Menemukan Cahaya

on Rabu, 20 April 2022
Kalau kamu pikir aku orang baik, kamu salah! Aku hanya sedang berusaha menjadi baik, tapi bukan pura-pura baik. Aku tidak mendapat untung apa pun dengan berpura-pura baik. Namun, aku hamba yang sangat berharap berat neraca kanannya, jadi aku berusaha melaksanakan yang Tuhanku perintahkan: menjadi baik.

Pemahamanku terhadap menjadi baik muncul setelah sekian tahun mendengarkan syiar agama yang beliau sampaikan.

Disclaimer:
1. Pada dasarnya yang membolak-balik hati adalah Allah. Tidak peduli siapa perantaranya, Ia adalah Sang Pemilik dan melalui kuasaNya seonggok hati akan percaya atau ingkar.
2. Tulisan ini bercerita tentang aku dan hidupku. Tidak bermaksud menggurui, mengolok-olok, menghina, atau menyindir siapa pun. Tujuan tulisan ini adalah mengenang jasa beliau dalam kehidupan spiritualku.
3. Jika tidak sepaham, kita tetap teman, tetap satu Indonesia Raya. Atau, minimal kita tetap warga yang tinggal seatap, langit.

Melewati enam tahun pendidikan di sekolah berbasis agama, tidak membuatku sadar begitu saja bahwa dunia itu sementara dan akhirat selamanya. Baca desclaimer lagi. Pernyataan ini tidak lantas memberi cap buruk pada sekolahku, bukan! Meskipun sempat kesal dengan sekolahku, tapi sekarang aku bangga menjadi alumninya. Sekolah dan guru-guruku hebat, tapi ingat, hidayah itu ditanganNya.

Sejak aku masih sekolah, mamaku sudah rutin mendengarkan kajian melalui radio. Pun, bapakku. Mamaku fanatik dengan satu penyiar. Sementara bapakku, memutar-mutar gelombong sesuka hati; asal kajian. Bukan berarti bapakku tidak memiliki gelombang kesayangan, namanya saja manusia, pasti ada rasa fanatisme meskipun mulanya sekedar penasaran.

Dua penyiar agama favorit Mama dan Bapak, kurasa, membawa ajaran yang sedikit bertentangan. Perbedaan ajaran yang dibawa dua penyiar agama tersebut membuatku memutuskan untuk bodo amat dengan agama selepas lulus pendidikan menengah atas. Terlebih, melihat teman-teman dibangku perkuliahan yang entah mereka tidak paham atau paham tapi tidak mengamalkan dan hidup mereka baik-baik saja. Nilai plusnya, mereka orang-orang baik. Aku menjadi semakin yakin, bukan sekedar agama yang bisa membuat orang menjadi baik.

Jilbab lebar dan baju kedodoran kutinggalkan, aku berpacaran (meski pun salah dan tetap dosa, aku bersyukur pacarku orang baik dan sekarang menjadi suamiku), solat hanya sebatas melepas kewajiban, jarang tilawah, tidak pernah muraja'ah, tidak mengikuti kajian, liqo', atau kegiatan keagamaan lainnya. Bahkan, bersama teman-teman kuliahku, aku sering menertawakan perempuan-perempuan berjilbab besar yang akhlaknya tidak karuan.

Ya, waktu itu diri ini menuju sekuler tanpa kusadari. Selain kepercayaan bahwa Ia kuasa, aku tidak berminat sama sekali mempelajari agamaku sendiri. Asal islam, baik dengan manusia, tidak menyekutukan Allah, dan solat lima waktu plus sesekali solat malam, bubar urusan, kan? Jilbab lebar dan baju kedodoran itu tidak wajib. Untuk apa baju-baju shalihat itu jika akhlak nol besar. Munafik!

Demikian pikiranku kala itu. Percaya atau tidak, lama-lama aku merasa kering. Ada yang salah dengan kondisi jiwaku tapi aku denial. Kadang, kalau rasanya segersang itu, aku membaca surat Al-Fajr beserta artinya berulang-ulang. Kalimat yang selalu membuatku sadar bahwa jalanku keliru, aku tersesat, dan aku harus kembali. Namun, jauhnya tersesatku, membuat diri ini kesulitan menemukan jalan kembali.

Sampai pada akhirnya Ia menakdirkanku bertemu dengan lebih banyak orang yang jiwanya jauh lebih kering, makin menyadarkanku bahwa bisa tidak bisa, aku harus kembali.

Berbekal curi dengar dari penyiar-penyiar agama yang selalu diputarkan oleh orang tuaku, aku memilih. Kuputuskan untuk mengikuti beliau, panyiar yang syiarnya selalu didengar mamaku. Aku mulai mengikuti kajian, masuk kedalam suatu golongan. Hal yang selalu kunisbatkan tidak akan terjadi, tapi herannya kulakukan. Pesan beliau yang kala itu menohok hatiku dan membuatku mantab dengan keputusanku, "Kalau saya menyampaikan hadist, itu dari Rasullah dan pasti benar. Tapi nek mung omonganku i urung tentu bener. Mbok paido yo rapopo." Sebelumnya, aku belum pernah mendengar penyiar yang mengatakan hal demikian.

Hidup berlanjut, dan Ia bersumpah tidak akan menguji hamba yang menyatakan dirinya beriman. Benar, Ia mengujiku, menghabisiku secara mental. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan hidup.

Berkat ceramah beliau yang kudengar dari radio, berkat guru daerah tempatku mengikuti kajian, waktu itu aku selamat. Percayaku lebih mantab bahwa aku memilih jalan yang benar, berkumpul bersama orang-orang yang tepat dijalan kebaikan.

Aku bersyukur melewati badai covid 2020 kemarin sebagai keluarga dari kelompok mengaji yang beliau pimpin. Seandainya tidak bergabung dengan kelompok ini, kurasa aku benar-benar butuh terapi kejiwaan. Bertemu dengan Ustadzah ditempatku mengaji sekarang, dengan nasihat bijaknya, membuatku bukan sekedar bertahan, tapi menguat.

Lalu, aku jadi punya keinginan besar agar bisa seperti ustadzah tersebut; menjadi warga khusus yang mengajinya langsung dengan beliau. Iya, mengenal dekat ustadzahku yang mengaji langsung dengan beliau membuatku makin mantab dan yakin bahwa sekeras apapun hidup, aku tidak akan meninggalkan kelompok kajian ini, insya Allah (semoga Ia kuatkan). Jiwaku tenang dan semangat belajar agamaku membesar.

Aku pecinta dunia, hidupku dipenuhi dengan cita-cita selangit tingginya. Bukan sekedar cita, tapi aku membuat rencana-rencana untuk mencapainya dengan steps yang detail. Ya, aku yang pecinta dunia, seketika lupa kalau cita-citaku pada tahun 2035 adalah beli empat mobil double cabin. 2020 mengubahku menjadi orang yang bercita-cita menjadi warga khusus agar bisa menimba ilmu agama langsung dengan beliau.

Seribu sayang, 2021 beliau meninggal. Namun, cita-citaku tak akan padam. Aku tetap ingin mengorientasikan hidupku untuk menjadi warga khusus itu. Meski pun, diri ini jauh dari layak, tapi tidak akan berhenti mengusahakan.

Terima kasih Al-Ustadz atas segala siraman rohani dan pencerahan-pencerahan yang menerangi. Nia tidak akan bertahan dititik ini tanpa Al-Ustadz, tanpa menjadi bagian dari MTA. Nia bersyukur, 2016 lalu memutuskan untuk ikut mengaji. Pada 2020 yang sulit, Allah dekatkan Nia dengan ustadzah Tutik, murid khusus Ustadz, yang membantu dan menyemangati Nia melewati banyak hal. Semoga Allah balas kebaikan Al-Ustadz dengan surga terbaikNya.

Kalimat Al-Ustadz yang selalu Nia pegang, "Orang tidak akan menjadi baik kalau tidak dipahamkan tentang agamanya." Semoga Nia istiqamah menempuh jalan lurus ini.

Ditulis untuk mengenang jasa almarhum Al-Ustadz Ahmad Sukina dalam kehidupan seorang hamba sahaya, Nia Haji. Perempuan yang berusaha menuju shalihah meski pun tak kunjung sampai. 

Klaten, Februari 2021

Postingan Pertama Setelah Sekian Lama-Semoga Kamu Paham

on Rabu, 16 Maret 2022
Alhamdulillah postingan pertama setelah sekian lama. Karena mau diikutkan ke event optimasi RuNA, cepet aja nulisnya nggak usah banyak mikir apalagi edit. 

Hanya ingin menceritakan padamu tentang komunitas yang sangat aku cintai. Namanya Rumah Neraca Aksara, mampir-mampir ke facebooknya di @RumahNeracaAksara, ya.

Siang tadi meetup tipis-tipis sama rekan di pemasaran. Mbak Tina, senior yang cukup berumur tapi awet mudanya masya Allah. Nggak PD foto jejer beliau, tapi demi konten (RuNA), semua akan kulakukan. Wkwk. 

Kami ngobrol kira-kira satu jam. Banyak hal yang kami obrolkan, salah satunya tentang RuNA, pasti. Haha.

Selain mengobrol, aku juga mengamati dan membatin kegiatan orang-orang di sekitar. Mbatin aja, tidak kuutarakan ke Mbak Tina karena kurasa ujungnya hanya akan ghibah dan itu tidak penting.

Tapi, kalau kuutarakan ke blog, apakah namanya tetap ghibah atau sekedar menghurufkan pikiran? 

Jadi, selama satu jam kami mengobrol, ada dua orang yang kusoroti. Pertama, bapak-bapak (tidak bisa menebak usia karena bermasker), masih sehat, bugar wal afiat, bisa lah kalau kerja jadi abang parkir atau jualan tahu sumedang di lampu merah. Kedua, kakek-kakek, tua banget dan lihat saja kasian. 

Si bapak berbaju rapi ala ustadz-ustadz, datang dengan mengucap salam, sambil menenteng kardus. Meminta santunan entah untuk pembangunan ponpes atau masjid. Tak tahulah, aku tidak begitu peduli karena sudah tidak respek duluan. 

Si kakek, berbaju compang-camping dan lusuh, jualan balon anak-anak. Semoga laris manis dan sehat selalu, Kakek. 

Aku hanya sedih membandingkan keduanya. Bagaimana seorang yang bugar, kalah mental sama orang tua? Malu!

Salah satu hal yang bikin orang muak sama islam, banyak orang bersorban minta sumbangan yang dalihnya untuk jalan Tuhan. Aku sih, kalau kalian enggak, alhamdulillah.

Maaf kalau konotasinya sinis. Tapi, serius, bestie. Beneran mau minta-minta untuk jalan Allah? Setahuku, mengusaha jalan Allah itu bukan dengan minta-minta ke hamba. Kalau memang mau minta untuk diri sendiri, nggak usahlah pakai nama masjid X daerah Y. Nggak malu sama Maha Tidak Bisa Dibohongi, apa?

Duh, kesannya aku judging negatif ya. Padahal bisa jadi memang minta untuk sumbangan masjid atau ponpes. Tapi, please, realistis, Allah tidak akan kurang jalan mengirimkan hamba yang memang mau menyumbang untuk agamaNya. Nggak perlu kardus berjalan ke kota-kota minta bantuan. 

Kalau kalian muslim dan merasa tersinggung, berbenah, yuk. Aku juga muslim dan sangat mencintai agamaku. Tidak mau agamaku direndahkan karena manusia-manusia rendahan. Be a smart moeslem, yuk. 

Dari pada minta-minta, bisa kok jualan balon seperti si kakek. Atau, ngamen, kurasa better, sih. Apalagi kalau emang suaranya bagus. Jadi hiburan malahan. 

#RumahNeracaAksara
#keluargaRuNA
#KITABISA
#moslimmaju
#muslimbukansorban

Penguatan Diri #2

on Senin, 02 Maret 2020

Memanglah hidup tidak pernah menjanjikan kemulusan jalan. Ada kalanya begitu lapang, sampai lupa bahwa manusia hanya hamba. Ada kalanya sangat sempit, sampai lalai bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah pada RabbNya.

Yang tidak bisa dikerja adalah mendikte Rabb Semesta dijalan lapang atau sempit manusia berada. Tapi Allah Maha Adil, manusia diberi kemampuan memilih untuk menjalani lapang dan sempitnya jalan dengan bahagia atau duka.

