maksud. Tapi ada seorang teman yang DM kurang lebih bilang "besok Kaisar gede dan baca status ini, dia akan mikir mamaku itu ngapain".

Aku sedih dikomen begitu. Ketika kita hidup diera financial literacy (bahkan literacy untuk segala macam lifeskill) bertebaran di media sosial untuk kehidupan yang lebih baik, kenapa masih tidak paham dengan klue yang aku lontarkan. Sebuah klausa yang jadi penasaran kita "mbahku dulu ngapain" menurutku refleksi diri paling hebat agar kita tidak meninggalkan generasi lemah; SANDWICH GENERATION.

Dalam agama pun diajarkan agar tidak meninggalkan generasi lemah: baik lemah iman, lemah mental, lemah financial. Jadi, salah tidak kalau aku merefleksi "mbahku dulu ngapain"?

Aku punya teman, kakek dia bisa dibilang "Sang Pemilik Kota". Dia pernah cerita betapa masa muda kakeknya dihabiskan untuk bekerja keras. Anggap saja kakekku semasa dengan kakek temanku. Kenapa kakekku tidak meninggalkan kekayaan sebanyak kakek temanku? Apa karena kekekku tidak bekerja keras?

Kakekku petani, berasa dari keluarga tidak berada. Bapaknya meninggal ketika kakekku masih kecil; dan kakekku adalah anak sulung alias mbarep. Betapa kalau orang jawa jaman dulu, anak mbarep selalu punya tanggung jawab yang luar biasa berat. Kakekku pernah bercerita kalau beliau sampai datang ke makam bapaknya dan mengeluh kenapa harus meninggal secepat itu, merasa tidak berdaya, sekaligus berjanji akan menjadi mbarep yang baik dan bertanggung jawab.

Berbekal sawah sepetak peninggalan bapaknya, beranak jadi berpetak-petak. Selain memberi warisan kepada anak-anaknya, kakekku juga ninggali masing-masing satu sawah kepada saudara-saudara laki-lakinya.

Tapi, kenapa hidupku tidak sekaya temanku si cucu pemilik kota? Padahal kakekku bekerja keras hlo. Bahkan bisa dilabel sangat keras. Karena kakeku kalah dalam sebuah hal paling fundamental: ILMU PENGETAHUAN.

Ketika kakek temanku sudah tahu bahwa bisnis masa depan adalah X, maka beliau bekerja keras merintis bisnis itu. Sementara kakekku yang orang desa tahunya hanya bertani. Padahal di masa depan, sawah di desa nilainya tidak seberapa dan bertani tidak bisa dijadikan sumber penghasilan. Keputusan kakekku tidak salah, hanya saja intuisi yang kurang tepat karena ilmu pengetahuan yang sedikit. Dilain sisi, kalau saat itu tidak bertani, sudah jelas tidak bisa hidup.

Jadi, seandainya kamu satu dari 1000 orang yang berada dalam tempat asing, saling tidak kenal, dan sama-sama tidak berpendidikan, kira-kira kamu ngapain? Beberapa hal yang mampu kuimija dalam otakku, kalau aku adalah satu dari 1000 orang itu:
1. Berkenalan dengan sebanyak mungkin orang, banyak berbincang, bertukar pikiran; karena meskipun sama-sama tidak berpendidikan, tidak semua manusia punya kemampuan sama dalam berpikir.
2. Mengikuti yang paling dominan dalam kelompok. Satu dari 1000 orang itu pasti ada yang paling menonjol, berjiwa kepemimpinan kuat.
3. Membentuk kelompokku sendiri bersama orang-orang berpola pikir sama (setelah berkenalan dengan banyak orang). Berjalan tanpa pemimpin, asal merasa klik dengan setiap jiwa dalam kelompok.
4. Jalan sendiri, berusaha mencari sumber mata air agar bisa menjadi bos dalam kelompok karena aku penemu mata air. Sumber air pasti dibutuhkan oleh semua orang.

Waktu aku posting tentang "mbahku dulu ngapain" dan merekontruksi menjadi kalau Kaisar nanya mbahnya dulu ngapain yang berkaitan dengan postingan Jouskan tentang 1000 orang diisolir dalam tempat asing, saling tidak kenal, dan sama-sama tidak berpendidikan, empat dari lima teman yang komen di DM paham kemana arah yang aku maksud. Tapi ada seorang teman yang DM kurang lebih bilang "besok Kaisar gede dan baca status ini, dia akan mikir mamaku itu ngapain".

Aku sedih dikomen begitu. Ketika kita hidup diera financial literacy (bahkan literacy untuk segala macam lifeskill) bertebaran di media sosial untuk kehidupan yang lebih baik, kenapa masih tidak paham dengan klue yang aku lontarkan. Sebuah klausa yang jadi penasaran kita "mbahku dulu ngapain" menurutku refleksi diri paling hebat agar kita tidak meninggalkan generasi lemah; SANDWICH GENERATION.

Dalam agama pun diajarkan agar tidak meninggalkan generasi lemah: baik lemah iman, lemah mental, lemah financial. Jadi, salah tidak kalau aku merefleksi "mbahku dulu ngapain"?

Aku punya teman, kakek dia bisa dibilang "Sang Pemilik Kota". Dia pernah cerita betapa masa muda kakeknya dihabiskan untuk bekerja keras. Anggap saja kakekku semasa dengan kakek temanku. Kenapa kakekku tidak meninggalkan kekayaan sebanyak kakek temanku? Apa karena kekekku tidak bekerja keras?

Kakekku petani, berasa dari keluarga tidak berada. Bapaknya meninggal ketika kakekku masih kecil; dan kakekku adalah anak sulung alias mbarep. Betapa kalau orang jawa jaman dulu, anak mbarep selalu punya tanggung jawab yang luar biasa berat. Kakekku pernah bercerita kalau beliau sampai datang ke makam bapaknya dan mengeluh kenapa harus meninggal secepat itu, merasa tidak berdaya, sekaligus berjanji akan menjadi mbarep yang baik dan bertanggung jawab.

Berbekal sawah sepetak peninggalan bapaknya, beranak jadi berpetak-petak. Selain memberi warisan kepada anak-anaknya, kakekku juga ninggali masing-masing satu sawah kepada saudara-saudara laki-lakinya.

Tapi, kenapa hidupku tidak sekaya temanku si cucu pemilik kota? Padahal kakekku bekerja keras hlo. Bahkan bisa dilabel sangat keras. Karena kakeku kalah dalam sebuah hal paling fundamental: ILMU PENGETAHUAN.

Ketika kakek temanku sudah tahu bahwa bisnis masa depan adalah X, maka beliau bekerja keras merintis bisnis itu. Sementara kakekku yang orang desa tahunya hanya bertani. Padahal di masa depan, sawah di desa nilainya tidak seberapa dan bertani tidak bisa dijadikan sumber penghasilan. Keputusan kakekku tidak salah, hanya saja intuisi yang kurang tepat karena ilmu pengetahuan yang sedikit. Dilain sisi, kalau saat itu tidak bertani, sudah jelas tidak bisa hidup.

Jadi, seandainya kamu satu dari 1000 orang yang berada dalam tempat asing, saling tidak kenal, dan sama-sama tidak berpendidikan, kira-kira kamu ngapain? Beberapa hal yang mampu kuimija dalam otakku, kalau aku adalah satu dari 1000 orang itu:
1. Berkenalan dengan sebanyak mungkin orang, banyak berbincang, bertukar pikiran; karena meskipun sama-sama tidak berpendidikan, tidak semua manusia punya kemampuan sama dalam berpikir.
2. Mengikuti yang paling dominan dalam kelompok. Satu dari 1000 orang itu pasti ada yang paling menonjol, berjiwa kepemimpinan kuat.
3. Membentuk kelompokku sendiri bersama orang-orang berpola pikir sama (setelah berkenalan dengan banyak orang). Berjalan tanpa pemimpin, asal merasa klik dengan setiap jiwa dalam kelompok.
4. Jalan sendiri, berusaha mencari sumber mata air agar bisa menjadi bos dalam kelompok karena aku penemu mata air. Sumber air pasti dibutuhkan oleh semua orang.

Berbekal dari pembelajaran yang aku dapat dari mengkomparasi masa lalu kakekku dan kakek temanku, aku ingin menjadi nomor 4 tapi aku takut lol. Mungkin aku akan dinomor 1 dan kalau memang ada yang jiwa kepemimpinannya kuat, aku akan ikut dia sih. Kenapa tidak nomor 3 saja? Aku anaknya tidak kuat bekerja keras, tidak tahan banting; maka kalau circleku orang-orang setipe denganku, hidupku akan tidak berkembang dan aku tidak mau. Kalau hanya bergaul dengan mereka yang klik denganku, aku takut akan meninggalkan generasi yang lemah. Harus banyak belajar, mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuan, dan menajamkan intuisi. Lalu, kira-kira aku akan diposisi mana setahun kemudian? Aku tidak tahu. Yang penting kemampuanku harus bertambah dalam segala hal. Tidak berharap menjadi nomor satu, asal hidupku baik-baik saja untuk masa sekarang; dan wajib membaik di masa depan.

Ala-ala Emak Profesional: Tips Sukses TT

on Senin, 08 Juli 2019

Note: tips ini ditulis ketika Kaisar belum benar-benar lulus toilet training dan terus revisi sampai (sekarang) sudah lulus tt. Semoga membantu ya, Bu.

[ ] Percaya pada anak.
Sebenanya sebelum benar-benar lepas pempes aku sudah sering bawa Kaisar ke kamar mandi untuk pipis. Jadi aku sudah uji coba dulu apakah anaknya akan banyak ngompol sekalipun sudah sering dibawa ke kamar mandi atau sudah bisa pipis di kamar mandi. Dan ternyata Kaisar bisa pipis di kamar mandi. Hanya ngompol (dipempes) kalau jarak pipis ke kamar mandi terlalu lama (ini karena aku kadang malas, tidak untuk ditiru).

Akhirnya aku memutuskan untuk percaya bahwa Kaisar bisa lepas pempes sama sekali. Meskipun awalnya ngompol sekali dua kali ya tidak apa-apa.

[ ] Sounding terlebih dahulu
Sebelum pure lepas pempes, aku bilang ke Kaisar beberapa hari sebelumnya "kamu nanti mulai hari sabtu ndak pakai pempes lagi hlo mas. Kan sudah besar, nggak ngompol, pipis kamar mandi".

Entah dia ngerti atau enggak yang jelas aku sudah bilang. Dan pertama kali dia tidak pakai pempes (hanya celana), aku bilang lagi "mas ini sudah hari sabtu jadi kamu sudah nggak pakai pempes. Kan dah besar, nggak ngompol, pipis kamar mandi".

Langsung berhasil nggak? Enggaklah! Lol. Baru no pempes beberapa jam udah ngompol. Aku bilang lagi "ngompol malu ndak? Lain kali kalau mau pipis bilang pis ya. Nanti ke kamar mandi". Selalu ingatkan kalau mau pipis harus bilang. Sounding aja terus sampai berhasil.

[ ] Rajin-rajin ke kamar mandi
Toilet training Kaisar baru jalan 3 hari tapi ibunya udah nulis tips aja ya lol. Jadi salah satu kunci sukses yang sepertinya bener-bener ampuh adalah sering bawa ke kamar mandi. Awal-awal toilet training pasti anak kebingungan dengan konsep tidak ngompol karena biasanya pakai pempes. Nah, ajarkan pada mereka kalau pipis itu ada tempatnya dan tempatnya adalah kamar mandi.

Wajar ya kalau baru lepas pempes beberapa hari dan masih suka ngompol. Biasanya pipis dimanapun bisa dan nyaman-nyaman aja. Jadi anak tidak tahu perasaan kebelet pipis itu seperti apa. Kalau sering dibawa ke kamar mandi otomatis anak akan tahu perasaan kebelet pipis itu seperti apa dan harus pipis dimana.

[ ] Pastikan bahwa anak sudah mampu berkomunikasi dua arah meskipun lewat kode
Aku pernah mengusahakan toilet training waktu Kaisar masih satu tahun (sekarang 18 bulan). Serius bikin emosi banget karena anaknya suka tidak mau pipis kalau di kamar mandi dan malah ngompol ketika sedang pakai celana. Kejadian itu nggak sekali dua kali tapi sering wkwk. Padahal aku sudah sounding, sudah rajin ke kamar mandi tapi kok zonk. Akhirnya aku paham bahwa Kaisar belum mampu berkomunikasi sama sekali (atau mungkin dia sendiri juga tidak tahu perasaan kebelet pipis itu seperti apa). Lalu aku putuskan toilet trainingnya pending sampai dia paham akan banyak hal dan bisa komunikasi.

[ ] Jangan pernah memaksa anak
Pengalaman dari toilet training pertama Kaisar waktu umur satu tahun, aku kurang sabar dan memaksa Kaisar untuk mampu. Jadi toilet training kedua ini (bahkan waktu masih trial toilet training) aku tidak pernah paksa Kaisar ke kamar mandi kalau dia tidak mau. Ngompolnya Kaisar waktu D2 TT bukan karena jarak ke kamar mandi terlalu lama, tapi karena dia emoh ke kamar mandi padahal aku tahu dia kebelet pipis. Akhirnya dia ngompol. Dari situ aku kasih pengertian kalau tidak mau ke kamar mandi ya akan ngompol dan ngompol kalau sudah besar itu malu. Dan iya, kalau sudah terlanjur ngompol jangan langsung bilang "eh kok ngompol. Malu doong". Bersihkan dulu pipis dan anaknya. Ajak dia bebersih pipis dia yang sembarangan sambil kasih pengertian kalau ngompol itu malu dan bikin nggak bisa solat karena najis (aku muslim anw).

[ ] Ibu harus siap
Karena dibalik kelucuan dan kepolosan anak kecil tersimpan jutaan hal-hal menganyelkan yang bikin emosi, maka siapkan dirimu, Bu. Siap akan semua konsekuensi yang akan tertanggung; kalau ternyata tidak segera berhasil TT, kalau cucian menggunung berhari-hari, kalau sedang asik-asik makan tetiba anak ngompol (bahkan aku sudah takbiratul ikhram, Kaisar pipis disajadahku hiks). Siapkan diri baik fisik dan mental karena akan lebih capek. Akan lebih sering bawa anak ke kamar mandi, ngepel ompol, nyuci segala apapun yang dipipisi anak, dkk. Akan lebih gampang marah kalau anak masih saja suka ngompol. Meskipun lelah jangan marah, jangan bentak kalau anak ngompol. Beri pengertian dan yakinlah mereka paham. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sedari umur satu Kaisar sudah bisa lepas pempes kalau akunya siap. Tapi ternyata susah bener kalau akunya belum siap dan anaknya juga belum mampu berkomunikasi.

Selamat mengajari toilet training BuIbu semua. Semangat, sabar, tetap konsisten, dan yakin kalau anak mampu lulus toilet training.

Tentang Trial Toilet Training

Karena teman bikin story tentang toilet training anak, jadi pengen nulis TT lagi.

Mungkin emang bener ya anak itu sendiri-sendiri. Ada yang makannnya gampang, boboknya gampang, toilet trainingnya gampang, tapi ngomongnya lambat; dsb dst yang itu beda-beda tidak bisa disamakan banget. Alhamdulillah toilet training Kaisar umur 18 bulan ini lancar tanpa kendala berarti. Pipis ngompol juga cuma beberapa kali, itupun waktu awal-awal toilet training. Sekarang sudah almost 2 weeks (tepat 2 minggu besok sabtu) dan nggak worry dia ngompol samsek.

Jadi kalau disuruh nulis tips endebre endebre gimana kiat sukses aku sih nggak ada yang bener-bener kiat sebenarnya. Anak bulekku lepas pempes umur 2 tahun dan ngompol cuma hari pertama doang bayangpun wahaha. Anak tetangga sedari kecil nggak pernah pempesan, sampai umur 3 masih ngompol aja. Karena apa coba? Padahal ya sama, sama-sama dibawa ke kamar mandi kalau pipis dan suka ditanya apakah kebelet pipis atau enggak.

Mungkin emang kiat sukses itu relatif banget dan kembali ke kebutuhan masing-masing dengan melihat kondisi anak. Kalau anaknya belum siap dan ibunya malas ngelap ompol anak yang masih saja ngompol padahal udah tt berhari-hari, bisa dicoba trial toilet training.

Iya, trial toilet training. Udah training masih trial. Kaisar sebelum benar-benar full lepas pempes trial dulu soalnya. Aku malas harus sering ngelap ompol (belum lagi najisnya), maka kuputuskan diawali dengan trial. Teknisnya, anak tetap dipakain pempes sambil sering-sering diajakin ke kamar mandi. Namanya juga anak, kadang kalau lagi asik main jelas emoh dibawa ke kamar mandi. Otomatis ngompol doong. Ya biar, kan masih pakai pempes. Nggak usah bingung mikir ngelap ompol. Nah, waktu melepas pempes; entah mau ganti atau mau mandi atau mau ke kamar mandi untuk pipis, dan kalau beneran anak ngompol, jangan lupa bilang kalau dia sudah terlanjur ngompol di pempes dan itu malu. Sounding gitu hloo.

Kaisar sudah trial sejak umur 15 bulan. Full lepas pempes umur 18 bulan. Lumayan lama jaraknya, karena pertimbanganku umur 15 kemampuan komunikasinya masih belum bagus. Dan aku nggak mau repot ngelap ompol, jadi kuputuskan tetap pakai pempes sembari diajari ke kamar mandi untuk pipis. Selama trial kalau pup masih dipempes sih, selalu. Tapi selepas tidak pempes sama sekali, bisa pup di kamar mandi. Kalau tidak mau di kamar mandi ya di halaman (rumah kami di desa jadi di halaman masih ada spot tanah. Kalau pup di halaman, kotorannya dimasukkan ke tanah).

Umur 18 kuputuskan full no pempes karena kemampuan bahasa Kaisar meningkat pesat baik mendengarkan maupun bicaranya. Aku ngomong apa, dia sudah paham. Jadi kuputuskan untuk percaya dan memulai hari tanpa pempes.

Ngompol nggak awal-awal full lepas pempes meskipun sudah trial? Ya ngompol doong. Namanya juga bocah ya kaan. Cuman ya, tetep dikenalin aja sih sama perasaan kebelet pipis dan pup. Semoga lama-lama paham dan benar-benar lulus toilet training.

Ps: pempes itu maksudnya pospak ya mom .

Bekerja, Sampai Daycare

Aku sedang hobi sekali baca kolom komentar salah satu akun media sosial sebuah lembaga keuangan independen. Namanya baca pikiran orang banyak, kalau ada yang komentarnya "kok keren sih", ya kepo ke akun media sosial bersangkutan dong. Lol. Kemarin sore secara tidak sengaja scroll akun seorang ibu rumah tangga yang bekerja dan memiliki tiga anak laki-laki. Sebut saja namanya Riyanti. Bu Riyanti menulis disalah satu caption feedsnya bahwa fvck banget kalian yang mencaci keadaannya. Sudah lelah bekerja dan masih urus anak, apa esensi bekerja baginya. Sudah jelas capek, tapi dia yakin kondisinya tidak akan selamanya begini. Tiap pagi bangun petang, aktivitas seharian, tidur larut malam; weekend berasa numpang lewat dan tetiba sudah senin.

Jadi ingat aku pernah menulis bahwa aku menyinyir mereka yang bekerja atas nama "wanita berdaya harus berkarya" padahal niatnya menghindari urus rumah sepanjang hari sepanjang waktu tanpa libur beserta dramanya. Iya, aku kezel dengan ibu-ibu yang tidak mengakui bahwa menjadi ibu itu capek maka mereka mencari kesenengan diluaran dengan bekerja; sebagai pelepas penat 😏.