Lapang bukan definisi bahagia dan sempit bukan berarti duka. Banyak orang dilapangkan jalan tapi selalu merasa ada yang kurang. Dan tidak sedikit yang sedang sempit tapi tidak pernah merasa terhimpit.

Bagaimana berwujudan rasa bahagia itu?

Ya, syukur dan sabar. Selalu syukur atas segala kelapangan, dan bersabar ketika sedang disempitkan.

Mereka yang taat adalah mereka yang percaya bahwa lapang bukan berarti mulia dan sempit bukanlah nista. Mereka yang taat adalah mereka yang dalam lapang maupun sempit selalu menyandarkan diri pada bantal keikhlasan.

Ya, jadikan syukur dan sabar sebagai pilihan maka hidupmu bahagia, Insya Allah.

Tentang Sekolah

on Sabtu, 29 Februari 2020

Emang pilih sekolah untuk anak itu dasarnya apa sih? Cap cip cup, gengsi, idealisme, or what?

Barusan dengar kabar ada anak dikeluarin dari sekolah dan sekolah si anak jadi viral. Berawal dari curhatan si anak ke guru les dan guru les (mungkin) merasa kasian dengan muridnya. Lalu si guru menyebarkan berita ini ke media masa dan ndilalah jadi tranding topic; "Dikeluarkan dari sekolah karena ucapan Selamat Ulang Tahun kepada lawan jenis". Wow, hotline yang luar biasa ya.

Pihak sekolah jelas tidak terima dengan berita tersebut dan melakukan klarifikasi, meskipun tidak menyebut alasan khusus kenapa si murid dikeluarkan dari sekolah.

Anw, aku alumni sekolah itu. Jadi tahu dalamnya kaya apa dan sudah pasti sekolah tidak akan mengeluarkan murid hanya karena ucapan selamat ulang tahun pada lawan jenis.

Pun, aku pernah dapat murid les yang sekolahnya setipe dengan sekolahku dulu. Murid lesku kalau sambat jangan ditanya. Seandainya tidak pernah merasakan sekolah di sekolahan yang setipe dengan muridku, aku akan memberi penilaian negatif pada guru dan sekolah. Hla gimana enggak, muridku pernah cerita hanya karena dia melakukan kesalahan sepele, pihak sekolah memberinya poin banyak.

Jadi poin itu semacam penilain negatif yang diangkakan dan diberikan kepada siswa pelanggar aturan sekolah. Akumulasi poin tertentu akan mendapat hukuman tertentu. Makin berat aturan yang dilanggar, makin tinggi poin yang didapat, dan makin berat hukuman yang harus dikerjakan.

Tiap kali muridku cerita soal guru dan sekolahnya, tanggapanku lempeng aja sih. Awal-awal dengar curhatnya, aku selalu kasih komen, "Ealah dek, mana mungkin sih kaya gitu. Kamu sama temanmu yang emang lebay kali". Karena dia memaksa tingkat dewa kalau sekolahnya salah dan dia beserta teman-temannya adalah benar; pun aku pengen cepet-cepet kasih materi biar gajiku nggak buta sekedar dengerin muridku curhat; pada akhirnya aku akan bilang, "Ih masa gitu. Serius?". Lalu aku alihkan dia untuk lekas belajar dan stop gosip.

Serius ya, kalau aku tidak pernah merasakan bersekolah di sekolahan setipe dengan muridku, aku akan merasa iba padanya. Lalu merasa wajib bantu dia keluar dari penderitaannya dengan memviralkan kisah-kisahnya ke publik. Sama seperti kisah "kepahlawanan" guru les yang sedang naik daun itu.

Karena aku merasakan nyaman nggak nyamannya sekolah di sekolahan tipe X itu, aku tidak pernah punya niatan menyekolahkan Kaisar di sekolahan serupa. Kalau uangku hanya cukup untuk menyekolahkan Kaisar di sekolahan bertipe X dan tidak punya uang lebih untuk menyekolahkan di tempat yang lebih bagus, aku akan memilih sekolahnya negara saja katimbang sekolah tipe X itu. Jangan dihujat ya. Setiap kita punya sudut memandang yang berbeda dan itu tidak papa, kan.

Tidak semua siswa yang sekolah di sekolahan tipe X tidak baik. Banyak yang cerdas, akhlaknya mulia, sopan santunnya terjaga, pun bisa membentengi diri dari hal-hal yang dilarang agama di masa muda yang penuh kegamangan. Banyak. Hanya karena kesalahan kecil satu orang, tidak bisa digeneralisir bahwa sekolah bertipe X hanya mengedapankan tampilan luar. Sekali lagi kutegaskan, aku tidak memberi label buruk pada sekolah bertipe X.

Kalau merunut ke belakang, ke jaman simbah-simbah kita dulu, siapa sih yang mau sekolah? Buat makan saja uangnya pas-pasan, gimana mau bayar sekolah? Bahkan ada tetanggaku yang cerita kalau jaman dulu, pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang akan hidup layak. Padahal kalau bisa raih pendidikan tinggi, peluang dapat pekerjaan bagusnya juga tinggi, a.k.a PNS. Tapi jaman dulu PNS gajinya kecil sih ya, mana ada yang mau jadi PNS. Lebih menyenangkan ke sawah atau beternak, uangnya banyak dan hidup nglaraszz.

Sekarang orang berlomba menyekolahkan anak di sekolah terbaik di kota masing-masing. Bahkan kalau di kotanya tidak ada sekolahan bagus, akan mengirim anak mereka ke luar kota bahkan luar pulau hanya untuk sekolah. Sepercaya itu orang sekarang sama sekolah. Karena jaman berubah, makin tinggi pendidikan seseorang, hidupnya makin layak dan makin dihargai.

Di circleku saat ini, sekolah bagus itu masih sekolah bertipe X. Aku pribadi, sekolah bagus itu ya sekolah internasional. Tapi aku sadar sih kalau aku bukan sesiapa. Membayangkan jumlah uang yang harus kutabung untuk menyekolahkan Kaisar di sekolah internasional saja rasanya mustahil terpenuhi. Tapi Allah Maha Kaya, kan ya. Siapa tahu suatu hari nanti, dalam waktu dekat ini, sebelum Kaisar masuk SD, tetiba Mas Bely jadi sultan dan simsalabim aku tidak perlu rekoso nabung, mak jegagik uang untuk menyekolahkan Kaisar di sekolah internasional sudah ada di depan mata.

Kenapa sekolah internasional? Bukan karena gengsi hlo ya. Bukan banget. Tapi aku berpikir, orang akan dibagi ke dalam dua golongan. Pertama, mereka yang bingung mau ngapain saking tidak adanya hal yang bisa dikerjain. Kedua, mereka yang kebingungan harus ngapain dulu saking banyaknya pekerjaan.

Jaman dulu ya, jaman aku masih sekolah. Sekolah bertipe X memang sih, berangkat pagi pulang sore. Sampai rumah sudah capek dan merasa tidak punya waktu untuk ini itu. Ditambah jarak rumahku ke sekolah sangatlah jauh dan aku berangkat-pulang sekolah selalu naik bus. Capeknya dobel-dobel. Aku merasa tidak punya waktu karena waktuku habis di sekolah. Sayangnya, akutu disekolah merasa kurang kerjaan. Santuy banget sekolahnya. Tidak ada yang mengejarku untuk melakukan lebih. Tidak diperas untuk memaksa otak bekerja keras. Pun, obrolanku dan teman-teman hanya seputar kehidupan remaja yang hura-hura; buku fiksi, cinta, kdrama, anime, film, and any else yang tidak menunjang kecerdasan sama sekali.

Sementara adikku yang sekolah di sekolahnya negara, kerja keras luar biar biasa bisa ngikuti pelajaran, bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang sulitnya minta ampun. Semacam perjuangannya menuntut ilmu adalah sungguh-sungguh gitu hlo.

Saking gabutnya aku dan teman-temanku di sekolah mungkin ya, drama yang tercipta menurutku luar biasa. Tapi aku tidak bisa cerita disini, karena sampai sekarangpun aku tidak tahu kebenaran masa lalu itu seperti apa. Yang jelas aku dulu juga punya praduga negatif pada sekolahku; mereka yang anak-anak orang kaya dan melakukan kesalahan, sekolah kasih warning biasa aja. Mereka yang anaknya orang biasa dan melakukan kesalahan, sekolah kasih hukuman luar biasa. Tapi sekali lagi aku tidak tahu benarnya seperti apa. Yang kuyakini, sekolahku digawangi oleh guru-guru yang bijaksana dan insya Allah hatinya terjaga. Jadi, aku percaya bahwa mereka adalah manusia yang bisa dipercaya karena mengimani setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pemberi Titipan.

Sekali lagi bukan menjelekkan ya. Gambaran mengenai sekolah tipe X ini hanya dari sudutku dan pengalaman masa laluku. Ini aku, dan tidak memaksa kalian berstatemen sama.

Itu pun cerita lama. Aku SMP SMA udah bertahun-tahun lalu. Barangkali sekarang tuntutan kognitif di sekolah tipe X sudah lebih banyak jadi siswa tidak sekedar capek secara fisik.

Lagi pula sekarang sekolah negara juga disamaratakan, kan. Nggak ada sekolah unggulan lagi karena sekarang sistemnya zonasi. Memang pilihan sekolah ternyaman itu yang paling dekat dengan rumah sih. Tapi ya kalau tinggal di ku gini, sekolah mana aja akan jauh. Saking ndlesepnya desaku. Lol.

Sekolah internasional gimana? Sezuzurnya aku miskin info soal sekolah internasional. Sengaja tidak cari info lebih banyak karena hopeless duluan, "emang mampu nyekolahin anak disana?". Maksud mampu disini bukan sekedar kuat bayar uang pangkal dan SPP hlo ya. Tapi juga membiayai gaya hidup; mulai dari antar jemput naik mobil apa, peralatan sekolah, habisin weekend dimana, liburan semester kemana, bebeli barang-barang tidak penting macam figure or else (barang-barang pricy) apa aja, etc. Kasihan sekali kalau Kaisar sekolah di sekolahan internasional tapi malah jadi minder atau dibully karena tidak setara dengan teman-temannya. Nggak tega aku mah jadi ibu. Pernah nonton Kdrama The Heirs kan? Takut aja kalau anakku diperlakukan semena-mena sama teman sekolahnya.

Padahal sendirinya miskin info sekolah internasional, kenapa punya kepengenan nyekolahin anak disana?

Kalian pasti pernah dengar tentang kisah galaunya seorang musisi Indonesia karena diterima di dua universitas kenamaan dunia. Akan biasa saja kalau seseorang galau memilih antara dua universitas terbaik Indonesia. Tapi ini univ terbaik tingkat dunia hlo. Keren banget kan. Kita semua sampai termlongo-mlongo lalu stalking akun instagram musisi itu. Dan tertemukanlah kenyataan bahwa dia alumni sekolah internasional.

That is the reason kenapa aku punya kepengenan nyekolahin Kaisar di sekolah internasional. Tapi tidak ambi juga sih karena sadar hamba ini siapa. Lol.

Sudahlah, toh sebenarnya sebaik-baik penjagaan adalah Ia yang memberi titipan. Mau disekolahin mana aja kalau sebagai orang tua aku B, mana bisa anakku A.

Merencana itu boleh, yang tidak boleh adalah mendikte Sang Pemilik Cerita. Sudah, gitu aja. Jadi, kalau sekarang aku punya angen-angen nyekolahke Kaisar di sekolah internasional tapi nyatanya aku tidak mampu, ya nggak papa banget, aku tidak sedih. Niatku adalah kasih pendidikan terbaik versiku untuk anakku, bukan sekedar gaya-gayaan dan pamer pada dunia, "ini hlo, anakku sekolahnya mahal". Nggak sama sekali.

Lagi pula, kalau Kaisar punya bakat diluar kemampuan kognitif yang menonjol dan di atas rata-rata, badminton misal, aku akan tidak menyekolahkan Kaisar di sekolah bagus. Ngapain buang-buang uangku dan waktu Kaisar untuk sekolah di sekolah bagus. Lebih baik dipakai untuk les badminton, kan.

Kembali, bagaimana nanti sudah tertulis rapi. Aku hanya merencana dan setiap cerita punya pemiliknya. Kalian juga boleh hlo merencana mau sekolahin anak dimana. Siap-siap semuanya dari sekarang; soal ujian masuknya, soal biaya, soal gaya hidup di sekolah incaran.