Apa aku membenci ibu bekerja? Tidaklah! Maaf nulisnya nggak bisa santai aja lol. Aku hanya sirik dengan mereka yang tidak mengakui dengan jujur alasan kenapa bekerja. Kalau memang tidak bisa harus urus anak seharian sepanjang waktu tanpa libur dan bekerja adalah salah satu cara pelepas penat terbaik, maka bekerjalah. Tapi tidak usah mengikutkan "semua wanita berdaya harus berkarya" dong! Memang yang tidak bekerja tidak berdaya dan tidak bisa berkarya? Kami, ibu-ibu pengangguran merasa dihabisi secara mental dan itu menyesakkan.

Maka aku sangat cinta pada annisast karena dia sejujur itu bilang pada dunia kalau dia bekerja karena tidak bisa harus urus anak sepanjang hari sepanjang waktu. Tidak apa-apa kalau tidak bisa. Mengurus anak itu jihad dan jihad itu lelah. Kebersediaan lelahnya orang dalam berjihad itu sendiri-diri dan urusan dia dengan Yang Maha Kuasa. Manusia tidak perlu ikut campur dan menasihati macam-macam. Biar diselesaikan sendiri karena itu perkara seseorang dengan tuhannya.

Ini aku ya, seandainya aku mampu bekerja dengan gaji yang cukup untuk mendaycarekan Kaisar, aku akan bekerja kok karena dirumah seharian itu membosankan dan urus anak tanpa jeda itu melelahkan. Sayangnya sampai saat ini aku belum menemukan tempat yang bersedia menggajiku sebesar itu. Maka lebih baik momong daripada harus bekerja hanya untuk kesenangan pribadi dan penjagaan pada Kaisar tidak sesuai level yang aku mau. Bersyukurlah kalian yang bisa berdaya dan berkarya dengan bekerja sementara anak kalian tetap dalam penjagaan terbaik. Sejujurnya itu cita-citaku yang tidak menyata.

Oiya, kenapa harus daycare? Sebenarnya tidak papa kalau tidak daycare, suster juga boleh banget. Asal kalau sama suster anaknya harus tetap dijaga kakek neneknya. Masalahnya adalah aku tidak terlalu percaya dengan kakek nenek (a.k.a orang tuaku). Karena kupikir parenting style kami sangat berbeda dan sama sekali tidak senada. Contoh kecilnya aja kalau Kaisar nangis. Orang tuaku akan segera mendiamkan; entah dengan mengiming-imingi hal lain, menuruti kemauan Kaisar, dst; yang penting anaknya diam. Kalau aku? Peluk saja erat-erat sambil bilang "perasaanmu kecewa ya, mama minta maaf ya karena memang kemauanmu tidak bisa dituruti. Nangis dulu aja kalau mau nangis". Sebeda itu. Maka tidak mau banget menitipkan ke suster dengan pengawasan kakek nenek. Kakek nenek akan mendominasi dan suster dengan kodratnya sudah pasti tidak mampu melawan permintaan kakek nenek. Kalau diasuh suster aja tanpa kakek nenek? Duh, kayaknya jaman sekarang susah ya cari suster yang bener-bener beres tanpa diawasi. Wkwk.

Kalau daycare kan diasuh oleh orang-orang profesional dan aku sendiri yang langsung bersinggungan dengan mereka. Jadi aku merasa lebih leluasa menyampaikan ide parentingku pada mereka. Dan aku yakin mereka orang-orang yang kalau diajak share ini itu akan bersedia meresapi dan memahami "oh iya, begini begitua ya". Yang lebih penting adalah kalau daycarenya bagus sudah pasti rekrutmen pengasuhnya tidak main-main. Beda dengan cari suster sendiri yang kita tidak tahu dedikasi dia sebesar apa.

Jadi, selamat pagi seluruh ibu di dunia. Selamat menjalankan peran dan aktivitas masing-masing dengan mengakui sepenuh hati alasan kenapa bekerja dan kenapa tidak bekerja. Karena pengakuan yang jujur itu menentramkan dan pengakuan yang diada-adakan itu menyebalkan.

Aku tetap akan tersinggung, bagaimanapun, dengan paradigma "bekerja agar berdaya dan mampu berkarya". Kamu pikir aku dirumah ngapain? Iya, jujur saja kalau memang kamu bekerja karena tidak mampu urus anak sepanjang hari sepanjang waktu tanpa libur. Itu tidak apa-apa, jangan malu mengakuinya.

Jd.id Dijamin Ori (bukan endorse)

on Sabtu, 06 Juli 2019

Bahan tulisan yang bener-bener surprize. Oh hidup 😣

Sebuah nomor asing nelfon pagi-pagi sekitar jam 7. Aku yang emang selalu abai dengan nomor baru ya masa bodoh aja, ditelfon berkali-kali pun biarlah. Mendadak dapat sms dari ecommerce kalau paketku sedang dalam perjalanan antar ke rumah. Aku masih sebodo amat itu karena merasa tidak beli apa-apa. Malah mbatin "dih, nyesel udah instal apk ecommerce itu. Orang nggak beli apa-apa mosok mau nipu bilang paket sedang dikirim ke rumah".

Siang jam 10an, buka hp lagi. Mbatin lagi, "ini nomor asing kenapa nelfon mulu". Lalu ke pesan WA dan surprisingly "saya X kurir ecommerce Y mau antar pesanan njenengan". Aku balas santai dong kalau aku tidak beli apa-apa. Terus karena berpikir bahwa kenapa penipu ini ngotot banget mau kirim barang, aku buka apk ecommerce itu. Ternyata aku sudah klik buy sejak tanggal 01 lalu. OH HIDUP 😥😥😥

Telfon kurir, bilang maaf kalau aku salah, ternyata aku emang tanpa sengaja klik buy. Ya sudah kirim saja mau gimana. Aku harus tanggung jawab kan, tidak peduli apa.

Kadang, kebodohan itu bisa jadi berkah sekaligus musibah ya. Nggak enak juga karena beli tanpa ijin mas Bely dulu. Dulu sering gitu sih tapi makin melek financial literacy sudah nggak gitu lagi. Dulu bebeli apa-apa asal duitnya ada ya beli aja. Sekarang harus pikir matang-matang kapan barang itu benar-benar dibutuhkan, budget berapa, cashflow posisi gimana, dkk. Dan semua harus lewat diskusi berdua (terlebih kalau harga barangnya bernominal sebesar barang yang aku tidak sengaja beli ini).

Tidak apa ya, wong sebenarnya aku butuh barang ini juga. Cuma ya waktunya nggak sekarang banget. Biarlah, anggap saja berkah lol.

Dua Garis Kedua (the last part)

on Jumat, 05 Juli 2019

Alhamdulillah dramanya sudah berakhir tapi aku masih ingin menuliskan beberapa hal tentang punya anak (lagi).

Pada akhirnya aku pasrah kalau harus ada anak lagi ya sudah, sudah takdirnya harus dijalani, kan. Sekalipun manusia mengusahakan untuk tidak kalau Allah berkeras iya, bagaimana mau menolak tetapanNya? Pada akhirnya hanya bisa menjalani dengan mencoba ikhlas.

Memberanikan diri untuk mengecek kehamilan, dan satu garis, alhamdulillah. Aku menangis dan sujud syukur; berterima kasih tak terkira pada Allah karena iyaku masih iyaNya. Langsung ke bidan saat itu juga untuk KB. Anw, sekalipun KB, aku dan mas Bely selalu main aman hlo. Mana berani kami berhubungan saat masa subur. Tidak pas masa subur saja spe**a tetap keluar diluar wahaha. Maaf vulgar. Karena memang setakut itu. Dan jujur, frekuensi seks kami sangat sedikit setiap bulannya. Sekali lagi, karena memang setakut itu.

Makanya karena kami sudah berusaha menjaga tapi kok Yang Kuasa tidak sekata, wajar kalau kaget. Kaget kenapa mensku bisa mundur. Mosok bener hamil lagi. Ya udalah kalau memang harus ada nyawa baru dalam hidup kami, mau diapa kalau bukan diterima penuh ikhlas. Tapi alhamdulillah, sekali lagi, nyawa baru itu tidak ada.

Kenapa sih setakut itu punya anak sampai menjaga bener-bener banget? Apalagi setelah drama mundur mens ini, penjagaan akan diperketat. Wkwkw.

Bukan apa-apa. Hanya, punya anak bukan masalah gampang. Misalpun kita mengesampingkan masalah financial, aku tidak bisa harus mengorbankan kebebasanku untuk makhluk baru (lagi). Jahat ya. Nggak salihat banget ya. Emaang.

Karena jadi ibu itu lelah, memang sedang jihad wajar kalau lelah. Boleh istirahat nggak? Bagaimana definisi istirahat menurutmu? Bukankah jihad memang berat maka harus lelah? Seandainya Rasul sering-sering beristirahat karena lelah, kiranya sekarang apa kabar kita umat Islam. Maka, kalau sedang jihad ya jangan setengah-setengah. Karena lelah yang lillah berpahala jannah.

Nah, masalah utamanya adalah aku tidak bisa harus berlelah untuk satu nyawa (lagi). Cukup nyawa yang sekarang menjadi medan jihadku aku masih sering berkesah dan mengeluhkan ini itu. Bagaimana kalau harus jihad untuk dua nyawa. Ah, tak kuasalah.

Banyak ibu salihat yang tiap tahun punya anak dan tidak banyak mengeluh lelah meminta istirahat. Banyak, dan beberapa dari mereka aku kenal baik. Sayangnya, aku tidak (belum) bisa menjadi mereka; aku masih cinta pada diriku sendiri melebihi jalan jihad ini. Sesusah itu berbenah menuju salihat serius.

Maka, aku menyarankan pada siapa saja kalian: JANGAN MENDOAKAN PASANGAN BARU UNTUK SEGERA PUNYA ANAK ATAU SEORANG ANAK PUNYA ADIK LAGI. Bisa jadi memang pasangan baru itu memang mau menunda kehamilan karena beberapa pertimbangan. Kalau memang tidak ada rencana menunda dan berharap segera dititipi momongan sih ya doakan aja nggak apa. Tapi kalau memang niatnya menunda, kelyan tidak usah nyinyir wkwk. Mendoakan seorang anak punya adik lagi juga hal sensitif hlo. Tidak semua orang tua berharap ada anak kedua. Karena sekali lagi, membesarkan anak bukan perkara dia tumbuh sehat dengan baik, BUKAN!