Anw, kalau bukan turunan sultan, biaya sekolah itu selalu jadi momok, kan. Ayo mulai menabung. Nggak papa hidupmu sekarang tidak sefancy teman-temanmu, asal tabungan pendidikan anakmu meningkat eksponensial. Karena aku selalu berprinsip, "mahal murahnya sesuatu akan sebanding dengan kualitas nilai yang diperoleh". Jadi, jangan eman kasih pendidikan yang mahal buat anak. Semangat ya semuaaa.

Ps: ditulis sejak cerita anak sekolah itu viral.

Penguatan Diri #1

on Selasa, 25 Februari 2020

Berisik soal tidak mau menggadaikan anak demi keegoisan diri, sementara lupa bahwa setiap waktu bersama justru menoreh luka pada hati si kecil. Mungkin ia akan lupa. Tapi rasa bersalahmu tak akan lekang oleh masa. Telah menatu hatinya dengan amarah yang tidak perlu. Minta maaf saja tidak menyelesai semua. Kamu perlu sembuh. Cari cara untuk sembuh adalah tugas beratmu.

Tapi ingat, hanya karena kamu sakit bukan berarti kamu diijinkan abai pada hak anakmu untuk bermain. Tugas utamamu tetap menemaninya bermain sembari mengobati jiwamu yang penyakitan. Barangkali membuat rancangan permainan untuk anak adalah salah satu obat untuk kesembuhan mentalmu. Mari dicoba, jangan cuma ditulis saja. Kamu bisa, Nia.

Tidak perlu memaksa harus begini begitu agar seperti ini dan anu. Bagi Kaisar, dirimu adalah cukup. Tidak perlu takut anakmu tidak tumbuh seperti anak ini atau anu. Semata Kaisar hanyalah titipan, dan sebaik-baik penjagaan adalah Dia yang memberimu amanah itu. Kembalikan pada pemiliknya, niscaya semua akan baik-baik saja. Ingat, kamu hanya perlu taat.

Semangat Nia. Tidak perlu jadi ibu yang sempurna, cukuplah jadi ibu yang tidak pernah berhenti berusaha.

Cerita Kaisar 24022020

Menanyai diri sekaligus ragu dengan sendirinya, kenapa aku segalak itu?

Sedang lelah, atau mungkin terlalu banyak beban sampai rasanya terlalu lelah. Beban yang penciptanya diriku sendiri. Semenyebalkan itu dikelilingi laki-laki yang ngurusi dirinya sendiri saja tidak becus, apalagi diminta bertanggung jawab atas anak-istri. Lalu memaksa diri untuk membesarkan anak laki-lakiku agar tumbuh menjadi sosok yang penuh integritas. Sampai rasanya kewalahan karena aku saja tidak tahu integritas itu seperti apa dan bagaimana. Jadinya lelah, SELELAH itu sampai kerjanya MARAH-MARAH melulu.

Hari ini puncak banget. Harapannya besok udah sembuh sih. Membentak Kaisar sampai separah itu. Pasti akan membekas, dia akan selalu ingat bahwa mamanya galak. Aku tidak mau dengan sendirinya dia menjauh dariku karena aku galak. Galak mungkin tidak papa ya, tapi ngamuknya yang harus ilang. Galak means tegas dalam menegakkan kesepakatan-kesepakatan. Bukan berarti membentak ketika aku merasa Kaisar melanggar kesepakatan.

Sesepele dia nyuntak mainan dan berantakan parah. Awalnya aku nggak ngamuk. Bilang pelan-pelan kalau mainan tidak boleh sengaja dibikin berantakan dan beritikad bantu dia nata mainan biar agak rapian. Tapi malah dianya makin parah, mainan yang udah ku tata dibuang-buang lagi. Aku ngamuk. Sampai dua atau tiga kali ngamuk. Bahkan sempet mau ngambrukne meja mainan dia dengan niat biar berantakan semua sekalian mainannya.

Saking horornya sampai Sheza naik kasur karena takut. Lalu aku mesem, dan justru setelah mesem itu makin menjadi ngamuknya. Aku sedih banget kalau udah bentak parah gitu. Galak bukan berarti ngamuk kan ya. Galak itu Bu Susi. Dan aku malah manut sama Bu Susi. Galak itu tegas, menaati kesepakatan, dan menegakkan pelaksanaan konsekuensi. Bukan ngamuk, sekali lagi.

Bahkan sore waktu Kaisar dan Sheza main di halaman dan aku lihat mereka dorong truk di halaman, aku langsung nada tinggi meskipun belum sampai bentak.

Apa lagi ya, hari ini banyak bentak sih. Waktu Kaisar ngantuk siang hari dan tingkahnya ngeselin. Mau nyelup roti tawar berkali-kali ke gelas susu lalu dikobok-kobok. Ya aku nada tinggi lagi, bukan sekedar nada tinggi tapi bentak sih.

Bahkan ngomongan sama orang aja aku nggak bisa santai. Sama mas bely, sama mama, and else. Ya itu doang sih, soalnya lagi males juga imbas-imbis sama orang lain. Sekedar turun mobil dan beli ayam bakar aja nggak mau karena malas bosa-basi sama bakulnya.

Kasian Kaisar kalau aku gini terus. Nggak ada yang salah sih, pun saat ini ketika rejeki sedang sempit. Semua tertakar dan tidak tertukar. Kalau dirasa ada yang salah, yang perlu diperbaiki adalah diriku sendiri. Solatku kurang khusyuk, tilawahku kurang rutin, dzikirku kurang banyak, jadi aku lemah mengendali amarah karena posisi jiwaku saja salah; IMANKU SEDANG DIBAWAH.

Wahai diri. Gegara mainan berantakan saja kamu menyakiti hati anakmu separah itu. Apa kamu berpikir dia akan lupa dan tak menatu sama sekali diingatan soal sosok ibunya yang monster? Sekalipun dia lupa, tapi kamu tidak. Dan sesalmu akan panjang kalau tidak segera ambil tindakan. Semangat sembuh.

Solat khusyuk, tilawah rutin, dzikir yang banyak, menulis, membaca, dan Allah saja, Allah lagi, Allah terus.

Padahal hari ini Kaisar pintar sekali, sebangun tidur nggak pakai drama nangis dan malah mesam-mesem lucu. Pun makan lahap dan screen time sebentaran doang. Kenapa pada anak selucu, semanut, dan sepintar dia, aku sering ngamuk?

Semangat sembuh, wahai jiwa yang lemah. Meskipun terkadang salah, yang penting jangan mau kalah.

CPNS dan Jatah

Wow, tahun ini baru nulis empat judul. Itu pun belum ada yang dipublish di blog. Apakah aku akan berdalih tidak punya waktu untuk menulis karena CPNS? Bukan karena CPNS sih sebenarnya. Bukan banget. Karena waktuku habis buat tidur, makanya sekedar nulis yang cuma lima belas menit aja tidak ada waktu. Bisa dibilang hidupku gabut, useless.

Anw, pun karena CPNS, rasanya aku punya bahan tulisan buanyaak banget. Dan akan mulai kutulis SEKARANG juga.

Tentang CPNS dan jatah, apa bahasa Indonya jatah? Ketetapan?

Ya, CPNS itu, selain usaha keras baik kerja maupun usaha, ada faktor X besar dibaliknya. Dia adalah jatah. ~Serius aku nanya jatah itu bahasa Indonya apa sih?~ Mari kita terjemahkan jatah ke dalam bahasa Indonesia menjadi ketetapan saja. Karena kalau jatah diartikan takdir menurutku kurang pas.

Sebelum mengalami sendiri tes CPNS itu seperti apa, aku selalu beranggapan bahwa yang pintarlah yang akan lolos tes. Makanya aku belajar, meskipun tidak sekeras adikku. Tapi bisa dikategorikan aku belajar cukup keras ditengah lelahku ngurusi anak-anak. Sekali lagi, meskipun tidak sekeras adikku.

Setiap tryout di aplikasi berbayar, nilaiku selalu lumayan. Sampai aku berpikir, kalau soal tes nanti lebih mudah dari pada tryout, mungkin aku bisa dapat nilai kepala empat.

Adikku jangan ditanya. Mengerjakan soal tryout kategori sulit saja nilainya kepala empat. Bikin aku minder sekaligus semangat karena biasanya takdir kami berdekatan. Dalam hati berharap, kalau dia dapat nilai tes kepala empat, mungkin aku juga akan dapat kepala empat meskipun tiap tryout aku jarang dapat nilai kepala empat. Ngarep banget, tapi waktu itu pikirku "ih, bodo amat".

Basically aku dan adik-adikku punya bakat menghitung di atas rata-rata. Aku yang paling bodoh, adikku yang tes CPNS bareng aku yang paling pintar.

Waktu tes kami selisih satu hari. Aku tes tanggal 18 Februari sementara adikku tanggal 19. Ketika sedang mengerjakan soal, utamanya Tes Intelegensi Umum yang mana soalnya terdiri dari berhitung, silogisme, figural, posisi, dan analogi, aku yakin sekali akan dapat nilai tinggi. Terlebih, mengerjakan tryout yang soal TIUnya susah aja nilaiku lumayan, apalagi mengerjakan soal TIU segampang ini. Saking gampangnya soal tesku, aku jadi lupa dzikir dan merasa takabbur.

Selesai tes, submit jawaban dan nilai langsung muncul di layar komputer. Aku kaget, rasanya langsung tidak semangat dan pengen cepat-cepat pulang. TIUku cuma dapat poin 125. Sesedih itu. Padahal kupikir akan dapat 150. Kenapa bodoh sekali, soal gampangnya nggak karuan gini cuma dapat poin rendah. Marah, kesal, lelah, rasanya dunia hancur. Langsung menyalahkan diri sendiri karena tidak meneliti ulang jawaban padahal punya sisa waktu dua menit.

Aku tes setengah satu siang, selesai jam dua. Selesai tes langsung dzuhur sekaligus nunggu ashar. Sehabis ashar langsung cari busway ke stasiun. Di busway aku bener-bener seperti orang linglung. Otakku isinya cuma, "Ya Allah aku salah apa sampai poin TIUku serendah itu." Tetiba aku jadi kepikiran, satu-satunya alasan paling mungkin kenapa nilai TIUku jelek adalah salah klik pada opsi jawaban di soal figural. Seketika itu langsung WA adikku yang besok tes, warning dia untuk hati-hati lihat posisi opsi jawaban soal figural.

Oke baik, saking linglungnya aku, kesasarlah sampai kebun binatang Ragunan padahal harusnya transit Ampere dan ganti busway. Berkat kesasar ini aku jadi lupa kalau sedang sedih. Otakku berubah haluan, dari kepikiran gagal dapat nilai tinggi di tes SKD ke gimana caranya biar nggak ketinggalan bus Jakarta-Solo. Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah. Sesenang itu kesasar, serius. Nanti aku cerita ya gimana enak dan nggak enaknya transportasi di Jakarta. Ditulisan terpisah, Insya Allah.

Tanggal 19 malam adikku selesai tes. Aku kaget ketika dia WA kalau poin TIUnya cuma 135. Hah, adikku si jenius cuma dapat nilai serendah itu di tes semudah itu? Ih, nggak mungkin ah. Lalu dia cerita, sama sepertiku, sudah PD akan dapat nilai TIU tinggi. Eh, ternyata cuma 135.

Seketika aku berpikir, mungkin aku mengklik opsi jawaban benar di soal figural. Mungkin memang kunci jawabannya yang keliru. Human error selalu ada, apalagi tes CPNS yang katanya ada delapan ribu soal. Jelaslah bahwa human errornya akan tinggi sekalipun dibuat oleh mereka yang profesional.

Kalau adikku mendapat nilai TIU tinggi, aku akan tetap berpikir bahwa aku salah klik opsi jawaban. Karena, ini adikku hloh, si jenius yang nilai matematikanya selalu sempurna, yang kemampuan matematikanya di atas rata-rata. Mana mungkin cuma dapat poin 135 di soal TIU CPNS yang gampang luar biasa. Kalau bukan karena kunci jawaban yang keliru, adikku tidak mungkin dapat poin serendah itu.

Untungnya nilai kami rendah di TIU. Kalau rendah di TWK atau TKP mungkin aku tidak akan sesadar ini kalau PNS itu jatah. TIU jawabannya jelas kan ya (kecuali soal analogi sih). Kalau salah ya salah, kalau benar ya benar. Namanya matematika, satu tambah satu gimana pun jawabannya akan dua.