Mohon maaf dosa sebenarnya. Tapi serius, punya anak itu jenis kerompangan yang tidak terurai kalimat dan tak lekang waktu. Serius, punya anak tidak semain-main itu: this is the way we called jihad. Tidak sebercanda: ibu capek, anak titipin embahnya dan ibu jalan-jalan. Asal stok ASIP aman mau pulang kapan-kapan urusan gampang. Tidak sebercanda itu.

Kalau menyusui memang pekerjaan sampingan, apa gunanya Aminah menitipkan anaknya untuk disusui wanita gunung bernama Halimah? Renungkan, bu!

Ps: Aku muslim. Sewaktu SMA ustadzku pernah bilang bahwa pada masanya kami, muridnya akan dihadapkan dengan kaum feminis, liberalis, sekuler; yang tidak menggunakan islam sebagai dasar hidupnya. Maka diatas aku menuliskan bahwa mengasuh anak adalah jihad yang memang wajar kalau lelah karena jika dilakukan dengan lillah berpahala jannah. Padahal aku tahu, begitu pula kalian, apa yang sering orang-orang tulis tentang mengasuh anak; me time lalala yang bikin ibu sering keblinger dunia.

Sementara disisi lain aku sangat ketakutan kalau dua garis kedua itu menyata. Memang, muslimku belum kaffah layaknya wanita salihah. Maka, karena jihad memang harus lelah, aku tidak siap dengan kelelahan itu. Memang, hanya setinggi ini kadar imanku.

Mohon maaf jika tidak sepemikiran.

Dua Garis Kedua (part 3)

Mereka yang mendoakan semoga anakmu segera punya adik adalah mereka yang tidak tahu betapa beratnya mengasuh bayi. Golongan ini adalah mereka yang belum menikah, tidak segera diberi momongan padahal usia pernikahan sudah tua, sudah punya anak tapi masih dibantu asuh oleh banyak orang, atau para ningrat yang semua hal keduniawian cemepak di depan mata sehingga tidak perlu mumet kalau punya anak (lagi).

Iya, aku selalu kesal dengan mereka yang mendoakan semoga Kaisar segera punya adik. Men, kondisi financial kami, karirku, ah! Memang setiap anak membawa rejekinya masing-masing, tapi merupakan keharusan sebagai orang tua memberi yang terbaik bukan sekedar semampunya tapi wajib dimampukan, bukan? Sudah, cukup rasa bersalahku pada Kaisar yang tiap hari kuajak menangisi ketidakjelasan masa depan, yang tidak kuat memberikan vaksin lengkap sesuai anjuran IDAI, yang tidak bisa membelikannya baju, stroller, bantal, gendongan, dan mainan mahal. Sudah, cukup pada Kaisar saja.

Kenapa tidak mendoakan aku semoga dapat pekerjaan yang bagus, yang gajinya bersisa banyak untuk mendaycarekan Kaisar di tempat terbaik. Kenapa malah mendoakan hamil lagi?

Oke, punya anak adalah jihad terbesar orang tua. Tapi bu, bukankah kamu lebih memilih aktualisasi diri daripada mengasuh anakmu? Kamu masih berlomba menyuarakan me time yang aku tidak paham sama sekali esensinya. Kamu kesana kemari layaknya gadis tanpa tanggungan nyawa. Dan anakmu? Kamu titipkan! Itu jihad?

Bu, jihad itu konsekuensinya lelah. Namun, lelah yang tidak lillah tidak mendapat jannah. Jihad itu tidak ada kata istirahat sebentar. Jihad itu berat, bu! Dan jihad terberat seorang ibu adalah mengasuh new born. Dipikir bagaimanapun, dengan kondisi yang sekarang, aku tidak kuasa kalau harus ada dua garis kedua! So many things i want to do. Kesemuanya hanya bisa kesampaian kalau tidak ada new born lagi dalam waktu dekat ini dihidupku.

Makilah aku karena imanku lemah. Tidak apa-apa. Aku memang bukan hamba yang bersedia berjihad terlalu berat. Aku mengakuinya dan aku memohon ampun padaNya. Punya anak lagi, jihad berat lagi, sungguh aku tidak mampu membayangkan akan segila apa.

Exactly masalah selesai jika aku bersedia menitipasuhkan anakku. Tetapi menitipkan kepada yang bukan ahlinya bukanlah jihad menurut versiku. Jihad itu kalau aku full mengasuh sendiri, atau aku bekerja dengan gaji yang setidaknya sekedar cukup untuk memberikan mereka lingkungan yang baik; sebut saja daycare mahal. Kalau cuma dititipkan pada pengasuh sak-sake atau ke simbahnya, BIG NO bagiku. Karena aku yakin parenting styleku jauh berbeda dengan mereka. Bahkan bukan jaminan day care mahal akan memiliki keyakinan parenting yang sefrekuensi denganku. Tapi setidaknya pengasuh daycare akan menurut kalau aku ingin ini itu; karena mereka pintar, disekolahkan!

Lebih baik anak satu tapi dibesarkan dengan segala kebaikan daripada beberapa tapi dibersamai beberapa cela. Its not mean yang anaknya beberapa buruk dan yang anaknya satu selalu baik. Hanya, kalau belum mampu dua, ya jangan ada dua garis kedua. Sudah.

Kaisar, iya aku bangga dan kalau tidak takut pada Allah bisa saja kusombongkan segalanya pada kalian. Aku bangga anakku adalah Kaisar. Sudah, cukup. Aku tidak ingin menulis lebih tentang kalimat takabur apapun. Yang jelas aku tidak menyesal telah memilih mengasuh daripada bekerja. Aku hanya merasa bahwa pengorbananku tidak sia-sia.

Seandainya ada dua garis kedua, aku tidak kuasa harus berkorban lagi untuk nyawa baru itu. Tapi disisi lain aku harus. Dan pilihannya hanya dua: mengasuh (lagi) atau mendaycarekan di tempat terbaik yang benar-benar baik (red. MAHAL). Sedihnya, pilihan satu (untuk sekarang) terdengar lebih mungkin daripada pilihan dua, yang berarti aku harus mengorbankan kebebasanku sebagai wanita milenial, lagi. Dan, aku tidak kuasa.

Doakan saja, semoga tidak ada dua garis kedua. Terima kasih.

Dua Garis Kedua (part 2)

Sedang luang dan pengen nulis tapi bingung mau nulis apa. Hanya aku sedang sangat takut kalau memang benar akan ada dua garis kedua.

Tidak perlu dibikin rumit, hidup sudah rumit dengan sendirinya. Kehamilan pertamaku tidak direncana juga sebenarnya. Dan kondisi kami waktu itu; finansial, mental, dan fisik; jauh dari kata cukup. Kalau memang benar sedang hamil, kenapa sekarang semua hal terasa lebih menyeramkan?

Diskusi dengan mas Bely akan semua drama ini. Dia bilang, memang sekarang kondisi kami membaik. Jauh lebih dari baik daripada kehamilan pertamaku. Ibaratnya dulu itu bangkit saja tidak bisa, sekarang kami sedang berusaha merangkak. Dan justru disitulah letak kekhawatiran kami. Baru saja berusaha merangkak, kenapa mau diinjak lagi sampai rasanya melulu bertanya "apa bisa tetap merangkak? Apa tidak akan jatuh lagi sampai bangkit saja tidak kuasa". Iya, melulu dunia sih. Malu ya.

Ah. Ada Allah yang Maha Segala. Serahkan saja padanya. Bukankah nyawa itu milikNya?

Huhu aku mau nangis waktu nulis ini. Doakan semoga tidak ada dua garis kedua ya 😣

Dua Garis Kedua

Sebenarnya mensku sangat tidak teratur semenjak melahirkan, bahkan sampai sekarang. Kadang mundur, kadang maju banget, kadang sebulan dua kali malah. Amazingnya, sepanjang tahun ini mensku selalu maju bahkan kadang sebulan dua kali. Tapi bulan ini kenapa belum mens ya 😥😥😥😥.

Takut hamil lagi? Jujur ya, BANGET! Punya anak itu berat, sudah berat hamilnya, berat menyusuinya, berat ngasuhnya. Apalagi satu tahun pertama kehidupan bayi. Masya Allah, nggak kuat kalau harus ngulang lagi. Tiap hari adanya kemrungsung, marah-marah, semelang, whats else; semua rasa yang bikin hidup tidak nyaman. Belum lagi biayanya; biaya periksa, biaya persalinan, biaya hidupnya setelah dia lahir. Anak satu aja mikir duitnya mumet, gimana kalau dua.
Dan yang paling bikin aku kesel adalah "hlah, momong lagi? Serius?". Iya, sekesel itu. Aku ingin berkarir, seutuhnya menjadi wanita bebas tanpa terbabani atas hidup bocah. Kalau aku bekerja, harus mendaycarekan dua anak, kalau aku tidak bekerja; Ya Allah aku bosan! Belum lagi, tidak ada income kedua, dapat uang darimana agar kami bisa hidup cukup dan layak seperti sekarang. Second opinionnya adalah satu day care, satu diasuh simbahnya. Tapi aku terlalu berat hati kalau anakku harus diasuh simbahnya. Tidak, harus tidak kejadian. Semoga Allah kabulkan.

Complicated ya.

Maka, serahkan segala sesuatu pada Sang Pemilik Kuasa. Ia Maha Segala dan tahu mana skenario hidup terbaik untuk manusia. Yang perlu kamu lakukan adalah menaati perintahnya. Rempong urus anak, uang, kehilangan kesempatan menjadi wanita bebas (lagi) semua semata dunia dan itu urusan remeh temeh. Percayalah Allah memudahkan. Kalau memang harus dua garis kedua, terima saja. Ia sebaik-baik Maha Tahu skenario terbaik untuk alur ceritamu.

Dari semua doa yang kupanjatkan, aku memohon dengan khusyuk kepadaMu dan mengafirmasi diriku sendiri "aku tidak sedang hamil lagi". Aamiiin.

Aku dan Mimpiku part 2

on Sabtu, 29 Juni 2019

Karena dari dulu modal hidupku itu cuma MIMPI. Ada yang menyata, ada yang entah apa kabarnya, ada yang ambu-ambunya bablas aja. Ya ndak apa wong namanya mimpi.

Banyak yang menyata atau yang tidak? Sepertinya banyak yang menyata.

Jadi, meskipun sekarang mimpiku (lagi-lagi) terdengar ketinggian dan tidak masuk akal, bodo amat! Aku percaya Allah Maha Kuasa dan semua sudah tertetap olehNya. Tinggal berusaha saja sekuat tenaga. Perkara hasil, Allah tidak pernah keliru dengan takaranNya.

Bos, anw, usahanya juga dilogika hlo. Sekiranya nggak mungkin mampu ya jangan dipaksa. Mimpinya aja yang jangan pakai logika. Wkwk.

Aku dan Mimpiku

Barusan ngobrol sama temen umbel via whatsapp. Dia bilang bahwa sejatinya tidak ada mimpi yang meninggalkan kita. Kitalah yang berhenti mengejarnya.

Lalu aku langsung ndusel-ndusel toodlerku yang lagi susah makan. Iya, benar. Aku meninggalkannya; mimpiku. Aku memilih makluk yang mendadak ada dalam hidupku daripada mimpi yang rapi kutulis entah sedari kapan.

Iya, benar. Awalnya susah sekali menerima kenyataan bahwa aku dinyatakan hamil dan tidak lolos seleksi administrasi beasiswa yang pradugaku karena hal sepele (tidak mengunggah surat keterangan sehat). Dua hal paling mengentekkan hati terjadi di tahun yang sama berjarak sebulan saja. Bagaimana rasa sensitifku? Ku misuh-misuh gaes mikir takdir yang mblereng. Ya Allah, ampunilah. Lol.

Ditambah kondisi ekonomi kami (aku dan suami) jauh dari kata stabil. Sepanjang kehidupan perhamilanku aku hanya bergulat dengan tanya pada diriku dan takdir masa depan, "Haruskah setelah jabang bayi ini lahir, aku meninggalkannya untuk mencarikan ia makan? Ibu macam apa aku. Sementara dalam list mimpi sepanjang rentetan gerbong Lodaya itu salah satunya adalah menjadi ibu yang stay di rumah menemani anak 24jam seharian? Haruskah semua list mimpi itu tak ada yang tercontreng? Iyakah semua silang? Omg hellooowww, hidup gue amblas gini dimana Engkau, Allah?".

Akhir tahun anakku lahir dan hidupku makin berasa berantakan. Ibarat piring, dibilang pecah saja tidak cukup. Remekmekmek sak emekemeknya laah pokoknya. Menggalau sejadinya-jadinya entah sampai anakku umur berapa baru aku bisa terbangun. Bahkan dalam bulan pertama ia hidup, aku masih berharap kelahirannya hanya mimpi. Iya, semacam berharap dia jangan ada padahal nyatanya dia sudah kutimang.

Mungkin 3 bulan setelah ia hidup, barulah aku benar-benar sadar.

Iya, meskipun masa sekarangku bukanlah masa depan yang diharapkan masa laluku; TAPI AKU BAHAGIA. Aku memiliki Kaisar dan mas Bely yang tak henti-hentinya membuatku tersenyum, yang membuatku banyak berdoa, yang mendekatkanku pada pemilik kami bertiga.

Terima kasih Allah telah menakdirkanku tidak lolos seleksi beasiswa. Terima kasih Allah telah menakdirkanku meteng dan berakhir momong. Aku sungguh bahagia menjadi ibu yang 24 jam ngurusi rumah. Sekalipun belajar sudah menjadi prioritas terakhir, tetap bisa to ra ketang sambil tikluk tikluk ngantuk. Sekalipun baca jurnal in english itu berakhir keturon, toh tetap kebaca to. Lagi pula ini belajar tanpa berujung ujian. Sebisanya aja, betul? Lol. Pembelaaan.

Bukan Sekedar Pindahan

on Sabtu, 12 Januari 2019
Setelah baca tulisanku tentang kepengenan jauhin anak dari lingkungan yang menurutku tidak sesuai dengan nilai baik dan benar versiku, suami komen "Nek koe pengen pindah omah, aku siap". Enggak sih, poinnya bukan sekedar pindahan omah menurutku.

Jauhin anak dari lingkungan yang nggak sesuai sama nilai kita bisa lewat sekolah, atau aktivitas luar rumah misal course atau ajak anak bisnisan apa gitu (yang terakhir ini mohon doa ya, moga segera realisasi, lancar, dan berkah rizkinya). Asal tiap hari pergi dari rumah, nggak ngendon aja di rumah.

Dulu lulus SD aku sekolah di SMP yang pada masanya, bagiku dan keluarga udah pride banget bisa sekolah disana. Secara, di kotaku aja belum ada jenis sekolah cem SMPku pada masa itu. Dan karena sekolahku full day, aku jadi nggak pernah maen bahkan ke rumah mbah tiku yang cuman 100m dari rumahku. Bagi ibuku kala itu, nilai dikeluarga besar kami tidak sesuai dengan nilai ibuku. Makanya ibuku jauhin aku dengan sekolah full day. Waktu itu aku baik-baik sajakah? Jelas tidak ya. Tidak sama sekali. Tapi pada akhirnya setelah aku dewasa, aku sebersyukur ini kok. Terima kasih, mama, bapak.

Jadi, misal pun nanti Kaisar harus banget sekolah di sekolah sekitar lingkungan kami, ya nggak pa-pa banget. Tapi habis sekolah, ambil course sampai malam. Akhir pekan kita pergi kemana gitu sekeluarga. Biar aja dikata nggak pernah srawung orang. Kenapa banget harus srawung kalau emang bagi kita nggak sesuai, nggak cocok aja gitu.

Sampai-sampai aku pernah dikatai temenku "Koe ki wong ndeso tapi kok ra ngetoki nek ndeso to". Bukan masalah fashion atau logat sih ini. Lebih ke mind set aja. Temenku merasa cara berpikirku luas gitu, dan seenggak peduli itu dengan nggak akrab sama tetangga. Bodo amat dah! Lol.

Bedeweh aku emang tinggal dilingkungan yang (sekarang ini hlo ya, moga nanti membaik dengan menjamurnya ilmu yang gampang diakses) tingkat pendidikan masyarakatnya masih rendah. Ilmu apapun ya, nggak cuman ilmu yang didapat dari sekolah tapi juga ilmu agama gitu-gitu. Tahu sendiri kan, kalau pendidikan rendah dampak buruknya kemana-mana. Aku agak malas untuk tulis takutnya nggak bisa rem emosiku. Nggak kondusif bangetlah untuk gedein anak kalau kataku. 

Karena Jadi Orang Tua itu BERAT

Ketika anak umur satu, suka ditontondengarkan dangdut dengan penyanyai aduhai yang joget-joget sambil mendesah manjah.
Kalau nonton dan dengar begituan sudah jadi kebiasaan, ketika sudah dewasa maunya lihat yang lebih aduhai.
Lebih dewasa lagi, ikut nonton kalau ada acara dangdutan. Iya, nonton live para mbak-mbak cantik itu berjoget tak pantas.
Makin gede, udah nggak sekedar nonton, tapi ikut joget-joget.
Lama-lama ikut joget aja nggak cukup. Sambil grepe-grepe para biduan juga.

Terus nanti endingnya kalau metengi anak orang kita bilang ke anak "BOCAH KOK NGISIN-NGISINI WONG TUO". Hai, wong tuo, siapa juga yang nggak bisa jaga anak? Dieling-eling lagi ya, pakde bude semua.

Kalau pun belum sampai tahap metengi anak orang, icip-icip seks bebas udah banget lah. Dan sebagai orang tua, antara tutup mata dan pura-pura bodoh atau membodohi diri dengan pembelaan irrasional bahwa anak kita itu suci, baik, nggak neko-neko. Nggak mungkin maen free sex. Lalu ketika semua fakta bahwa memang anak kita sudah bukan lagi perjaka, kita bilang ke mereka "NGATI-ATI NEK KARO WONG WEDOK. OJO NGISIN-NGISINKE WONG TUO".

In case anakku laki ya. Jadi aku gawe umpamanya ya untuk anak laki. Kalau anak perempuan paling ujungnya-karena role model dia biduan-biduan seksi-jadi doyan dandan seksi menarik hati. Kalau ada yang godain awalnya pakai marah-marah dulu. Nanti lama-lama digrepe-grepe bilangnya risih. Makin gede ya, udahlaaah. Habis aja. Bebas semua mau ngapain.

Kalau berakhir dengan hamil, sama, sebagai orang tua kita akan bilang "ANAK KOK NGISIN-NGISINI WONG TUO". Kalau belum sampai tahap hamil tapi kita udah membau ada pergerakan tidak wajar dalam pergaulannya, kita bilang "OJO NGISIN-NGISINI WONG TUO".

Semata aku curhat aja ya. Nggak maksud judge semua kakak-kakak penyanyi dangdut sama dengan perempuan nakal yang hobi aksi porno. Tetep lah yaa, dangdut itu musik tradisional Indonesia dan patut dilestarikan. Tapi kudulaah, ada value yang butuh dijaga. Ye kaaan.

Kalau kalian tinggal di desa pasti paham bener laaah sama yang aku tulis. Nggak tahu juga kenapa, orang desa sukanya nonton dan dengerin dangdut dengan penyanyi yang sensual itu. Anak dibawah umur pun udah ditontondengarkan juga. Sedih nggak sih lihat fenomena begituan? Kalau kamu jadi ibu, kiranya hal apa yang kamu lakukan ketika yang ditontondengarkan itu anakmu? Aku pernah hlo diposisi itu dan aku nggak bisa jaga anakku dari menonton dengar hal-hal yang seharusnya tidak dia saksikan. Semoga sekali itu aja wis, anakku nonton dengar begituan. Big emooooh kalau keulang.

Sebenarnya yang mau aku tekankan disini buibu pakbapak, betapa sejatinya kitalah yang menjerumuskan anak kita menjadi diri yang tidak benar entah dalam nilai apapun. Ketika anak sudah melenceng terlalu jauh dari nilai-nilai yang tertetapkan, kita marah-marah. Padahal kesalahan itu, kita yang mula-mula menanamnya.