Saking mutlaknya jawaban benar dan salah dalam matematika, rasa-rasanya aku berani congkak kalau jawabanku yang benar, bukan jawaban yang bikin kunci. Lol.

Aku tidak menyalahkan sesiapa dalam tulisan ini. Sekali lagi, human error akan selalu ada sebaik-baik manusia berusaha. Tidak papa, kami legowo menerima jatah Yang Kuasa. Kalau tidak lolos CPNS tahun ini, semoga tahun depan. Insya Allah kami tidak akan kehilangan tekad dan terus semangat mengusaha terbaik versi masing-masing kami.

Yang ingin aku katakan, sekali lagi, CPNS itu jatah banget. Sekuat apa kamu berusaha kalau Allah Pemilik Cerita belum mengiyakanmu menjadi PNS, kamu akan tidak PNS. Percayalah karena aku mengalaminya sendiri. Dan untungnya lagi, poin jelekku ada di TIU yang mana jawaban benar dan salahnya jelas. Jadi aku benar-benar bisa mengimani sedalam itu kalau PNS itu JATAH.

Kalian yang sudah keras menempa banyak usaha baik kerja maupu doa, percayalah bahwa yang Ia nilai bukan hasil tapi proses yang rasanya selalu lelah. Tapi yakinlah, setiap proses lelah adalah ibadah, semoga menjadi pemberat neraca sisi kanan. Tetap bersyukur atas setiap capaian. Jangan berhenti berjuang karena manusia tidak tahu kapan Ia akan mengiya pinta.

Ingat, hanya karena kamu gagal bukan berarti Allah menistakanmu dan keberhasilan bukan sebuah kepastian Ia memberi kemuliaan. Percaya saja bahwa setiap alur ditulis dengan penuh sempurna tanpa perlu berprasangka buruk atas tetapanNya.

Ingat, tugasmu hanya taat, bukan mendikte Sang Penulis. Selamat bagi yang lolos CPNS tahun ini. Dan tetap semangat bagi para pejuang CPNS. Niatkan setiap lelah karena Allah; untuk mendekatkan diri kepada Sang Penulis Cerita, untuk menggapai surga Sang Pemilik Segala.

Ps: buat kalian yang hopeless duluan karena merasa tidak pintar, percayalah bahwa tes CPNS bukan sekedar adu pintar. Mendaftarlah selagi ada kesempatan. Setiap kita tidak tahu dijatah dimana dan kapan.
Yang memang tidak mau atau tidak bisa ndaftar CPNS, definisi hidup bukan sekedar PNS. Rejeki itu luas, tertakar, dan tidak tertukar. Poinnya adalah tetap berjuang di jalan masing-masing tanpa perlu berburuk sangka terhadap apapun.

Anak dan Hari Tua

Beberapa waktu lalu aku dan adikku ngobrol soal mau punya anak berapa. Adikku bukan tipe ibu yang anaknya harus dibesarkan dengan standar tidak terdefinisi dan semi mengangkat diluar kemampuan. Ya, dia tidak sepertiku yang harus sempurna segala sesuatunya soal pengasuhan anak. Sekaligus, dia tidak suka momong. Wkwk.

Lalu aku tanya, "Emang nggak kapok ngurus new born?". Dan dia bilang nggak kapok karena toh bisa dititip-titipkan. Kami ngakak sama-sama.

Alasan dia bersedia punya anak lagi karena takut kesepian di masa tua. Tetangga di komplek perumahannya, seorang nenek-nenek penyakitan yang tanpa teman. Malam ada penjaga bayaran yang nemani tidur. Paginya mbak penjaga pulang dan sepulang penjaga, pintu rumah selalu terkunci. Adikku bilang si nenek tiap siang teriak-teriak dari dalam rumah. Mungkin bosan atau entah ada apa.

Anak si nenek kemana? Anaknya cuma satu dan kerja di luar kota. Menurut cerita adikku, anak si nenek jarang berkunjung, benar-benar sejarang itu.

Adikku kasian sekaligus tidak mau hidupnya seperti nenek di kompleknya. Maka dari itu dia kepengen beranak banyak dengan harapan ada satu yang menemani di hari tua.

Dengan alasan adikku yang menolak kesepian kalau banyak anak, aku bilang bahwa justru akan lebih senang kalau anakku nanti berkarir di tempat yang jauh dan tinggal di tempat yang membuat dirinya berkembang. Malah nggak mau merepotkan karena mengurus orang tua itu rekoso. Meskipun pahalanya banyak tapi noto atinya juga harus pinter. Serekoso itu lah. Senggak nyamannya ngurus bayi, lebih nggak nyaman ngurus orang tua. Lagi pula, mereka pada akhirnya akan menikah dan punya anak. Biarlah mereka melanjutkan hidup dengan keluarga mereka tanpa orang tua yang merepotkan dan menambah beban .

Depan rumahku ada sepasang kakek nenek yang anaknya banyak. Sepertinya semua anak beliau tinggal sedesa dengan beliau. Tapi aku jarang tuh lihat anaknya berkunjung. Entah aku yang nggak lihat atau emang anaknya nggak berkunjung, entahlah.

Dari kisah kedua nenek itu aku menyimpulkan bahwa punya anak berapa dan tidak peduli anaknya jauh atau dekat, pada akhirnya ya akan sendirian. Beruntung nenek depan rumahku masih ditemani sang kakek alias suaminya. Kalau suaminya sudah meninggal mungkin akan sekesepian dan sekasian nenek di komplek perumahan adikku.

Sekaligus aku berdoa semoga aku dan mas Bely menua bersama seperti kakek nenek depan rumah kami. Dengan bekal agama dan kemauan belajar yang kuat agar tidak tergilas jaman. DOANYA. Nanti bagaimana, urusan Ia Sang Penulis Cerita.

Yang jelas, aku tidak setuju dengan harapan punya anak banyak biar masa tua tidak kesepian. Sekali lagi, anak-anak punya jalan hidupnya sendiri. Berhak menentukan arah kemana mau pergi. Biarkan mereka melanglang menjelajah bumi tanpa pikiran egois orang tua, "nanti rumah mama jatahnya si X. Jadi si X nggak boleh pergi dari rumah mama. Harus ngopeni dan nemeni mama sampai mama meninggal dunia". Ya kalau pasangan si X bahagia tinggal dengan mama X. Kalau enggak? Kan kasian. Ya kalau pekerjaan si X di kota yang sama dengan rumah mama X. Kalau beda kota dan jauh dari rumah mama X? Kan kasian.

Maka aku selalu mengafirmasi diriku sedari masih berlabel anak sampai sekarang berstatus sebagai orang tua dengan quote, "Anakmu bukan milikmu. Kamu tidak berhak menjadikan dirinya sebagai atau sepertimu". Pun tidak berhak mengatur hidupnya harus begini dan begitu. Apalagi memaksa salah seorang dari mereka harus tinggal dan ngopeni orang tua.

Iya, mereka hanya titipan, wahai Bapak dan Ibu. Tugas kita adalah membesarkan dengan penuh tanggung jawab dan kerja keras. Banyaklah berharap pada diri sendiri sebagai orang yang dititipi, bukan pada jiwa yang dititipkan. Paksa diri untuk membaik karena para titipan itu tidak akan menjadi baik kalau yang dititipi tidak baik. Muluklah dengan mimpi sebagai orang yang dititipi, bukan pada jiwa yang dititipkan. Mereka ada bukan karene meminta, tapi karena orang tua mengusahakan kedatangannya.

Kekhawatiran Pada Masa Depan Anak

on Senin, 24 Februari 2020

Pergi malam-malam dan ada aja anak laki-laki usia belasan sampai awal dua puluhan nongkrong sepanjang jalan; entah di hik, di halaman rumah orang, cafe, hingga bengkel yang demi apa sampai jam 9 malam masih buka.

Lalu aku nyletuk, "Kaisar sok mben piye yo?". Mas Bely jawab kurleb gini, "Ya nggak papa nongkrong, kenapa dilarang. Toh cuma duduk main hp sesekali ngobrol dengan teman. Lagi pula mana ada laki-laki Ngreden (red. Desa kami) yang nggak nongkrong. Aku ndisik yo nongkrong".

Dan dengan nada ngezelin aku bilang, "nek gawene nongkrong po mungkin iso kerjo ndek UNDP". Dan mas Bely, "Yo hoo yo. Mosok uripe ndak wengi mung arep dientekne dinggo hal ra manfaat".

Yes, that's the point. Apa manfaat nongkrong? Nggak ada sama sekali kecuali punya teman. Dari sudut pandangku yang sudah lewat dua puluhan, lebih baik tidak punya teman dari pada berteman dengan mereka yang toxic. Kalau masih remaja memang bisa berpikir sejauh itu? Belum lagi soal bullying, bakal dihina karena laki kok nggak nongkrong, dst dsb.

Rumit amat cuma masalah nongkrong doang. Karena ya memang, percayalah setelah tahu bahwa tespek menunjukkan dua garis biru, detik itu juga hidupmu mulai complicated. Makanya punya anak satu aja biar mumet mikir satu doang. Kalau banyak anak ya jelas frekuensi dan konsistensi mumetnya akan meningkat. Bisa gila kalau aku mah. Mohon maaf ya imanku memang serendah itu.

Sejauh ini kami belum menemukan solusi tertepat karena selain tidak tahu dua belas tahun lagi pergaulan di desa kami akan seperti apa dan atau kami akan tinggal dimana. Yang jelas jawaban termasuk akal sementara ini adalah carikan kegiatan yang positif.

Anak-anak dan remaja itu energinya berlimpah baik pikiran maupun kekuatan. Tapi kadang mereka bingung mau ngapain karena tidak ada hal bermanfaat yang bisa dikerjakan. Makanya kerjaan mereka ya mengerjakan hal-hal tidak manfaat bahkan cenderung merugi. Solusinya carikan kegiatan positif; yang bermanfaat, bermakna, mengembangkan diri mereka, membantu mereka gemilang di masa depan. Dan yang paling penting adalah dekatkan pada Tuhan.

Berbekal dari observasi bakat alaminya sampai dengan usia dua, aku sudah pikirkan beberapa hal yang mungkin bisa Kaisar kerjakan di masa remaja. Mana yang akan kejadian ya lihat saja dulu dia akan interest dimana.

Dan aku mengajak kalian untuk observasi anak kalian kiranya berbakat dibidang apa. Lalu carikan kegiatan yang bisa menunjang bakat alaminya sebagai penyalur energi berlimpah mereka di masa remaja. Kalau kalian tidak mau ya tidak apa-apa. Tidak memaksa sama sekali. Hanya, alangkah baiknya kalau semua hal tentang anak diobservasi dan dirumuskan sedari mereka kecil karena akan memudahkan orang tua membesarkan anak dalam jalan yang benar.

Kalaupun sudah diupayakan begini begitu ternyata Kaisar maunya masih nongkrong dengan teman-teman, ya mau diapa. Yang Allah nilai itu usaha alias prosesnya kan ya, bukan hasil akhir. Asal sudah keras berusaha, berproses sebaik mungkin, berdoa penuh harap dan rasa cemas; hasil akhirnya biar Allah yang tetapkan. Dia anak kami tapi kami tidak berhak menjadikan dia sebagai atau seperti kami. Toh anak remaja kalau dilarang-larang gitu bukannya malah jadi pembangkang berat ya.

Makanya dasar moral itu perlu banget. Sedari kecil, sedari dia nol tahun, sebagai orang tua kami berusaha contohkan dia value yang baik dengan harapan dia tumbuh dengan value sesuai dengan ajaran kami. Menanamkan keyakinan padanya bahwa kami satu-satunya yang dapat dipercaya dan membuatnya nyaman dalam setiap keadaan. Bukan pada teman-teman yang entah berlatar belakang seperti apa, tapi pada kamilah dia senang bergaul. Harapannya ya. Berharap muluk tidak dosa kan. Nyatanya sebagian besar remaja lebih percaya pada teman dan lebih nyaman dengan teman. Kalau dapat teman dengan value yang baik sih kepeneran ya. Tapi kalau temannya zonk. Ya wasalam.

Karena aku bukan ibu yang akan melarang Kaisar bergaul dengan X atau Y. Jadi lebih baik aku bikin dia lebih percaya dan nyaman denganku dari pada sibuk melarang Kaisar tidak boleh berteman dengan sesiapa. Lagi pula aku yakin, makin besar dia akan makin paham bahwa menghindari orang-orang beracun itu wajib.