Sering juga kita minta anak punya nilai baik dan benar sementara kita nggak pernah ajar dan contohkaan nilai-nilai baik dan benar itu. Kita sendiri pun tidak pernah berusaha punya nilai-nilai yang baik dan benar. Logis kan kalau anak nilainya nggak baik dan nggak benar, kitanya aja zonk.

Maunya punya anak hebat tapi kita sendiri nggak bisa kasih contoh biar jadi hebat itu gimana. Masih sering berharap kembali ketika memberi. Semacam menyayangi dengan ekspektasi gitu. Misal nih, kita berhasil sekolahin anak sampai jenjang tertentu terus anak kerja di tempat yang bagus dan gajinya gede. Sebagai orang tua, kita berharap dikasih jatah bulanan karena merasa berjasa atas capaian anak. Ya Allah buk, udah kewajiban banget ya untuk mengantarkan anak ke depan pintu suksesnya.

Serius hlo. Buanyak orang tua cem gene. Mereka memberi dengan harapan kembali. Baru tahu anak penghasilannya gede aja udah minta neko-neko. Nggak pa-pa banget ya, kasih duit atau apapun ke orang tua. Bahkan tiap bulan kasih sesuatu itu nggak pa-pa banget. Tapi jadi orang tua hendaknya tahu diri lah yaaa. Apalagi kalau anak kita laki (ngingetin diri aja sih). Mereka ngopeni anak istri hloo. Barangkali sebelum mencapai gaji yang besar, mereka pernah terseok-seok bahkan jatuh dalam hutang yang nggak sedikit. Jadi ketika terima gaji besar, sebagian gaji digunakan untuk cicil hutang. Kalau ibuku mengibaratkan padi, baru mulai bertumbuh aja udah dicabut.

Ini kenapa sih kok bahasnya sampai sana. Intermezo sambil tjurhat dikit boleh dong ya. Hlooooooh. Lol lol lol lol.

Balek lagi ke nilai, ah. Keterusan curhat jadi blak-blakan nanti kasih contohnya. Hlohlohlol piye sih. Pengalaman pribadi hlo ini bedeweh. Jujur! Wkwk

Kalau kamu nggak jamin anakmu bakal tumbuh dengan nilai-nilai yang baik disuatu lingkungan, tinggalkan lingkungan itu. Kalau dinyinyir gimana? Kalau lingkungan yang harus ditinggalkan itu masih keluarga gimana?

BODO AMAT!!!

Kamu mau menanggung beratnya nilai buruk yang akan tertanam dalam diri anakmu? Masih mengutamakan pekewuh, ya tanggung sendiri aja kalau anakmu tidak tumbuh sebagai pribadi yang sesuai nilaimu. Jangan salahkan anakmu.

Inget ya semua, nggak ada anak yang salah di dunia ini. Adanya orang tua yang nggak bisa gedein anak dengan benar. Orang tua yang nggak bisa kasih ajar dan contoh nilai-nilai yang baik dan benar.

Iya, jadi orang tua nggak semain-main itu. Ada banyak hal yang harus kita jaga tentang anak kita; perasaannya, dirinya, pikirannya. Malulah pada Allah kalau tidak bisa nggedein anak dengan baik dan benar, bukan pada manusia.

Ps: nanti kalau kamu sudah besar dan kamu baca tulisan ini dan kamu merasa bahwa mama belum bisa ajarkan kamu nilai-nilai yang baik dan benar, maafkan mama ya nang. *dan-nya banyak amat sih lol*

GTMnya Kaisar dan sedikit tentang MPASI

on Minggu, 06 Januari 2019
Dibahas oleh bukan expert ya. Sebatas yang aku tahu aja dan kalau tentang GTM, pure pengalamanku. Satu case, mean casenya Kaisar, nggak bisa dicompare sama case lain.

Ngomong-ngomong, aku mau ngeluh dikit boleh ya. Hari ini kok aku capek buangggweeeet ya. Berasa lebih capek aja dari pada kemaren kemaren dan kemarennya. Mungkin karena momongnya kurang Lillah. Ampunilah ya Allah.

Oke lanjut GTM yang pernah kejadian sama Kaisar. Awal MPASI maemnya lancar. Tapi baru seminggu maem mungkin, udah mulai menunjukkam gejala malas makan. MPASI pertamanya Kaisar itu menu tunggal, btw. Dan murni row material semua tanpa gulgar dan bumbu aromatik. Semenjak dia susah mangap, aku kepikiran untuk kasih bumbu aromatik dan langsung empat bintang. Alhamdulillah mau mangap lagi. Tapi lama-lama aku merasa kok ada yang nggak bener ya dalam perMPASIan ini.

Alhamdulillah aku ketemu sama ig yang bener-bener faedah dan helpful gitu. Akun ignya @metahanindita. Follow yaaa, insya Allah cocok lol. Dokter cerdas nan cantik ini membeberkan fakta perMPASIan via insta story disertai bukti ilmiah yang kredibel. No doubt lah untuk percaya.

Dan benar sodara, aku salah. Salah dalam hal penggunaan gulgar dan ketidaktahuanku tentang takaran per sekali makan. Ternyata penggunaan gulgar untuk MPASI awal itu dibolehkan hlo. Dan per sekali makan, bayi harusnya mampu makan sebanyak takaran yang ditentukan.

Setelah menambahkan gulgar dalam menu MPASI Kaisar, maemnya mulai lahap. Tapi tetap tidak sebanyak yang harusnya ditentukan. Akhirnya aku coba kasih makanan instan (makanan terfortifikasi). Hlah boleh to? Boleh kok. Boleh banget, legal, halal, dan malah menyelamatkan kalau memang urgensi tinggi dalam case tertentu seperti Kaisar ini misal. Baca-baca aja di hilight insta storynya dokter meta.

Lama-lama, makanan terfortifikasi pun Kaisar emoh, pemersah. Sekitaran usia 8 bulan kalau nggak salah. Akhirnya aku menyerah dengan MPASI. Ku kasih aja bubur-bubur beli gitu. Tapi itu nggak lama. Beberapa minggu doang, Kaisar nggak mau mangap lagi makan bubur-bubur beli itu.

Sekitar usia 10 akhirnya aku memutuskan kasih makan Kaisar ala kadarnya aja. Makan apapun makanan yang aku makan nggak peduli sama tekstur juga. Alhamdulillah malah mangapnya lancar lol. Berat badan aman juga. Makin kesini aku makin teledor. Kasih makan bener-bener sembarangan.

Akhirnya umur 12 dia sakit. Habis itu mulai observ habis-habisan dan rajin masak nggak kasih kendor. Kadang males juga deng wkwk. Maaf ya nang.

Ternyata GTM Kaisar selama ini karena dia bosen sama makanan yang dia makan. Akunya kurang variatif dalam kasih makan. Dan beberapa rasa, dia ada yang nggak suka, misal manis. Dia lebih suka agak pedes merica gitu ketimbang rasa manis.
Kaisar juga gak gitu suka kalau makan nasi sama sayur berkuah digabung. Jadi makan nasi dulu sama prohe prona. Habis itu baru makan sayur berkuah.
Kaisar sukanya nasi anget. Kalau nasinya udah dingin, lepeh.
Dan, dia gemar micin. Dia mau makan sama kuah kalau lauknya bakso yang beli di babang tukang bakso. Hlah, micin boleh dikasih ke bayik? Boleh koo, baca-baca aja ignya dokter Meta. Tapi tetep sih, aku bilang ke babang tukang baksonya kalau kasih micinnya dikit aja. Kadang juga suka minta nggak usah kasih micin. Nanti di rumah aku kasih sendiri beberapa biji. Atau kalau nggak bilang nggak usah kasih micin, di rumah kuahnya kutambahin aer. Biar jadi banyak juga kaaan lol.

Ngomongin MPASI nggak lepas dari ngomongin pup juga kaan. Dulu, sebelum umur 12, pupnya luancar. Hampir tiap bangun pagi pup dan ngedennya biasa aja, normal. Masuk umur 12 sampai sekarang ngedennya suka horor. Pernah lima hari baru pup. Dan aku nggak treathmen khusus, bodohnya itu. Harusnya kupijat ILU kan yaa. Eh, ini akunya teledor banget. Semenjak dia sakit di umur 12, kalau udah 2 hari nggak pup, malam hari waktu dia tidur kupijat ILU sambil berdoa moga pup lancar. Dan ngefek sih pijat ILU ini kalau di Kaisar. Tapi tetep, kadang ngedennya suka horor.

Aku kadang berpikir untuk turun tekstur. Tapi kenapa harus turun tekstur kalau di tekstur yang sekarang dia nggak GTM. Galaunya ya masalah pupnya. Padahal minum air putihnya buanyak kenapa masih susah pup ya. Sementara ini dugaanku karena dia jarang makan buah macam buah naga gitu. Dia nggak doyan entah kenapa. Pisang sama pepaya juga jarang. Pisang masih mau sih. Kalau pepaya dia nggak doyan juga. Mungkin aku perlu lebih rajin dan kerja keras biar dia doyan sama buah-buahan. Jujur ya, aku kurang kerja keras dibagian kasih buah sama sayur selama ini.

Sekali lagi, semua itu semata sharing pengalamanku dan aku nggak punya DSA khusus karena Kaisar nggak imun sesuai anjuran IDAI ya. Nggak ada duitnya lol. Imunnya sesuai buku pinknya Kemenkes (KMS) ajah. Jadi aku nggak pernah konsul sama expert masalah MPASI. Kalau kalian ada yang punya case samaan tentang MPASI (apalagi mengenai pup yang sering susah itu) dan udah konsul ke dokter, aku mau dong dikasih bocoran saran-sarannyaa. Wkwk. Moga anak-anak kita selalu sehat, bahagia, lancar semua-muanya, dan anaknya salih salihat ya buibu. 