Melarang anak nongkrong apa berarti melarang anak punya teman? Nongkrong dan punya teman bagiku sesuatu yang bedanya jelas. Punya teman itu ya yang membawa manfaat, bukan yang mengajak atau bisa diajak pada sesuatu yang tidak bermanfaat macam nongkrong. Pun, maksud dari nongkrong itu suatu pekerjaan yang hampir setiap malam kumpul di suatu tempat yaaa. Garis bawahi, hampir setiap malam. Bukan malam-malam tertentu misal malam liburan aja. Gimana, khawatir kan kalau tiap malam anak remajaku pamit, "Ma, dolan dulu". Akan klenger aku, JELAS.

Relosusi 2020

Sesenang itu bisa layat. Tahun ini sudah dua kali layat dan akan selalu melayat kecuali kalau aku yang jadi objek layat. Oh, horor hiks. Mau mendoa semoga dikasih panjang umur, tapi apa daya kalau semua kisah tertulis rapi bahkan sebelum si lakon lahir. Ya sudahlah, serah dan pasrah saja pada Yang Punya Cerita.

Resolusiku agak muluk atau bahkan muluk banget 2020 ini. Selain target harian, aku juga menulis hal-hal gila (lagi) yang kemungkinan besarnya akan tidak tercapai karena yaaa, nggak realistis aja.

Sekaligus aku ternganga ketika dua kali kematian dan dua kali itu pula melayat. Lalu jadi berpikir kalau sebenarnya untuk mencapai sesuatu cuma butuh diusahakan. Jadi, MUNGKIN kalau aku mengusahakan resolusi gilaku, akan bisa kucapai meskipun banyak hal harus terkorban. Yang penting berusaha aja dulu, hasil mah udah ada yang nulis. Mereka selalu memotivasi dengan perintah "berproseslah", bukan "berhasilah". Kalau berhasil, otomatis alhamdulillah sebenarnya. Lol.

Jadi mari kerja keras dan berdoa penuh harap serta rasa cemas, semoga resolusi yang ditulis dengan tinta bukan emas itu menyata biar bisa beli emas mulia. Hloh gimana wkwk.

Yang jelas aku maunya kerja 2020 ini. Kerja yang gajinya banyak dan dimata orang desa bergengsi gitu hlo. Ah, ngapain melulu masih memikir gengsi. Asal gajinya nyukupi untuk biaya foya-foya dunia, tabungan akhirat, dan biaya sekolah Kaisar aja, CUKUP.

Cukupku berlebihan nggak sih untuk kualitas diriku yang soft maupun hard skillnya rendah banget. Wkwk. Udalah, semua tertakdir. Maunya jadi PNS di Jakarta biar 'cukup' sesuai impianku bisa kuraih, meskipun nanti setelah dijalani akan merasa kurang (lagi). Tapi semua cerita punya alurnya. Tugasku cuma berusaha. Kalau takdirnya aku gagal seleksi, semua tertakdir. Aih, apakah aku sungguh sudah keras mengerja, wahai diri yang lemah konsistensi?

Pun aku merasa 2020 ini keadaan jiwaku membaik. Setelah seberat itu berjibaku dengan mental illness pasca punya anak. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk struggling melalui banyak hal sulit, sekaligus terlalu singkat untuk menyembuhkan jiwa yang kelelahan lalu penyakitan. Maka aku bilang bahwa jiwaku membaik karena aku sadar bahwa sembuh bukan frasa yang tepat untuk mengungkap kondisi mentalku saat ini. Masih banyak yang harus diperbaiki agar benar-benar sembuh.

Tapi karena merasa membaik maka aku berani bermimpi lagi 😀. Biarlah terdengar tolol asal aku bahagia. Lagi pula, kalau saat ini semua yang aku punya bagi sebagian orang adalah previllege, itu semua karena aku menuliskannya. Jadi, untuk masa depan, tulis aja dulu maunya seperti apa. Kalau iyaNya senada, segala puji bagiNya. Kalau masih belum jadi punya, Dialah pemilik hidup manusia. Tetap berprasangka baik, bersyukur, dan berusaha. Betul?

Anw, semua yang aku tulis adalah usahaku untuk sembuh. Karena bagiku, aku menulis maka aku berobat. Jadi setiap kalimat yang kulontar bukan jaminan ia adalah aku. Semua adalah penguat diriku, bukan sepenuhkan definisi tentangku. Barangkali aku mampu menuliskan, bisa jadi masih sekuat tenaga berusaha mengimani. Jadi tolong, jangan judge aku dari tulisanku karena kamu akan keliru 😂😂.

Mari membaik bersama. Demi mereka yang tidak mungkin tumbuh menjadi shalih/shalihat tanpa orang tua yang berusaha memperbaiki diri menaati perintah dan menjauhi laranganNya. Apa gunanya jadi orang tua kalau tidak bisa menyontohi kebaikan pada ananda?

Mari bermimpi bersama. Demi dunia mereka yang meskipun sementara tapi merupakan tilas utama menuju kehidupan kekal selamanya. Apa gunanya tinggal di bumi kalau tidak bermimpi dan tidak punya orientasi?

2020 menjadi manusia bertakwa seutuhnya. Diberi kebaikan dunia yang membawa manfaat untuk kebaikan akhirat. Tercapai semua mimpi duniawi dengen berlelah mengusaha sebagai bandul pemberat amalan baik dihari perhitungan. Aamiiin.

Pembagian Tugas Bapak dan Ibu

on Kamis, 21 November 2019

Masih, mayoritas orang dicircleku menganggap bahwa tugas bapak adalah mencari nafkah. Pekerjaan rumah? Jelas tanggung jawab ibu.

Ayolah, udah mau 2020 woy. Bangun dan renungkan lagi soal pembagian tugas tidak rasional ini.

Bahkan ada yang sampai punya konsep "sepulang kerja, bapak dilarang main sama anak dengan alasan CAPEK". Emang ibu yang seharian di rumah nggak capek? Tolonglah.

Makanya nggak heran sih kalau ada orang yang sambat "anakku ngemohi bapaknya". Hla gimana mau mau, didekatkan aja enggak. Biasanya tipe-tipe begini hasil didikan 70an atau masih serumah dengan orang tua. Masih tertolong dengan pembagian tugas macam ini karena ada orang tua yang bisa dititipi anak. Kalau sudah rumah sendiri dan pembagian macam begini masih diterapkan, REKOSO DI IBU serius.

Kami misalnya, sepulang kerja ya mas Bely main sama Kaisar. Aku ngurus pekerjaan sore yang emang harus dikerjakan sore, bukan pekerjaan siang yang belum selesai dikerjakan sore hlo ya (aku mah rajin). Pagi hari sebelum kerja mas Bely juga wajib main sama Kaisar. Bahkan cuci baju. Iya, suamiku punya tugas cuci baju tiap pagi.

Aku malu nggak ngakuin ini? Nggak samsek. Kenapa juga harus malu. Mungkin karena close friendsku melakukan hal yang sama dan mereka tanpa malu blak-blakan ke netijen kalau suami mereka bertugas ini itu di rumah. Ada hlo yang bilang gini sama aku "aku nggak pernah cuci piring karena itu tugas suamiku. Jadi selesai masak, ya udah sih tak tinggal aja itu pekakas kotor". Ada juga yang dengan santuy bilang "aku leha-leha, bojoku nggosok kamar mandi".

Makanya aku no worries kalau mengumbar ke dunia "mas Bely umbah-umbah". Wkwk. Tapi beberapa hari belakangan aku sih yang cuci baju karena emang aku lagi selow aja makanya cuci baju. Kalau lagi enggak, ya mas Bely dong yang cuci. Lol.

Jadi kalian yang masih berpikir tugas itu dibagi antara bapak dan ibu, rekontruksi yuk. Apalagi yang anaknya laki-laki. Wajiblah diajari tanggung jawab bersama, tidak sekedar dimindset "laki-laki tugasnya cari duit, titik, udah". Masa iya generasi 2020 masih berpola pikir sama dengan generasi masa lalu.

Kalau ibu yang cari uang dan bapak urus rumah boleh nggak? Ya nggak papa lah kalau memang kesepakatan berdua. Kalau ibu yang kerja sudah pasti sih ibu juga ikut pegang pekerjaan rumah. Betul apa betul? Kenapa kalau bapak yang kerja, bapak pantang ikut andil menyelesaikan pekerjaan rumah?

Atau kalau keduanya sama-sama kerja, siapa yang urus rumah?

Bahkan ketika seorang wanita mengikhlaskan dirinya 24/7 jadi istri dan ibu di rumah, bukan berarti tidak berhak dibantu mengerjakan tugasnya di rumah. Yakinlah, pembagian tugas yang berkiblat pada masa lalu itu berat sebelah. Wanita bukan pelayan, gaes, tapi teman seperjuangan. Pendamping hidup dunia akhirat. Yuk sayangi istrimu sebagaimana mas Bely menyayangiku. Related? LOL.

Kezal

Kalau sedang tidak konsentrasi penuh pada suatu hal, rasa-rasanya aku pengen ngamuk sama mas Bely karena kasih ijin Kaisar diajak ke pasar sama mbahnya tanpa diawasi mas Bely.

Sudah kesepakatan berdua bahwa anak bukan sepeda ontel yang bisa sembarangan dipinjam atau dititipkan. Dan karena kami tinggal dekat dengan seluruh keluarga maka diputuskan untuk tidak meminjamkan dan menitipkan Kaisar ke siapapun. Kalau satu orang boleh, sudah pasti lainnya iri dan kepengen dititipi atau sekedar dipinjami.

Begitu bukan logikanya?

Bahkan diajak eyang ke pasar aja belum pernah padahal rumahnya jejer alias sebelahan. Ya karena emang nggak boleh. Kalau mau ngajak harus ada aku dan atau mas Bely. Cuma sama Kaisar doang BIG NO lah.

Sering dimarahi nggak sama mama atau bapak gegara anak diajak eyangnya nggak boleh? Dulu iya, sekarang enggak. Entah karena mereka sudah paham kalau aku ngeselin atau paham bahwa masa absorbent mind memang lebih baik tidak banyak diajak bergaul dengan mereka yang tidak sevalue. Yang jelas sekarang tidak pernah ngajak Kaisar kemana-mana lagi.

Bahkan sekedar dikasih makanan ketika bertamu ke rumah orang saja aku kasih batasan hlo. Kalau mau ya ambil dan satu aja, nggak mau ya jangan ambil lagi. Pun tuan rumah memaksa suruh ambil lagi, aku tetap tidak akan ambilkan lagi. Dan sejauh ini Kaisar nggak yang nangis gimana kalau kejadian begitu. Karena aku konsisten dan emang sejarang itu namu sama kakek atau nenek Kaisar yang suka bilang "udah terima aja wong dikasih kok". Ya kenapa diterima kalau nggak mau makan. Ngajari anak jadi orang serakah kalau begitu mah. Dipaksa sekeras apapun kalau enggak mau makan ya ditolak.

Orang bilang ngajari anak nolak pemberian itu salah. Lebih salah mana, ferguso, sama ngajari anak buang-buang barang macam makanan gini?

Atau kalau kalian tipe orang yang berpikiran, "terima aja dulu entah nanti mau dikasih orang lain ya nggak papa". Duh gaes, mulia amat sih hidupmu. Aku malah mikirnya kalau gitu kita ngajari anak mau kasih orang aja harus minta ke orang lain, kok nelangsa amat.

Dibilang overprotective? Kita runut lagi apa definisi overprotective itu.

Kalau aku melarang Kaisar atau terlalu sering bilang jangan hanya karena takut jatuh atau sesuatu yang malah akan membatasi perkembangan fisik dan mental dia, itu namanya overprotective. Hla ini yang aku lakukan sekedar menjauhkan anakku dari value yang tidak sefrekuensi denganku hlo. Keliru?

Value yang tidak sefrekuensi itu yang bagaimana? Panjang definisinya. Dan aku sedang malas nulis panjang-panjang.

Maafkan malam-malam curhat onlen. Karena aku kezaaal banget sama mas Bely. Katanya partner sedunia sesurga. Nggedein Kaisar biar jadi anak dengan value sempurna sesuai standar mamanya yang tinggi luar biasa. Kenapa melanggar kesepakatan. Hzzzz.

Petuah Sore Ustadz

Tadi sore gerimis dan sempat lumayan besar titik-titik air yang turun. Mau ngaji kok agak awang-awangen karena takut kehujanan kuyub di jalan padahal bawa Kaisar. Kan eman-eman harus ajak anak hujan-hujan cuma buat berangkat ngaji. Terus aku kepikiran cerita Umar yang memarahi anaknya karena sepulang perang nggak ada bekas luka ditubuh anaknya. Umar bilang, ia lebih senang anaknya syahid daripada pulang dalam keadaan sehat tidak kurang satu apapun.

Dan aku ceritakan lintas pikiran itu ke Kaisar sekaligus tak tambahi "Kenapa mama mau ngajak kamu kehujanan sedikit buat berangkat ngaji aja eman-eman mas? Harusnya nggak papa ya kehujanan dikit".

Lalu Kaisar tetiba nyletuk "popo ngaji ma" means ngaji nggak papa ma. Akhirnya aku minta dia pakai jaket yang ada topinya biar nggak kena gerimis dan kami berangkat ngaji.

Meskipun terlambat setidaknya berangkat. Dan aku senang, merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya ngaji.

Tadi di kajian, ustadz menjelaskan tentang orang yang masuk surga adalah orang yang sabar. Karena merasa sering tidak sabar, aku nanya dong kalau akutu orang yang sok-sok suka marah berlebihan terlebih kalau lagi tertekan atau banyak pikiran atau banyak hal yang harus dikerjakan.

Ustadz menjawab begini, "Watak bisa diubah tidak? Bagaimana cara mengubahnya? Dengan Qur'an. Kalau kita sering dengarkan di radio, banyak orang cerita dulunya sebelum ikut ngaji suka marah-marah. Setelah paham agama, tidak pernah marah-marah lagi".

Aku pengen nangis di tempat dudukku, serius. Kalau dipikir-pikir, sebelum ngaji diriku memang jauh lebih buruk sih. Meskipun sekarang tidak bisa dibilang baik, setidaknya tidak setiap hari kemrungsung dan haus akan amarah. Kalau dulu mah sedikit-sedikit kemrungsungan. Dan kalau udah kemrungsung gitu jadi hobi uring-uriang, bermuka masam, dan sering membentak.

Sekarang kemrungsung cuma kalau lagi pengen kemrungsung aja. Hloh gimana? LOL.

Ya kalau lagi sebanyak itu yang dipikir dan ditarger aja jadi kemrungsung. Seperti sekarang ini. Huhu sad.

Dan karena jawaban ustadz tadi aku jadi intropeksi diri. Sejujurnya sekarang aku sedang ada misi berat dan kalau sedang on duty akutu nggak bisa hidup santuy cuy. Merasa selalu terkejar dan harus kebut-kebutan dengan waktu. Jangankan solat khusyu', makan aja maunya cepat selesai. Hloh kebalik ya lol.

Padahal untuk misi itu, tugasku hanyalah memantaskan diri agar Allah berkenan mengiyakan pintaku. Dan caraku ternyata keliru.

Memantaskan diri tidak sama dengan menyiksa diri dengan bekerja terlalu keras sampai lupa siapa sejatinya pemegang kendali. Berusaha menjadi pantas menerima hasil sesuai pinta, bukan berarti melupakanNya dalam setiap jerih usaha. Sementara usaha yang sedang kueja adalah usaha yang tidak menyertakanNya. Wajar kalau semua terasa serba oyak-oyakan.

Wahai jiwa, kembalikan segala urusan padaNya. Segala kerja tidak akan luput tertulis pahalanya. Perkara hasil, percayalah tidak ada cerita yang lebih baik daripada milikNya. Kalau pintamu adalah iyaNya, maka ceritaNya sempurnya. Kalau pintamu bukanlah iyaNya, maka ceritaNya sempurna. Tugasmu hanya taat.

Memanglah, serekoso itu jadi makhluk ambi semi halu nan perfeksionis dan idealis.

Ps: Kaisar ngotot pengen berangkat ngaji karena hanya waktu ngaji dia boleh nonton youtube LOL.

Sebuah Klarifikasi Tidak Penting

on Rabu, 13 November 2019

Sebenernya aku sedang berada di posisi yang tidak boleh buang-buang detik berhargaku untuk melakukan hal tidak penting macam nulis begini. Tapi aku pengen. Lol.

Tadi sore waktu beli lauk ketemu sama tetangga. Jarak rumah kami tergolong jauh plus beda RT sebenarnya. Tapi kalau kalian tinggal di desa, poncot kulon lan poncot etan itu kenal semua.

Beliau bilang gini ke aku, "Aku sok yo meh tak klumpukne og mbak. Penak yo mbak nglumpuk kabeh ngono kui".

Sebuah obrolan ngrasani rumahku yang bersebelahan alias jejer dengan rumah mamaku. Orang-orang desa nyebutnya nglumpuk.

Sakjane aku pengen nyauri "bukan karena mau, tapi kepepet". Hla gimana, lahan paling available ya cuma tanah sebelah rumah mama. Andai bapakku tuan tanah pastilah sudah aku milih lokasi rumahku. Karena nggak bisa milih mau gimana lagi, ya udah sih jejer sama rumah mama juga nggak papa.

Gipula semua orang rumahnya jejer kan ya. Kenapa pada pusing karena rumahku jejer rumah mama. Lol.

Sekalipun jejer, aku dan mama berusaha tidak sama-sama ngrusuhi satu sama lain, tidak ikut campur urusan satu sama lain. Bahkan pernah ada seorang ibu yang rumahnya jejer dengan rumah anaknya nggresulo kalau bawang merah dan telor sediaannya cepat sekali habis karena sering diminta anaknya. Aku tidak pernah melakukan itu kecuali kepepet. Mamaku punya toko kelontong tapi aku tidak pernah nembung "njaluk" kecuali memang barang reject. Tapi masih sih, aku punya bad habit suka bayar belakangan dan kadang lupa sudah ambil apa aja lol. Setidaknya aku sudah berusaha nggak hobi ngrusuhi rumah mama kan ya.

Pun mama terhadapku. Aku pergi sedari sore sampai malam dan lampu depan rumah belum nyala, mama nggak akan njak-njakan masuk rumahku untuk sekedar menyalakan lampu. Aku juga nggak pernah sih, titip rumah kalau mau pergi. Nambah-nambahi pekerjaan mama aja.

Aku memang pernah bilang ke bapak, intinya meskipun jejer tapi nggak boleh saling ikut campur. Dan bapak waktu itu nyauri, bangun rumah sendiri memang tujuannya agar tidak saling ikut campur, kalau masih ada saling ikut campur bangun rumah nggak ada gunanya.

Jadi sudah tahu kan ya, meskipun tetangga aku bukan anak ayam yang selalu ngrusuhi induknya. Hanya karena tetangga sebelah, bukan berarti aku tidak merdeka mengatur hidupku sendiri. Hanya karena tetangga sebelah, bukan berarti suka ngrepoti. Ya, rumah kami jejer seperti rumah kalian yang jejer dengan rumah sebelah kalian. Apa kalian saling njaluk brambang setiap harinya? Kalau kami sih enggak. Ya sejarang itu kecuali benar-benar kepepet. Bukan yang tiap hari jlak-jlik. Kalian sama tetangga sebelah kadang gitu juga kan? Kadang aja, bukan setiap hari setiap waktu. Pun kami.

Baby Blues-ku

on Selasa, 12 November 2019

Akupun baby blues. Menurutku lumayan parah meskipun aku masih mau pegang bayiku. Hla ya gimana nggak mau urus bayiku, wong aku tinggal cuma berdua dengan suami. Padahal suami harus kerja.

Fyi first, aku dan suami pek nggo. Dan ini akan jadi kunci kemudahan dalam memahami kisah yang kutulis.

Paska lahiran aku tinggal di rumah ibuku. Dan para tetangga pada suka kepo kenapa nggak tinggal di rumah mertua. Helow, kenapa sih harus banget tinggal di mertua. Kalau tinggal di mertua jelas jadi mantu jagoan gitu? Belum lagi mertuaku memang agak memaksa untuk tinggal di rumah beliau. Padahal menurutku, tinggal di rumah mertua tidak bagus untuk membesarkan anakku pun kondisi jiwaku.

Entah apa juga yang mertuaku katakan ke orang-orang desa sampai mereka menganggapku ngemohi mertua. Dan sekali lagi sayangnya (dulu) aku bukan orang yang bisa seenteng itu memasabodohkan omongan orang.

Anakku umur 2 minggu dan kami pindahan. Memaksa pindah rumah karena aku kesal dengan keceriwisan tetangga.

Bukan sekedar adaptasi dengan anak baru, tapi juga rumah baru. Padahal aku bukan orang yang mudah beradaptasi dengan apapun. Bahkan aku tidak bisa tidur kalau bukan dikamarku, iya sekedar pindah tidur ke ruang tv saja aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangkan harus pindah rumah.

Sudah pindah rumah pun cemoohan itu belum berlalu. Masih, orang-orang desa kepo kenapa nggak tinggal di mertua. Bahkan mertuaku enggan berkunjung ke rumahku dengan alasan rumahku tepat berada di sebelah rumah ibuku. Padahal bangunan rumah kami jelas terpisah. Perasaan rumah orang-orang juga pada jejer gitu dan biasa aja. Kenapa rumahku jejer rumah ibuku dan orang-orang masih geger aku ngemohi mertua hanya karena tidak mau tinggal dimertua paska lahiran.

Sungguh lambenya orang desa itu ngalahi jempol jamaah instagram. Andai semua bude-bude dan pakde gosip desa main instagram, wow kupikir artis senusantara akan hapus akun mereka.

Bahkan kalau ditimeline ig kita sering nemu tulisan "me time ibu baru itu sesederhana belanja ke mamang sayur". Aku? Tidak bisa melakukan itu. Aku takut dicerca orang.

Dan akibatnya siapa lagi kalau bukan anak dan suamiku. Suamiku sampai bilang ke aku kalau aku gila. Tiap hari ngamuk, nangis, ngomel, teriak-teriak. Dan bayi merahku pun tidak luput dari tindak amarahku. Bahkan aku pernah mbanting bayiku yang belum genap sebulan (walaupun mbantingnya dikasur sih 😃). Sering juga aku bentak bayi merah itu kalau dia tidak segera tidur. Padahal aku tipe orang yang kalau udah marah akan ngeri banget. Suamiku? Setiap detik selalu ada keributan yang terjadi. Dimataku semua tindakannya keliru. Bahkan kami tidak berhubungan seks selama 6 bulan karena sungguh jiwaku tidak stabil. Mana mungkin hasrat seksual itu muncul kalau aku tidak mengenali diriku sendiri (saat itu).

Ya, akupun sadar AKU sedang GILA. Aku kacau karena merasa banyak tekanan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku dan kehilangan jiwaku. Tidak boleh berlanjut dan harus berusaha "sembuh".

Aku mulai cari healing terbaik versiku. Curhat ke teman-teman dekat yang sudah duluan punya pengalaman hidup menjadi ibu baru. Salah satu temanku menyarankan untuk follow akun instagram annisast, grace melia, dan raden prisya. Selain baca hilight di ig story mereka, aku juga banyak baca buku gratis di ipusnas soal ibu baru, baby blues, dan mentah health; ikut kulwap gratis; dan alhamdulillah aku punya teman lumayan akrab yang tahu masa laluku dan dia sekarang jadi psikolog. Aku sering curhat ke dia dan (INI AKU ya) curhat bukan healing yang terlalu membantu kalau kitanya tidak berusaha sendiri keluar dari jiwa mengerikan yang sedang berada dalam tubuh kita. Serius INI AKU. Entah karena curhatnya dengan psikolog yang sudah lama kukenal atau bagaimana, yang jelas, INI AKU sekali lagi, tidak terlalu membantu.

Pun setiap baca-baca soal baby blues dan PPD, mereka bilang tidak ada sangkut pautnya dengan iman. Tapi sekali lagi INI AKU. Justru healing terbaikku adalah ketika aku "kembali". Lagi-lagi, INI AKU. Mohon maaf jika tidak sepemikiran.

Ya, jadi kalau pendapat umum berkata baby blues bukan soal iman dan healing paling tepat adalah cari psikolog, mungkin memang benar. Tapi pertolongan pertama, mendasar, dan paling penting adalah DIRI KITA. Kuncinya adalah benahi jiwa alias perkuat iman dan monolog dengan diri. Sekali lagi INI AKU.