Alaala blogger kenamaan-Resolusi NiaHaji, irrasionalGIRL, 2019

Panjang amat yah judulnya. Biar deh. Emang harus gitu kok. Sepanjang daftar resolusi 2019ku. Iya, sepanjang itu. Salah satunya adalah nulis di blog seminggu 2x hari rabu dan sabtu. Tapi kok ternyata kemarin udah rabu dan aku belum nulis. Mundur sehari dimklumi lah yaa. Ibu satu anak tanpa nanny kok yoo. Lol lol lol.

Telat sih ya kalau ngomongin tentang resolusi. 2019 udah mulai jalan 3 hari, mosok baru nulis resolusi. Gak papa sih telat menurutku daripada tidak. Telat-telat juga baru 3 hari. Pembelaan banget, ah. Wahahaha.

Oke, jadi insya Allah aku mau menyiksa diriku keras-keras biar bisa taat sama rupa-rupa resolusi yang udah aku tulis. Doain ya moga bisa konsisten. Karena sepengalan 25 almost 26 tahunku, yang paling susah untuk aku afford adalah KONSISTEN. Sepele kan. Iya, semalas itu aku. Ibu macam sih. Cuuuh banget!!

Berharapnya juga blogku ini membawa faedah gitu ya seiring dengan (berharapnya) kerajinanku menulis. Rencana aku mau mendedikasikan blog ini untuk tjurhatan seputar rumah tangga sih; tentang ibu yang full di rumah bersama anak dan seabrek kerjaan rumah yang gitu-gitu mulu tapi entah gimana kisahnya kok berasa nggak pernah selesai lol.

Selamat menempuh hidup lebih baik semuaaa. Selamat 2019. Yang kemarin belum sempet nulis atau belum kepikiran nulis resolusi, ayo tulis aja sekarang. Cus yaaa. Yang nggak paham apa itu resolusi (aku juga termasuk sih), tulis aja apa yang kalian ingin afford di tahun, apa mimpi kalian, apa hal yang ingin kalian tekuni. Sesepele itu aja. Cus sana tulis. 

Nyinyiran Subuh Hari

on Jumat, 30 November 2018
Aku heran sama medsos yang melulu meributkan ibu pekerja dan ibu di rumah; sama-sama bagus, nggak ada jeleknya, lallalala. Kok menurutku mereka ngomongnya ngawur gitu ya. Padahal jelas hlo, di al-qur'an tertulis kalau wanita lagi menyusui, ada baiknya untuk fokus menyusui. Biar suami yang cari duit kalau memang mampu. Kalau nggak mampu, ya nggak paap wanitanya ikut bantu cari duit. Ada keringanan untuk mereka.

Nah, ini sayang bgt. Nggak tau orang sekarang mikirnya pakai dasar apa. Mereka kerja untuk aktualisasi diri. Ya monggo yang berpikiran demikian. Aku sih, masih memercayai tentang dongeng ibu yahudi jaman SMA dulu ya. Cuman kalau dipikir lagi masuk akal juga kenapa ibu yahudi memilih membuang semua hasrat aktualisasi diri itu ketika masa menyusui anaknya. Sesuai amanat qur'an.

Belum lagi tentang me time atau quality time sama suami. Anak tinggal di rumah dijagain orang lain. Pernah terpikir nggak sih, kalau anak pasti kangen berat sama ibunya. Secara hlo, sembilam bulan sama-sama terus. Habis diia keluar dari perut, masa malah sering ditinggal. Kalau dia bisa mengungkapkan perasaannya, mngkin dia akan bilang kalau nggak mau pisah sama ibu barang sedetik pun. Sama-sama terus kayak dulu masih di perut. Herannya juga, kok orang sekarang nitipin anak enteng aja. Asal ada ASIP, selesai perkara. Tinggal JJS bentar nggak papa lah, asal waras. Wehladalah. Bolehlah me time, anak tinggal di rumah. Cuman ya nggak tiap hari juga keles. Tur ya kalau bisa diusahain yang jaga anak tetep bapaknya, bukan embahnya apalagi pengasuh. Toh, bukannya kalau anak masih new born kitanya keluar rumah buat beli sayur gitu aja udah adem ayem ya di ati. Nggak perlu ngemol berjam-jam dan anak ditinggal gitu aja.

Masalah qtime sama suami. Toh, bisa kaan pas malem waktu anak tidur. Di kamar sambil kelonin anak juga bisa kan, nggak perlu leha-leha duduk sambil jajan di kedai kopi.

Entaran kalau menurut keyakinan dan kepercayaan anak udah boleh diajak pergi, baru jalan-jalan sekeluarga. Qtime sama anak juga. Kenapa banget harus pnya waktu qtime sama suami dan ninggalin anak? Sadarlah mak, palingan nanti dia kelas 2 SD udah nggak mau jalan sama kamu, udah nggak butuh kamu blas. Nikmati masa itu. Ngomong ke diri sendiri sih, ini wkwk.

Bukannya aku nggak ada yang dititipin Kaisar ya, jadi aku cuap-cuap gini. Ada mbah tiku ada ibuku yang alus banget dalam urus bayi. Tapi sedari Kaisar kecil, aku emang nggak minat nitipin, sih. Mending ajak aja kemanapun aku pergi. Bisa nen langsung terus. Lagian kalau anak masih piyik gitu, payudara juga suka sakit kalau dalam berapa jam enggak dinenenin. Aku nggak perah sih, ya. Mngkin yang perah pada nggak ngrasain sakit karena toh jalan-jalan tetep sambil pumping, yee kaan? (Nggak masuk nalarku blas ibu-ibu model gini. Menyusui cuy, mengasihi, dan nggak sebercanda itu).

Jadi, aku nyinyirin ibu bekerja sama ibu yang suka wara wiri ninggal anak, nih? Iya, aku lagi nyinyir BANGET ini. Aku nyinyir ibu yang nekat kerja padahal suami mereka duitnya banyak dan kerjaannya bagus. Cukup banget kalau cuman mau makan tiap hari, nabung, inves, dan dana darurat. Nggak kurang pokoknya. Tapi istrinya nekat kerja karena aktualisasi.

"Hlo, entar nggak ada dokter wanita, njut piye no?" Wahai bu, nyusui berapa lama sih. Dua taon aja, kan. Golden age anak sampai umur tiga. Palingan kamu ngendon di rumah tiga taon doang. Sesusah itu? Aktualisasi diri bisa ngapain aja, kok. Planning masa depan anak, planning masa depan keluarga, ajarin anak banyak hal ke anak, nulis, dll. Ya, nggak? Atau mungkin muroja'ah hafalan qur'an yg sempat terlupakan lol.

Yakinlah, kalaau kamu pinter, kapanpun dan dimanapum akan tetep kelihatan pinter. Tetap banyak wawasan. Tetap bisa kerjain soal matematika wkwk. Iya hloh, aku serius. Analisismu juga masih tajam. Asal sering-sering aja gunain otakmu. Bukan mentang-mentang nganggur jadi nggak belajar sama sekali. Ingatlah bahwa jadi ibu itu belajar seumur hidup dan kamu harus memampukan dirimu untuk ditempa kehidupan sekeras apapun.

Tapi, kamu yang bekerja karena memang harus. Semangat yaa. Allah kasih keringanan, kok. Pakai aja keringanan itu. Kalian hebat dan Allah sayang kalian. Insya Allah anak-anak kalian adalah orang baik yang suayaaang sekali sama ibunya.

Jadi, kalian yang kerja cuma buat seneng-seneng doang, aku Bu Ainun garis keras lol. Bukkannya aku benci, cuman aku aware kalian. Apalagi kalau kalian muslim dan Allah nomor satu. Maka, kembalilah.

written by @niahaji

Dongeng Tentang Yahudi Jaman SMAku

Ustadku selalu cerita tentang orang-orang yahudi nggak peduli itu jam pelajaran atau jam kosong atau jam istirahat. Dan sesungguhnya cerita itu selalu diulang lol. Gitu-gituuu terus aja.

Beberapa hal yang membekas banget dan akhirnya aku berkeras pada diriku untuk tidak boleh kalah sama mereka (yahudi) antara lainberikut ini. Bagiku hebat aja, gitu. Makanya aku benar-benar emoh kalah dan kekeh pengen menyamai.

1. Orang-orang yahudi sangat cinta pada kitab mereka. Kemanapun mereka pergi, selalu bawa kitab. Aku ikutin banget ini. Tapi tau nggak, ternyata nggak gampang hlo. Sering ketinggalan wkwk. Sampai kuliah semester berapa ya, masih suka bawa al-qur'an kemanapun. Tapi sekarang udah enggak sih. Soalnya bawa pun nggak bisa baca, yee kan. Ada ucil tooh. Jadi qur'an sekarang di hp aja. Praktis.

2. Seklipun bukan muslim, orang-orang yahudi banyak yang menjadi penghafal qur'an. Nah, ini challenge banget buatku. Aku jadi ngapalin qur'an kek orang kesetanan. SMP tiga tahun aja nggak sanggup hafalan qur'an meskipun cumam satu juz, banyak lupanya gitu. Eh, waktu SMA ini aku berkeras deh, pokoknya harus hafalan qur'an banyak-banyak. Nggak taunya kok bisa. Alhamdulillah. Ya, walaupun sekarang lupa seh. Masya Allah 😭😭.

3. Sewaktu hamil, para wanita yahudi belajar matematika, fisika, musik, dkk yang bisa merangsang otak si janin yang dikandung. Nener deh, aku agak gila disini. Aku berkeras sama diriku jg untuk belajar ilmu-ilmu itu (kecuali musik sih ya wkwk-akunya gk suka). Sering minta pinjemin buku mat-fis di sekolah adek. Belajar nalar gitu deh pokoknya. Harapannya sesederhana, aku pengen anakku pinter kaya anak ibu-ibu yahudi itu.

4. Semua zionis pasti pemimpi. Apa yang mereka capai saat ini, dulunya suka diketawain orang; dibilang nggak waras lalala, nyinyiran tiada henti pokoknya. Tapi nyatanya semua tawa orang itu terbungkam oleh keberhasilan yg mereka capai. Toh, mimpi nggak bayar kaan, gratis, hak segala insan. Kenapa harus takut bermimpi?
Sayangnya,satu ini yg sama sekali nggak bisa aku tanamin dalam hidupku kala itu. Aku takut bermimpi lol. Aku takut gagal. Aku takut diketawain orang. Jadilah hidupku ya gini-gini aja wkwk.