Bermodalkan ingatan samar tentang sebuah surah dalam Al-Qur'an soal "jiwa-jiwa yang tenang". Aku penasaran, dan kembali menyempatkan diri baca Qur'an plus artinya, solat malam, dan berdialog dengan Allah Sang Pemilik Alam, memupuk rasa percaya padaNya bahwa iyalah Dia sebaik-baik penulis cerita, semua milikNya, kembali padaNya, dan segala sesuatu berjalan atas kehendakNya. Banyak-banyak juga monolog dengan diri sendiri. Menuliskan hal-hal yang menoreh luka dan membuat bahagia. List semua. Lalu pada akhirnya aku menemukan bahwa tidak ada alasan untuk merusak bahagiaku dengan segala remeh temeh tidak penting dalam hidup ini.

Perasaan merasa "lebih baik-baik saja" tidak instan terbentuk. Perlu setahun lebih bagiku sampai aku merasa "lebih baik-baik saja". Dalam proses penyembuhan diriku, aku masih sering merasa "gila". Masih suka marah, teriak, dan sering merasa tidak berguna. Ya begitulah, lika-likunya orang "gila" berusaha sembuh.

Bahkan sampai hari ini aku masih belum bisa melupakan trauma punya anak baru. Ya, setakut itu sampai aku berencana satu anak cukup.

Mungkin karena memang belum sepenuhnya sembuh dan kedekatanku dengan Sang Pemilik Alam belumlah seerat itu. Makanya masih ada rasa trauma yang belum sudah.

Sekali lagi mohon maaf jika tidak sepemikiran. Ini pengalaman pribadiku dan setiap orang punya caranya masing-masing dalam menyikapi keadaan meskipun keadaan itu hampir sama. Tapi ingat, tidak ada keadaan yang serupa. Pun kemampuan orang dalam memandang dan menyelesaikan masalah sangat berbeda-beda dan sendiri-sendiri bergantung pada banyak faktor. Mohon tidak dihujat.

Ps: finally aku berani post. Karena kemarin tilik bayi dan rasa tidak nyaman dua tahun lalu kembali berkeliaran dalam bayangan. Demi orang lain segera selesai dengan masalah yang sama, oke fiks posted. Semoga memberi manfaat untuk pembaca.

Satu Anak

Cita-cita punya anak satu itu nggak papa banget kok. Cuma aja, kalau dipikir ulang, rasa-rasanya agak melanggar syariat nggak sih. Karena perintahNya jangan takut punya anak hanya karna takut nggak bisa kasih dunia. Tapi masalahnya kalau diaku bukan sekedar takut nggak bisa kasih dunia meskipun tidak terpungkiri kalau dihitung pakai akal dan kalkulator manusia keuangan kami tidak akan mampu memberikan kehidupan selayak sekarang kalau nambah anak. Sekali lagi, masalahku bukan sekedar uang meskipun aku khawatir juga soal uang. Aku percaya banget kalau rejeki Allah yang atur. Jadi meskipun ada rasa khawatir dalam hal keuangan akan tidak sesuai standar sekarang, tapi semua dunia Allah yang punya.

So what? Kenapa setakut itu nambah anak? Karena aku masih setrauma itu. Bayangin aja waktu Kaisar kecil kondisiku: anak baru, rumah baru, aku yang belum selesai dengan diriku sendiri, and everything feel so clueless. FYI, traumanya masih kerasa banget palagi tiap liat anak bayi masih merah. Makanya sampai hari ini masih berpikiran untuk anak satu saja cukup, kecuali Allah berkehendah yang lain; tapi tetep, aku dikasih satu aja udah bersyukur luar biasa. Lol.

Kemarin tilikan bayi. Dan ya Allah serius makin merasa yakin kalau nggak mau ngulang punya anak kecuali mendadak mas Bely jadi sultan wkwk. Bukan perkara uang sekali lagi. Tapi kalau memang harus punya anak lagi aku nggak mau keluarga besar kami menjengukku di masa-masa awal recovery pasca lahiran. Karena oranng orang tu berisik banget dan pendapatnya suka tanpa ilmu. Maka untuk menghindari memarahnya baby blues (kalau baby blues lagi), aku mau cuma diurus sama sus berbayar yang kompeten. Nggak mau melibatkan keluarga karena serius pasti berisik.

Entah ya, 2019 sudah hampir berakhir kenapa orang-orang belum sadar kalau mereka masih bodoh lol. Padahal aku sadar kalau bodoh dan nggak mau membodohi Kaisar maka berusaha belajar biar memintar. Kapan orang-orang akan menyadari hal yang sama?

Kalau bapak bilang sih, kemampuan orang berpikir itu beda-beda. Jadi tidak usah heran kalau jaman sekarang masih banyak orang hidup dengan pemikiran kuno yang ngeselin lol.

Dan disisi lain, mungkin emang standarku ketinggian dalam nggedein anak. Tapi ya, BODO AMAT 🤗

Metik Mangga Mas Eno

on Rabu, 30 Oktober 2019

Kemarin Kaisar main ke rumah mbah kidul sama mas Bely. Aku nyusul belakangan karena sebelum ngurus gas ke kidul, rutinitas pagiku harus kelar dulu. Biasalah, makhluk ambi semi halu yang perfeksionis.

Waktu sampai kidul mbah ti cerita kalau mangga yang belum matang dan tergeletak di pojokan itu hasil petikan Kaisar. Aku lupa nanggapi gimana yang jelas aku belum ngeh kalau Kaisar diajari "mengambil yang bukan haknya".

Masuk ke rumah dan nonton galeri foto di hp mbah ti karena mau mindah file. Nggak sengaja, mak sliwer lihat Kaisar dibopong papa di kepala atau pundak (entah nggak begitu jelas juga lihatnya), metik mangga tetangga sebelah rumah mbah kidul dan dalam foto itu ekspresi Kaisar semacam ketawa gitu.

Masih nggak ngeh juga kalau Kaisar diajari "mengambil yang bukan haknya".

Pulang ke rumah dan aktivitas lanjutan macam mandi dan mandiin Kaisar lanjut ngeloni. Waktu Kaisar tidur aku baru sadar "Hloh tadi kan metik mangga tanpa ijin yang punya pohon. Walah, value yang nggak ada dalam hidupku nih".

Setelah Kaisar bangun aku bilang ke dia "Mas, kamu tadi metik mangga mas Eno to sama papa? Mana nggak ijin pula. Jangan diulangi hlo mas. Namanya mencuri hlo kalau metik-metik buah orang tanpa seijin yang punya".

Respon Kaisar? Ya ha he ha he doang lah. Tapi bodo amat, setiap nilai harus diajarkan sedari kecil kan. Selain kasih contoh, kasih pengertian lewat obrolan juga. Ajari "berbicara" mengkomunikasikan apa-apa yang ingin disampaikan. Jangan takut anak tidak paham karena sejatinya anak-anak itu pintar.

Pernah mikir nggak kenapa anak umur 0 sampai 3 itu peningkatan kemampuan hidupnya luar biasa tapi tingkahnya ngeselin sempurna? Karena mereka berpikir dengan pikiran bawah sadar mereka. Makanya cepet pinter dan apa-apa yang mereka dapat akan menjadi diri mereka alias dibawa sampai besar nanti.

Jadi jangan menyinyirku kalau aku agak keras dengan aturan Kaisar tidak boleh main sendiri tanpa aku dan atau mas Bely. Nyatanya main sama mas Bely aja masih kecolongan dikasih contoh nilai yang seharusnya tidak diajarkan. Padahal aku sudah sering briefing mas Bely harus gini dan gitu.

Lalu kalian menyinyirku ngatur bojo? Atau hanya pikiran negatifku saja lol. Percayalah gaes mas Bely sangat percaya padaku karena memang semua yang aku terapkan dalam hidupku berbasis data ilmiah yang bisa dipikir akal alias logis. Biasalah, kalau kalian deket sama aku pasti tahu aku anak yang gimana. Bahkan ada temen yang bilang "koe ra edan to Ni karo ambisi lan perfeksionismu sing ra ketandingan sak ndoyo kui?". Hla kenapa harus gila sih. Justru aku akan gila kalau nggak punya ambisi yang semi halu dan penuh perfeksionitas itu.

Kembali soal metik mangga tetangga tanpa ijin yang punya. Sore hari waktu mau ke rumah uyut sama Sheza, kami ketemu mas Eno, anak pemilik mangga sebelah rumah mbah kidul. Aku minta ijin sama dia dan bilang makasih dan maaf. Sengaja, Kaisar harus tahu, terbiasa dengan contoh dan harapannya mau menerapkan dalam hidup dia.

Sepele ya, cuma metik mangga doang jadi tulisan panjang. Jangan sepelekan hlo, btw. Sungguhlah hal-hal sepele begini ini yang menumbuhkan bibit-bibit mudah mengharamkan yang halal semacam memakan yang bukan haknya di kemudian hari, pada masa dewasanya nanti. Mengingat anak-anak cepat pintar, yuk lah orang dewasa ikutan belajar agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa yang pintar dan berakhlak mulia. Kalau bukan orang dewasa yang kasih contoh, siapa lagi sih. Pastikan semua nilai yang ingin ditanamkan dalam diri anak sesuai dengan syariat. Insya Allah, Allah mudahkan. Kalaulah nanti dewasanya ia bukan seperti yang kita pinta dalam harap dan doa, semua cerita ada pengarangnya. Tugas kita hanya menyontohi dan mendoakan saja. Serahkan hasil pada Sang Pemilik Kuasa.

Kebodohamatan Demi Keselamatan

on Kamis, 24 Oktober 2019

Kalau ada yang menyinyir soal caraku membesarkan Kaisar, aku jadi ragu dan banyak menanya pada diriku. Tapi melihat Kaisar tumbuh besar secerdas sekarang di tengah banyak keterbatasan, aku merasa bahwa tidak ada yang keliru dan yang perlu aku lakukan hanya tetap belajar plus tutup telinga rapat-rapat.

Beberapa waktu lalu Kaisar diajak kakek neneknya ke rumah mbah buyut. Aku nggak kasih ijin karena aku memang tidak mau dia main sendiri tanpa aku atau mas Bely. Karena kemarin beberapa hari aku tinggal serumah hampir seharian sama mbah ti ku, beliau tahu kejadian ini dong. Aku kena omel habis-habisan. Tapi ya nggak papa, kami beda generasi dan wajar kalau sudutku memandang beda dengan mbah ti. Aku diam saja tidak banyak komentar.

Alasanku kenapa tidak boleh? Pertama, karena sejujurnya aku sempat kasih ijin Kaisar main sendiri tanpa aku dan atau mas Bely. Pulang-pulang sakit dong. Aku nggak mau kejadian serupa terulang lagi karena anak sakit itu capek kan ya. Ndilalah juga aku baca buku dan dari buku itu aku tahu bahwa anak dibawah tiga tahun berpikirnya masih pakai alam bawah sadar. Karena berpikir dengan alam bawah sadar itulah tiga tahun pertama hidupnya adalah penentu kepribadiaan yang akan membentuknya dewasa nanti. Lalu aku mikir, "oh berarti selama tiga tahun pertama memang lebih aman kalau main harus didampingi aku dan atau mas Bely ya". Jadi sekiranya ada hal yang tidak sesuai value kami sebagai orang tua, kami bisa "selamatkan" anak kami.

Kecuali kalau semua orang dicircleku adalah mereka yang senilai dan sepaham dengan aku. Tapi ya mana mungkin sih bisa meminta semua orang senilai dan sepaham dengan kita. Makanya aku main aman aja. Anak satu kalau nggak dieman mau diapain, mosok dibikinin adek. Hlo nggak nyambung lol.

Kalau orang lain tahu kejadian ini, mungkin mereka akan berpikir sama seperti mbah ti ku, "wong gur dijak mbahe we ra oleh". Bisa juga aku dihujat sebagai mantu durhaka karena mertua mau ajak cucu ke rumah buyutnya saja tidak dikasih ijin. Ya tidak papa, wong mulut punya kalian dan keputusan tetap aku yang buat meskipun kalian nglambe neko-neko lol. Kalau main cuma sebentar tanpa aku dan atau mas Bely dan cuma di rumah kakek nenek nggak keluar cirlce yang lebih besar, aku masih kasih ijin kok. Tapi kalau kiranya berdurasi lama dan keluar circle yang lebih besar macam di rumah uyut yang banyak orang, mohon maaf aku emang membatasi. Harus ada aku dan atau mas Bely.