Sejujurnya menurutku inilah basic pembentuk diri. MIMPI. Kalau kamu masih SMA, aku saranin kamu untuk bermimpi setinggi-tingginya. Kamu punya mimpi pengen jadi astronot, kerjanya di NASA, kuliahnya di UCL, dibiayai negara? Boleh banget!!! Pajang itu mimpi di dinding kamar. Percayalah pasti menyata. Coba aja kalau nggak percaya.

Iya, narasi di atas adalah mimpiku sewaktu kelas satu SMA. Tapi akunya cemen. Pengen jadi astronot, malah ambil jurusan IPS 😂😂😂. Ya karena nggak se-struggle itu sama mimpiku. Setakut itu nggak bisa raih. Padahal nyoba aja belum. Eh, udah mundur. Jangan ditiru yaaa. Jadi, wahai kamu, aku bicara dari lubuk hatiku yang paling tulus, menasihatimu mengenai suatu hal yang paling tidak aku percayai di masa remajaku dulu; BERMIMPILAH!

written by @niahaji

Menjadi Orang Tua (2)

on Jumat, 16 November 2018
Beberapa waktu kemarin, belum lama ini sih, aku bertemu temanku dan kami berbincang tentang interviunya menjadi dosen di sebuah Sekolah Tinggi di Ponorogo sana.

"Akutu sampai heran, kok bapake bisa tahu semua hal tentang hidupku. Bahkan bapake ki tahu tentang bapakku hlo".

"Hla emang bapakmu kenapa e?"

"Bapakku ki nggak pernah bisa menghargai usahaku gitu hlo be. Contohnya aja yang paling deket ini ya. Kemarin aku cumlaude kaan. IPKku itu 3,84. Bapakku masih aja bilang "katanya kamu pinter. Kok IPKnya nggak 4 sih". Bayangno be, piye perasaanku?"

Iya, temenku itu puinter banget. Nggak tau ya, bagiku dia ensiklopedi berjalan. Dan kreatif super. Ide-idenya keren banget gilaaak super pokoknya, nggak pakai KW. Masih aja ya bapaknya nggak mengakui.

Kalau kalian jadi bapak, jangan begini yaa. Seandainya aja, bapak temenku ini kasih pengakuan terhadap apa-apa yang udah dicapai temenku, aku yakin kok, dia kemarin diwisuda di Durham, nggak cuman kampus sebelah itu.

Ada lagi temenku. Dia nggak yang anak menonjol gitu jaman sekolah dulu. Eh, tahunya dia bawa kabar gembira dapet beasiswa ke luar negeri. Ternyata karena apa? Karena bapak ibunya mendukuuung banget segala rupa tentang mimpi anaknya. Bapak ibunya nggak malu sama cibiran orang tentang anaknya yang gak lekas kerja selesainya Strata Satu. Bapak ibunya selalu support dan menyakinkan kalau dia hebat, dia pasti bisa kejar dan raih apa yang dia mau.

Great kan. Tau kan bedanya. Ya gitu itu.

Menjadi Orang Tua

Kenapa ya, banyak banget dipikiran kepengen diungkapkan tapi kemalasan melulu mendera. Hrr kan yaaa.

Kalau lagi masak aja ide mengalir sederas sungai musim penghujan. Giliran di depan HP, eh mlempem kayak kerupuk tiga hari.

What's happen ya?

Tentang diriku yang jadi ibu dan blas nggak berdaya. Mau rajin blogging, eh males. Jualan online enggak yang laku tiap hari. Anak juga nggak tumbuh hebat kaya anak-anak selebgram yang no gadget lah, yang 10 bulan udah bisa jalan lah, yg motorik halusnya baguslah, BYE itu semua.

Apa salahku oh apa?

Sebenarnya akutu hobi nulis bahkan sebelum tahu dunia hlo. Iya, dari kecil aku main sama anak-anak desa yang kami semua sama; sama-sama nggak spesial. Ada sih, kadang banget tapi, main sama sepupuku rumahnya kota. Dan bagiku, dulu, dia itu dewi. Secara kita sama-sama kelas 1 SD, dia bisa baca apa aja tulisan reklame pinggir jalan, fasih ngomong bahasa indonesianya, matematikanya juga jago. Aku mah apa. Baru hafal abjad aja kali waktu kelas 1. Bodo banget ya.

Tapi anehnya aku hobi banget nulis diary, kadang juga sok-sokan buat puisi ala-ala gitu. Kelas berapa ya. Empat, lima, enam? Lupa. Pokoknya sebelum SMP. Sebelum tahu kalau dunia itu #keraslur.

Nah, setelah masuk SMP hidupku berubah drastis. Ternyata di dunia ini banyak dewi yaa. Bukan sepupuku seorang lol. Sekolahku islam nasional gitu jadi kelas murid cewek cowok dipisah. Jangan bilang gap gender lalala ya. Males aku nanggepinnya wahaha. Maap songong.

Nah, lagi, kenapa temen-temenku pada pinter semua. Pada nggak lupa kerjakan PR. Pada pakai tas dan sepatu yang bagus-bagus. Pada dijemput pakai mobil mewah. Bagiku serba WAW gitu aja, dulu itu.

Pernah, aku dihukum suruh minta tanda tangan ke ketua RT tempat sekolahku berlokasi. Pelajaran sejarah waktu itu. Dan aku, anak desa, nggak punya pengalaman babar blas, takuuuuut banget kala itu. Rasanya pengen kencing berdiri gitu. Akhirnya sih hukumannya diperingan dengan minta tanda tangan kepala sekolah DOANG. Yang bagiku, anak desa ini, masuk kategori horor juga.

Tapi aku berterima kasih sama guru itu. Berkat hukuman beliau kepada anak dari SD desa yang gurunya aja sering lupa kalau kasih PR, aku jadi berasa bijak gitu jadi guru. Tanya dulu, cari tahu dulu. Jangan judge apapun pada murid! Mereka berasal dari daerah yang berbeda, dari tipe orang tua yang beragam. Iya, barang kali ada sesuatu dalam diri mereka yang butuh bantuan penyelesaian. Kalau orang tua tak mampu apa-apa, siapa yang bisa diandalkan seorang anak kalau bukan gurunya? Tapi, karena tidak semua guru bisa diandalkan, maka aku bertekad untuk jadi orang tua yang mampu membesarkan Kaisarku dengan baik. Iya, soalnya akutu masih berprinsip bahwa buruknya anak itu karena buruknya orang tua membesarkan. Jadi, jangan sampai aku buruk kalau nggak mau anakku buruk. Logis to?

Ada juga guru baik hati sih. Jadi waktu itu pelajaran bahasa arab. Aku yang dari SD desa ini tahunya cuma ana. Eh, hla ini ndilalah apes banget aku dapet zonk ditebaki apa gitu ya. Lupa aku. Udah dijelasin panjang lebar sebenernya, cuman aku dulu tu bodo banget. Nggak paham-paham kalau dijelasin. Dan nggak berani nanya juga. Ya udah deh aku plonga plongo. Untung gurunya baik banget. Beliau paham, nanya aku dari SD mana. Tahu aku dari SD yang namanya aja asing bagi telinga beliau, yawis, beliau stop nggak nanya-nanya lagi dan ulang penjelasan. Tapi mon maap ya, masih, aku belum paham lol.

Iya, temen-temen SMP ku itu sungguh dewi, ciyus. Kalau bikin majalah dinding gitu kreatif banget. Nggak eman buang-buang duit buat beli ini itu asal madingnya bagus. Bagiku mah, duit mending buat naek jaya putra 😂. Dan mayoritas mereka ambil course atau kalau enggak ya mereka tahu kemampuan mereka dimana. Ada yang hobi gambar, ada yang hobi nulis, ada yang puinteeer banget karena hobinya belajar, ada yang hobi beli buku. Bisa dbilang kesemuanya itu semacam tindak reflek seperti kalau aku pergi ke sekolah naik bus, gitu. Paham nggak sih? Kalau dari pengamatanku sih emang karena mereka tinggal di kota dan orang tua mereka berada untuk memfasilitasi segala rupa.

Dan, hobi-hobi atau cita-cita mereka itu (mayoritas) menyata hloh. Heran juga aku. Kok bisa yaaa. Aku aja yang hobi nulis sedari bahula masih segini-gini aja nggak ada penambahan dalam bentuk apapun. Padahal punya blog sudah dari 2012, postingan mayan banyak, tapi tetep aja nggak terkenal lol.

Beberapa tahun kemudian setelah aku lulus SMP, baru aku tahu rahasianya. Mereka, selain terfasilitasi secara finansial, dibawa sama orang tua ke psikolog atau dokter gitu sewaktu masih kecil buat tes intelejensi. Dan lagi, orang tua mereka tahuuu banget dan pahaam ilmu parenting gimana nggedein anak dengan baik dan benar. Jadi yawis, pokoknya bye aja sama semua masa lalu yang memang aku serba ketinggalan itu.

Bagi kalian, yang tinggalnya di desa, yang pengen anaknya hebat, yang terbatas dalam segala hal, aku pesen ya. Dari pengalamanku, apapun boleh terbatas asal jangan batasi dirimu belajar dan bergaul sama siapapun. Kamu boleh nggak punya apa-apa, tapi punyalah ilmu biar ketok smart gitu. Biar nyambung kalau ngobrol sama kelas berbeda. Demi apa? Demi nggedein anak sehebat mereka yang nggak berbatasan. Demi anak-anak kita nggak tertinggal dalam segala hal.
Dan, satu terpenting. Kalau mampu, HIJRAHLAH! Ke tempat yang memampukanmu membesarkan anak-anakmu dengan baik dan benar. Punya skill, punya ilmu, punya value yang baik, dan iman yang kuat. Anak itu nggak butuh apa-apa, selain orang tua mereka. Orang tua yang mampu mendorong mereka menjadi apapun yang mereka mau; tanpa membandingkan, tanpa mencela kesalahan, dan mengimani dengan hati bahwa anaknya memang berbakat dan akan menjadi orang besar.