Seperti yang aku bilang di atas, kita tidak bisa memaksa semua orang senilai dan sepaham dengan kita. Makanya lebih baik cari aman untuk tidak banyak memberi waktu pada anak yang berpikirnya masih dengan alam bawah sadar untuk main sendiri tanpa orang dewasa yang valuenya sama dengan aku (a.k.a mas Bely karena selama ini yang bisa kusetir untuk menyamakan frekuensi value hanya mas Bely lol). Aku nggak mau lah anakku terpapar value yang jauh dari aku.

Nggak mau anak terpapar terlalu banyak value karena dia sendiri tidak bisa menyaring mana yang good dan bad. Susah banget hlo menyamakan value yang tidak sefrekuensi. Jadi lebih baik jauhkan anak-anak dari value yang tidak sefrekuensi darimu.

Dinyinyir? Hla lambe-lambe itu nggak punya kerjaan kok. Kasihlah mereka pekerjaan dengan menyinyirmu. Hidupmu dan anakmu akan tetap baik-baik saja meskipun banyak kena nyinyiran. Justru akan tidak baik-baik saja kalau kamu kasih banyak ruang dan waktu anakmu berada di circle yang valuenya tidak sefrekuensi denganmu. Percaya deh, nyinyiran itu lebih indah dari pada anak yang terkorban.

Makanya kalau nggak kenal dekat itu jangan kebanyakan ngomentarin karena sejatinya kita tidak tahu hidup orang seperti apa. Apalagi kalau cuma dengar dari katanya katanya. Tahan mulut untuk bersuara. Apa itu dalih kasih masukan, urusi dulu hidupmu yang aku yakin banyak berantakan. Kasian hlo sama yang dikasih masukan. Bisa jadi bukannya kasih solusi tapi malah nambah pikiran yang bukan-bukan.

Eh kalau kamu emang hobi kasih komentar ya komen aja deh. Suka-suka kamu yang njalani hidupku. Pesanku kamu banyak belajar aja dulu. Belajar lewat media apapun yang bisa nambah pengetahuanmu. Jadi kalau kamu ngomong bukan sekedar katanya tapi pakai data. Hidup bermakna itu kalau otak kita berisi hlo, percayalah padaku.

Inferior (Lagi dan Entah Kapan Sudah)

on Senin, 23 September 2019

Kalau lagi inferior dan maunya buang-buang uang itu hal yang wajar. Ada nggak, orang yang lagi inferior dan sujudnya direndahin; solatnya dikhusyu'in, tilawahnya dibanyakin, dzikirnya dikencengin. Ajarin aku dong. Serius minta tolong hlo.

Tapi bersyukur sih karena aku ikut ngaji dan itu menurutku sebuah hal yang wajib dicongkakkan. Lol.

Bukan apa-apa, tapi berkat ngaji cintaku pada dunia agak terselamatkan. Bahwa sejatinya dunia tempat yang akan ditinggal, sebuah kefanaan dan tidak kekal. Aku sadar, tapi seringnya khilaf jadi banyak cintanya dan pada akhirnya munculah Sang Inferior itu. Cry banget deh.

Sudah inferior, dibikin kecewa lagi. Duh lah, kiamat sudah dunia. Buang uang mah lewat. Lakukan semua hal yang disenangi dong. Urusan lain pikir nanti asal inferior dan kecewanya lewat dulu.

Tapi menurutku inferior itu bisa dibuang lewat cerita. Iya, cerita saja, tidak perlu ditanggapi apa-apa. Butuh didengar dan sudah. Bahkan kadang sekedar butuh teman. Duduk saling bisu menikmati lalu lalang.

Makanya teman itu penting. Tapi nyatanya aku kehilangan semua circleku kecuali via maya dan jarak tercipta sejauh itu. Mustahil bertemu kalau mendadak ada perlu sekedar ditemani dalam kehadiran sejati.

Padahal manusia punya Tuhan semesta alam yang setiap saat siap mendekap hangat. Kenapa sering tidak sadar sih. Kalau menurutku karena kasat mata. Susah memercai kekasatmataan adalah wajar bagi manusia yang secara kodrat tercipta lemah.

Atau hanya yang lemah iman yang tidak bisa percaya pada dekapan hangat Sang Kasat Mata? Kalau memang iya, makanya aku susah percaya. Wong imanku nggak seberapa. Sebuah pengakuan. Hla iya ngapain menyangkal kalau memang iya sih.

Justru dengan mengaku hidup jadi lebih mudah.

Ah, ikut ngaji saja perilakuku seburuk ini, apalagi kalau tidak ngaji. Aku berterima kasih banyak-banyak Allah.

Barangkali kenapa aku merasa serendah itu karena kalau Allah memberiku apa yang membuatku merasa tinggi, aku akan lari dariNya (lagi). Aku berterima kasih Dia tidak membuangku dengan memberi yang aku mau; sesuatu yang membuatku merasa tinggi. Dia ingin aku mendekat agar Ia mampu mendekap hangat, memantaskan diriku menerima mauku. Kenapa sesusah itu memahami. Kenapa sesulit itu mencerna. Kenapa sekeras itu menerima.

Iya, terima saja. Barangkali memang nandur iku ngundhuh adalah benar adanya. Walaupun diluaran terlalu banyak yang tidak nandur saja bisa ngundhuh. Tidak papa. Ada Allah yang kuasa, menetapkan siapa yang nandur dan siapa yang berhak ngundhuh.

Iya, sejatinya semua milikNya. Jangan berkecil hati hanya karena tidak punya. Jangan berbesar diri karena dititipi. Semua milikNya dan segala sesuatu yang menurutmu keliru adalah sebaik-baik kisah. Tugasmu hanya percaya, bahwa Ia sebaik-baik penulis cerita.

Antara Adat dan Syariat (2)

on Sabtu, 21 September 2019

Selepas kematian mbah kakung, keluargaku mengadakan acara selamatan. Puncak selamatan jilid satu kalau adat disini ada pada hari ketujuh atau bahasa jawanya disebut pitung dinanan (red. tujuh harian).

Waktu itu, sepuluh tahun yang lalu, mamaku berkeras tidak mau datang ke acara selamatan mbah kakung. Mama bilang "Bapakku lagi wae ninggal kok malah do gawe pestha jane mikire piye. Nek niate meh ndongakne lak isoh ndongo dewe-dewe". Kalau dibahasaindonesiakan "Bapakku baru saja meninggal kok malah pesta, mikirnya pada gimana sih. Kalau mau mendoakan bisa kan doa sendiri". Kurang lebih begitu.

Aku, sepuluh tahun yang lalu masih dangkal ilmu. Tahunya ya kalau adatnya begitu lakukan saja. Toh tidak salah kan melestarikan adat istiadat. Tapi satu hal yang bikin aku mikir keras waktu itu, "iya, kenapa mereka malah berpesta".

Akhirnya kami sekeluarga datang ke rumah mbah ti. Mamaku tidak mau bantu urus logistik untuk para santri yang mengaji dan tetangga yang kalau bahasa jawanya melek (bahasa indonya apa ya lol) dan malah ngendon di mantan kamarnya waktu masih tinggal di rumah mbah ti. Sambil nangis kejer, mama bilang "Aku neng kene sih kebayang-bayang mbah kakung. Wong-wong kui kok isoh malah masak-masak ra penting koyo ngene. Nek ra nglegani mbah ti, wegah aku rene". Translate nggak nih? Gini Indonesianya "Aku disini masih terbayang-bayang sama keberadaan mbah kakung. Kenapa orang-orang malah pada masak-masak tidak penting gini. Kalau bukan karena nuruti maunya mbah ti, aku nggak mau datang ke acara ini".

Aku ngapain? Ngelap piring. Dan besoknya aku menyesal kenapa malah ngelap piring dan ngakak-ngakak bersama para rewang lainnya bukan ngaji bersama santri?

Iya, dulu aku masih terlalu kecil dan miskin ilmu untuk mengkritisi. Tapi sekarang aku merasa cukup diri dan tahu dimana letak kelirunya adat ini. Tanpa diadakan acara selamatan, apa bedanya kematian antara manusia dan kucing? Kamu mau tahu, kemana roh kembali baik manusia maupun kucing? Kepada tuhannya, gaes. ALLAH. Entah manusia, kucing, gajang, semut; setiap yang bernyawa akan mati dan nyawa itu kembali pada pemiliknya; TUHAN, ALLAH. Jadi kalau kucing mati, sama perlunya untuk diadakan selamatan seperti manusia nggak? Coba dipikirkan lagi ya.

Belum lagi kalau terkendala masalah biaya. Beberapa waktu lalu ibu tetangga belakang rumah meninggal dan si anak tidak punya uang untuk mengadakan selamatan untuk ibunya. Si anak khawatir kalau orang sedesa pada ceriwis ngrasani ini anu. Akhirnya yang bersangkutan mengadakan selamatan, entah duit siapa yang dipakai. Bukan hal urgen untuk didonasi sih, jadi aku masa bodoh aja. Kasihan sebenarnya, tapi sekali lagi, kenapa harus memaksa diri melakukan sesuatu yang memberatkan. Wong yang memerintah bukan syariat, semata adat, kenapa harus mengangkat diluar kemampuan? Sedih sama mereka yang masih terbelenggu adat begini.

Satu hal dari celetuk mamaku yang benar-benar membekas "iya, kenapa ditinggal mati kok malah berpesta". Malam itu aku ngelap piring sambil ngakak-ngakak dengan sepupu dan bulik-bulikku. Padahal malah itu, mbah kung kami tujuh hari yang lalu baru saja meninggal. Iya, kenapa aku malah pesta? Kenapa tidak berdoa untuk mbah kakung. Sesedih itu kalau dikenang kembali. Kenapa dulu bisa sebodoh itu.

Kok pelik ternyata bahas adat selamatan. Ini belum masuk ke syariat hlo. Ah, kalau kita mau dan mampu berpikir sedikit saja, tidak usah bawa-bawa syariat, semua adat yang memberatkan mah tinggalkan saja, udah! Sesat nggak sih ajaranku lol. Hla iya, ngapain hidup terbelenggu dengan hal yang jelas membuat tidak bahagia dan bukan perintahnya syariat? Kecuali kamu bahagia dengan pelaksanaan adat ini, suka-suka kalau mau menjalaninya. Bukan urusanku, sih. Urusanku cuma satu, mengingatkan kamu untuk belajar banyak-banyak biar tidak salah kaprah dengan adat-adat yang bertebaran luar biasa di tanah jawa tercinta kita. Iya, belajar banyak-banyak yuk.

Anw, aku mau sedikit masuk ke syariat. Tapi kalau kamu tidak pro aku minta maaf ya. Ini aku dengan keyakinanku. Lagipula nalarnya sudah kujelaskan panjang lebar di atas.

Makin banyak belajar aku makin mengerti bahwa ibadah yang diada-adakan itu menambah dosa, bukan berpahala. Maka sekarang aku tidak lagi menyesali kenyataan bahwa di malah tujuh harian mbah kungku, aku malah ngelap piring bukan ikut ngaji. Artinya aku tidak melaksanakan ibadah yang diada-adakan itu.

Bukan karena ngaji di MTA lalu jadi tidak pro dengan adat selamatan. Bahkan sebelum kenal MTA aku sudah merasa adat ini (dan banyak adat tidak masuk akal lainnya) janggal. Makanya aku selalu bilang "kalau yang memerintah adat, bukan syariat, tidak perlu taat". Justru ngaji di MTA lah yang meyakinkanku bahwa pemikiranku benar. Iya, kalau yang memerintah adat, bukan syariat, tidak perlu taat.

Yas, aku ngajinya di MTA hlo. Kamu dimana? Sekali lagi, banyak-banyak belajar ya. Pokoknya belajar saja dulu kalau belum mau bergolongan. Nanti kalau sudah saatnya, akan nemu yang pas dihati cocok diotak, baru deh gabung. Aku dulu juga gitu kok. Tidak ada yang memaksaku ngaji di MTA. Karena aku anaknya suka penasarana aja akhirnya aku banyak mendengarkan kajian sana sini. Eh mantabnya sama MTA. Udah, gitu aja.

Kita tetap teman dimana pun kita ngaji. Beda itu tidak apa-apa. Yang jadi apa-apa kalau saling memaksa, bukannya sama-sama belajar. Betul?